AS dan Iran Masih Berselisih Soal Nuklir dan Selat Hormuz

Sabtu, 23 Mei 2026 - 08:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden AS Donald Trump mengancam akan segera menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Dok: Istimewa.

Presiden AS Donald Trump mengancam akan segera menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui hambatan besar. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengakui bahwa kedua negara masih mempertahankan posisi yang saling berlawanan. Meski sempat ada sinyal positif, negosiasi damai berjalan sangat lambat.

Rubio memberikan pernyataan kepada wartawan di Helsingborg, Swedia, setelah menghadiri pertemuan menteri luar negeri NATO. Ia menegaskan bahwa perdamaian antara Washington dan Teheran masih menjadi tantangan yang sangat berat.

Sticking Points: Isu Nuklir dan Kendali Selat

Penyelesaian konflik saat ini terhambat oleh dua isu utama. Pertama, Amerika Serikat mendesak Iran menghentikan program nuklirnya sejak awal negosiasi. Kedua, Washington menolak keras rencana Iran untuk menerapkan sistem pungutan biaya (tolling) bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rubio menyebut rencana Iran untuk mengendalikan jalur air internasional tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima. “Kami sedang menghadapi sekelompok orang yang sangat sulit,” tegas Rubio. Oleh karena itu, ia memberi sinyal bahwa Presiden Trump memiliki opsi lain jika Iran tidak bersedia melakukan perubahan kebijakan.

Baca Juga :  Valve Rilis Tanggal Peluncuran dan Harga Steam Machine

Peran Mediator: Pakistan dan Qatar Turun Tangan

Di tengah ketegangan yang meningkat, para mediator internasional terus bekerja keras. Kepala militer Pakistan, Asim Munir, dilaporkan tiba di Teheran pada Jumat untuk mendorong dialog. Selain itu, tim negosiator dari Qatar juga mendarat di ibu kota Iran pada hari yang sama.

Kedua negara tersebut berusaha menjembatani kesenjangan posisi antara Washington dan Teheran. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa diplomasi membutuhkan waktu. Ia mengisyaratkan bahwa kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan final dalam waktu dekat.

Dampak pada Harga Minyak dan Ekonomi Global

Blokade di Selat Hormuz terus memberikan tekanan hebat terhadap pasar energi dunia. Meskipun pertempuran di darat mereda, penutupan jalur tersebut memicu ketidakpastian pasokan yang membuat harga minyak mentah tetap melambung tinggi.

Akibatnya, para investor di pasar global terus mewaspadai setiap perkembangan negosiasi. Ketidakpastian ini memicu volatilitas harga minyak yang sangat tidak stabil dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Maka dari itu, keberhasilan perundingan perdamaian menjadi sangat krusial guna menghentikan tekanan inflasi yang mengancam pertumbuhan ekonomi global di tahun 2026.

Baca Juga :  Roti Gratis Tak Cukup, Anak-anak Gaza Tewas Kedingina

Tekanan Politik Domestik bagi Trump

Krisis yang berkepanjangan ini memperlemah posisi Presiden Donald Trump di dalam negeri. Jajak pendapat menunjukkan penurunan tingkat kepuasan publik terhadap cara pemerintah menangani kenaikan harga bahan bakar. Oleh karena itu, Trump menghadapi tekanan politik yang sangat besar menjelang pemilihan sela Kongres pada bulan November.

Singkatnya, Trump membutuhkan kemenangan diplomatik yang konkret untuk memulihkan kepercayaan pemilih. Tanpa kesepakatan yang jelas, perang ini akan terus menjadi beban politik bagi Partai Republik di tengah lesunya perekonomian Amerika Serikat.

Menanti Respons Teheran

Pemerintah Iran saat ini sedang mengkaji draf terbaru dari Washington. Dunia kini menunggu apakah Teheran akan memberikan konsesi nyata atau tetap mempertahankan pendirian mereka.

Dengan demikian, dalam beberapa hari ke depan akan menjadi fase penentuan bagi masa depan stabilitas kawasan Teluk. Jika kebuntuan ini terus berlanjut, eskalasi militer dapat meluas dan memicu dampak ekonomi yang jauh lebih buruk bagi seluruh dunia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Usulkan Ubah Nama Danau Ontario Jadi Lake America
Kebakaran Ruang Bersalin Rumah Sakit di Islamabad
Kapal Induk USS Abraham Lincoln Berlabuh di Thailand
Jepang Perluas Penggunaan Tanah Dekontaminasi Fukushima
AS Batalkan Latihan Militer Amfibi Ssangyong dengan Korsel
Selandia Baru Rancang Undang-Undang Larangan Media Sosial
Jepang Janjikan Dukungan untuk Presiden ICC Tomoko
Serangan Drone Rusia Hantam Pusat Perbelanjaan Ukraina

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Trump Usulkan Ubah Nama Danau Ontario Jadi Lake America

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Kapal Induk USS Abraham Lincoln Berlabuh di Thailand

Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Jepang Perluas Penggunaan Tanah Dekontaminasi Fukushima

Selasa, 25 Agustus 2026 - 13:42 WIB

AS Batalkan Latihan Militer Amfibi Ssangyong dengan Korsel

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Selandia Baru Rancang Undang-Undang Larangan Media Sosial

Berita Terbaru

Wacana Presiden Donald Trump mengubah nama Danau Ontario memicu reaksi keras dari publik dan pemerintah Kanada di tengah krisis perang tarif. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Usulkan Ubah Nama Danau Ontario Jadi Lake America

Kamis, 27 Agu 2026 - 09:00 WIB

Kisah Gilang Masuk Jaringan Narkoba, Berakhir Ditangkap Bareskrim. (Posnews/Bareskrim)

DAERAH

Dibujuk Keluarga, Gilang Terjerumus Jadi Kurir 43 Kg Sabu

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:26 WIB