MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Presiden Vladimir Putin memerintahkan militer Rusia untuk menyiapkan opsi pembalasan terhadap Ukraina. Putin mengambil langkah ini setelah serangan drone menghantam asrama mahasiswa di Starobilsk, wilayah Luhansk, pada Kamis malam.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai puluhan warga lainnya. Hingga kini, tim penyelamat masih mencari 15 orang yang belum ditemukan di bawah reruntuhan. Oleh karena itu, ketegangan di garis depan timur Ukraina meningkat drastis.
Klaim Rusia: Serangan pada Fasilitas Pendidikan
Putin mengecam serangan tersebut dalam siaran televisi pemerintah. Ia menuduh Kyiv secara sengaja menargetkan fasilitas pendidikan. Menurutnya, militer Ukraina pasti mengetahui sasaran mereka dengan tepat.
“Tidak ada fasilitas militer, intelijen, atau layanan terkait di sekitar asrama itu,” tegas Putin. Selanjutnya, ia menepis anggapan bahwa sistem pertahanan udara atau perang elektronik Rusia tidak sengaja mengenai bangunan tersebut. Presiden Rusia menegaskan bahwa drone Ukraina menghantam lokasi itu dalam tiga gelombang serangan terpisah.
Bantahan Ukraina: Target adalah Unit Komando Drone
Militer Ukraina membantah keras tuduhan tersebut. Mereka menegaskan bahwa pasukan Ukraina menyerang unit komando drone elit Rusia yang beroperasi di area tersebut. Selain itu, Kyiv bersikeras bahwa mereka selalu mematuhi hukum kemanusiaan internasional dalam setiap operasi tempur.
Presiden Volodymyr Zelenskyy sendiri belum memberikan komentar spesifik terkait insiden Starobilsk. Namun, ia sebelumnya menjanjikan pembalasan atas serangan rudal Rusia di sebuah apartemen di Kyiv yang menewaskan 24 orang pekan lalu. Dengan demikian, pertempuran di kedua sisi kini semakin sengit dan mematikan.
Dampak di Lapangan: Kesaksian Warga dan Kerusakan
Pihak Rusia merilis rekaman yang menunjukkan petugas penyelamat mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan. Selain itu, rekaman tersebut memperlihatkan kerusakan parah pada hostel milik Luhansk Pedagogical University. Api masih berkobar di beberapa bagian gedung saat proses evakuasi berlangsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lyubov Yakovlevna, seorang penduduk setempat, menceritakan kengerian saat serangan terjadi. “Gelombang kejut menghantam apartemen kami,” kenang Yakovlevna dengan gemetar. Ia menyaksikan api berkobar sepanjang malam dan terpaksa mencari perlindungan di blok apartemennya.
Eskalasi Diplomatik di PBB
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut serangan ini sebagai “kejahatan keji”. Ia menuntut pelaku penyerangan mendapatkan hukuman setimpal. Oleh sebab itu, Moskow menjadwalkan sesi darurat di Dewan Keamanan PBB di New York guna membahas insiden ini.
Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak organisasi internasional dan pemerintah dunia untuk mengecam serangan tersebut. Di sisi lain, Kyiv tetap mempertahankan posisinya. Ukraina berargumen bahwa Rusia harus menarik diri dari empat wilayah timur yang mereka klaim secara sepihak sejak 2022.
Menuju Titik Nadir Konflik
Serangan di Starobilsk mempertegas bahwa perang Rusia-Ukraina kini memasuki fase yang semakin brutal. Singkatnya, penggunaan drone untuk serangan jarak jauh telah mengubah sifat konflik menjadi lebih sulit diprediksi.
Dengan demikian, masyarakat internasional kini memantau dengan cemas apakah retorika pembalasan dari Putin akan memicu eskalasi rudal yang lebih luas. Di tahun 2026 yang penuh ketidakpastian ini, harapan untuk gencatan senjata permanen tampak semakin jauh dari jangkauan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












