Ilmuwan Ungkap Nagatitan, Dinosaurus Terbesar di Asia Tenggara

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Raksasa dari Chaiyaphum. Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi Nagatitan chaiyaphumensis, spesies sauropoda sepanjang 27 meter yang menjadikannya dinosaurus terbesar yang pernah ada di kawasan Asia Tenggara. Dok: Istimewa.

Raksasa dari Chaiyaphum. Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi Nagatitan chaiyaphumensis, spesies sauropoda sepanjang 27 meter yang menjadikannya dinosaurus terbesar yang pernah ada di kawasan Asia Tenggara. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Tim peneliti internasional berhasil mengidentifikasi spesies dinosaurus terbesar yang pernah mendiami kawasan Asia Tenggara. Makhluk raksasa pemakan tumbuhan tersebut memiliki panjang hampir 27 meter. Mereka hidup sekitar 113 juta tahun lalu di sepanjang sungai berliku di wilayah yang sekarang menjadi Thailand.

Para paleontolog menamai spesies baru ini Nagatitan chaiyaphumensis. Nagatitan merupakan anggota kelompok sauropoda, dinosaurus yang terkenal memiliki leher panjang, ekor panjang, kepala kecil, dan empat kaki kokoh menyerupai pilar.

Penemuan Fosil dan Estimasi Bobot Raksasa

Warga lokal di Provinsi Chaiyaphum, timur laut Thailand, menjadi pihak pertama yang menemukan fosil berharga ini. Selanjutnya, para ilmuwan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menggali tulang belakang, rusuk, pinggul, dan kaki dari situs tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu temuan paling mengesankan adalah tulang lengan depan (humerus) yang memiliki panjang mencapai 1,78 meter. Berdasarkan dimensi tulang lengan dan tulang paha belakangnya, tim peneliti memperkirakan bobot tubuh Nagatitan mencapai 25 hingga 28 ton. Meskipun tim belum menemukan bagian kepala dan gigi, mereka memiliki gambaran jelas mengenai kebiasaan makan raksasa ini berdasarkan pola sauropoda lainnya.

Baca Juga :  Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1

“Nagatitan kemungkinan merupakan pemakan tumbuhan massal yang mengonsumsi vegetasi bervolume tinggi tanpa perlu mengunyahnya,” ujar Thitiwoot Sethapanichsakul, kandidat doktor paleontologi di University of College London (UCL) sekaligus penulis utama riset ini. Tanaman seperti konifer dan pakis biji kemungkinan besar menjadi makanan utama raksasa tersebut.

Ekosistem Zaman Kapur dan Dominasi Tanpa Saingan

Pada masa hidup Nagatitan, wilayah tersebut memiliki iklim subtropis yang terdiri dari hutan, sabana, dan semak belukar. Nagatitan berbagi habitat dengan berbagai jenis dinosaurus lain, reptil terbang (pterosaurus), buaya purba, hingga hiu air tawar di sungai.

Predator terbesar di ekosistem tersebut adalah kerabat dekat dari dinosaurus karnivora raksasa Afrika, Carcharodontosaurus. Predator ini memiliki panjang sekitar 8 meter dengan berat 3,5 ton. Namun, ukuran tubuh karnivora tersebut masih sangat kecil jika kita bandingkan dengan Nagatitan.

“Dengan ukuran sebesar itu, Nagatitan dewasa hampir tidak memiliki alasan untuk takut pada pemangsa,” tambah Sethapanichsakul. Para pemangsa kemungkinan besar menghindari konfrontasi dengan Nagatitan dewasa karena takut terinjak hingga hancur. Oleh karena itu, para predator biasanya hanya mengincar bayi yang rentan atau dinosaurus tua yang sedang sakit.

Baca Juga :  Kemensos dan HAM Percepat Rehabilitasi Korban Unjuk Rasa, Santunan hingga Dukungan Psikososial

“Titan” Terakhir di Kawasan Asia Tenggara

Nama “Nagatitan” sendiri merujuk pada “Naga”, makhluk mitologis berbentuk ular dalam tradisi keagamaan Asia yang sering menghiasi berbagai kuil di Thailand. Hingga saat ini, para ilmuwan telah mengidentifikasi dan menamai 14 spesies dinosaurus dari wilayah Thailand.

Rekan penulis studi dari UCL, Paul Upchurch, menilai Nagatitan sebagai “titan” terakhir di kawasan ini. Sebab, wilayah Asia Tenggara perlahan berubah menjadi laut dangkal pada akhir Zaman Kapur, sehingga tidak ada lagi sauropoda yang mampu bertahan hidup di sana.

Selain itu, Nagatitan hidup pada periode saat kadar karbon dioksida di atmosfer Bumi sedang meningkat tajam, yang memicu kenaikan suhu global. “Sauropoda tampaknya berevolusi menjadi sangat besar pada masa hangat ini,” jelas Upchurch. Penemuan Nagatitan memberikan gambaran penting mengenai periode sebelum ukuran tubuh dinosaurus mencapai puncak maksimalnya sekitar 15 juta tahun kemudian.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Donald Trump Mengklaim Layak Memenangi Hadiah Nobel
Henri B Kagan dan Kenso Soai Memenangi Hadiah Nobel Kimia
Pengacara Mantan Atlet Olimpiade AS Mendesak Penyelidikan
Donald Trump Mempromosikan Investasi Anduril Senilai 3,7 Miliar
Polisi Inggris Menangkap Tersangka Ke-7 Terkait Rencana Teror
Pertahanan Udara Rusia Mengintersepsi 900 Drone Ukraina
Serangan Drone Menenggelamkan Kapal Dagang di Laut Hitam
Donald Trump Memicu Gelombang Kecaman

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:35 WIB

Donald Trump Mengklaim Layak Memenangi Hadiah Nobel

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:04 WIB

Henri B Kagan dan Kenso Soai Memenangi Hadiah Nobel Kimia

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:12 WIB

Pengacara Mantan Atlet Olimpiade AS Mendesak Penyelidikan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:52 WIB

Donald Trump Mempromosikan Investasi Anduril Senilai 3,7 Miliar

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:31 WIB

Polisi Inggris Menangkap Tersangka Ke-7 Terkait Rencana Teror

Berita Terbaru

Sennheiser merilis headphone Momentum 5 dengan kualitas suara superior, baterai lepas-pasang 57 jam, dan perkiraan harga Rp6,3 juta. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Sennheiser Merilis Headphone Nirkabel Momentum 5

Kamis, 8 Okt 2026 - 15:10 WIB