WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui hambatan besar. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengakui bahwa kedua negara masih mempertahankan posisi yang saling berlawanan. Meski sempat ada sinyal positif, negosiasi damai berjalan sangat lambat.
Rubio memberikan pernyataan kepada wartawan di Helsingborg, Swedia, setelah menghadiri pertemuan menteri luar negeri NATO. Ia menegaskan bahwa perdamaian antara Washington dan Teheran masih menjadi tantangan yang sangat berat.
Sticking Points: Isu Nuklir dan Kendali Selat
Penyelesaian konflik saat ini terhambat oleh dua isu utama. Pertama, Amerika Serikat mendesak Iran menghentikan program nuklirnya sejak awal negosiasi. Kedua, Washington menolak keras rencana Iran untuk menerapkan sistem pungutan biaya (tolling) bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Rubio menyebut rencana Iran untuk mengendalikan jalur air internasional tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima. “Kami sedang menghadapi sekelompok orang yang sangat sulit,” tegas Rubio. Oleh karena itu, ia memberi sinyal bahwa Presiden Trump memiliki opsi lain jika Iran tidak bersedia melakukan perubahan kebijakan.
Peran Mediator: Pakistan dan Qatar Turun Tangan
Di tengah ketegangan yang meningkat, para mediator internasional terus bekerja keras. Kepala militer Pakistan, Asim Munir, dilaporkan tiba di Teheran pada Jumat untuk mendorong dialog. Selain itu, tim negosiator dari Qatar juga mendarat di ibu kota Iran pada hari yang sama.
Kedua negara tersebut berusaha menjembatani kesenjangan posisi antara Washington dan Teheran. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa diplomasi membutuhkan waktu. Ia mengisyaratkan bahwa kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan final dalam waktu dekat.
Dampak pada Harga Minyak dan Ekonomi Global
Blokade di Selat Hormuz terus memberikan tekanan hebat terhadap pasar energi dunia. Meskipun pertempuran di darat mereda, penutupan jalur tersebut memicu ketidakpastian pasokan yang membuat harga minyak mentah tetap melambung tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, para investor di pasar global terus mewaspadai setiap perkembangan negosiasi. Ketidakpastian ini memicu volatilitas harga minyak yang sangat tidak stabil dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Maka dari itu, keberhasilan perundingan perdamaian menjadi sangat krusial guna menghentikan tekanan inflasi yang mengancam pertumbuhan ekonomi global di tahun 2026.
Tekanan Politik Domestik bagi Trump
Krisis yang berkepanjangan ini memperlemah posisi Presiden Donald Trump di dalam negeri. Jajak pendapat menunjukkan penurunan tingkat kepuasan publik terhadap cara pemerintah menangani kenaikan harga bahan bakar. Oleh karena itu, Trump menghadapi tekanan politik yang sangat besar menjelang pemilihan sela Kongres pada bulan November.
Singkatnya, Trump membutuhkan kemenangan diplomatik yang konkret untuk memulihkan kepercayaan pemilih. Tanpa kesepakatan yang jelas, perang ini akan terus menjadi beban politik bagi Partai Republik di tengah lesunya perekonomian Amerika Serikat.
Menanti Respons Teheran
Pemerintah Iran saat ini sedang mengkaji draf terbaru dari Washington. Dunia kini menunggu apakah Teheran akan memberikan konsesi nyata atau tetap mempertahankan pendirian mereka.
Dengan demikian, dalam beberapa hari ke depan akan menjadi fase penentuan bagi masa depan stabilitas kawasan Teluk. Jika kebuntuan ini terus berlanjut, eskalasi militer dapat meluas dan memicu dampak ekonomi yang jauh lebih buruk bagi seluruh dunia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












