NTT, POSNEWS.CO.ID — Duka akibat gempa bumi berkekuatan M7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), belum berakhir.
Memasuki hari ke-11 penanganan, BNPB mencatat korban meninggal dunia mencapai 103 orang.
Angka tersebut bertambah tiga orang dari data sebelumnya. BNPB menyampaikan pembaruan itu pada Selasa (25/8/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan tiga korban tambahan membuat total korban meninggal menjadi 103 orang.
“Ada ketambahan tiga jiwa meninggal menjadi 103 untuk hari ini,” kata Berton dalam konferensi pers virtual, Selasa (25/8/2026).
Kenaikan angka korban juga menunjukkan bahwa dampak gempa masih terasa setelah fase awal bencana berlalu.
Sebagian korban sebelumnya mengalami luka dan menjalani perawatan sebelum akhirnya meninggal dunia. Sehari sebelumnya, BNPB mencatat jumlah korban meninggal mencapai 100 orang.
Manggarai Paling Banyak Kehilangan Warga
Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 41 orang. Berikutnya, Manggarai Timur mencatat 34 korban meninggal.
Korban lainnya tersebar di sejumlah kabupaten yang terdampak gempa.
Berdasarkan komposisi demografi, 55 persen korban meninggal merupakan perempuan, sedangkan laki-laki mencapai 45 persen.
Kelompok lanjut usia menjadi kelompok yang paling banyak meninggal dengan proporsi 45 persen. Selanjutnya, kelompok dewasa mencapai 37 persen.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa kelompok rentan membutuhkan perhatian khusus dalam setiap penanganan bencana, mulai dari evakuasi hingga layanan kesehatan.
Korban Luka Capai 1.666 Orang
Tidak hanya korban meninggal, jumlah warga yang terluka juga meningkat.
BNPB mencatat 1.666 orang mengalami luka, bertambah 63 orang dibandingkan data sebelumnya.
Manggarai Timur menjadi daerah dengan jumlah korban luka yang menonjol. BNPB mencatat 239 orang mengalami luka berat dan 404 orang luka ringan di wilayah tersebut.
Karena itu, layanan kesehatan dan pendampingan korban tetap menjadi bagian penting dalam masa tanggap darurat.
Pemulihan Mulai Bergerak
Meski angka korban masih bertambah, proses pemulihan perlahan mulai berjalan.
BNPB melaporkan 84 kepala keluarga atau 237 penyintas yang sebelumnya tinggal di GOR Samador, Maumere, mulai kembali ke rumah pada 24 Agustus setelah hunian mereka dipastikan aman.
Sebelumnya, sebanyak 1.290 orang sempat mengungsi di lokasi tersebut.
Pemerintah juga terus memverifikasi tingkat kerusakan rumah untuk menentukan bentuk bantuan.
Rumah rusak ringan dan sedang mendapat dukungan perbaikan, sedangkan rumah rusak berat diarahkan pada pembangunan hunian tetap.
Bantuan Harus Menjangkau Semua Penyintas
Penanganan gempa tidak boleh berhenti ketika jumlah korban mulai stabil. Penyintas masih membutuhkan makanan, air bersih, layanan kesehatan, tempat tinggal, pendidikan, hingga dukungan psikososial.
BNPB sebelumnya mencatat bantuan logistik terus dikirim melalui jalur udara dan laut. Hingga 18 Agustus, sebanyak 398 ton bantuan telah disalurkan.
Bahkan, pemerintah terus menjangkau wilayah kepulauan dan daerah yang sulit diakses agar penyintas tidak tertinggal dalam proses pemulihan.
Tragedi yang Harus Menjadi Pelajaran
Gempa M7,7 Flores menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya mengandalkan respons setelah kejadian.
Kesiapsiagaan keluarga, kekuatan bangunan, jalur evakuasi, komunikasi darurat, serta kemampuan masyarakat memahami informasi kebencanaan harus terus diperkuat.
Di tengah duka yang belum usai, semangat untuk bangkit juga mulai terlihat. Sebagian penyintas sudah kembali ke rumah. Bantuan terus bergerak. Pemerintah dan relawan masih bekerja di lapangan.
103 nyawa telah menjadi kehilangan besar bagi NTT. Karena itu, angka tersebut harus menjadi pengingat bahwa keselamatan warga bukan sekadar urusan saat bencana datang, tetapi tanggung jawab yang harus dipersiapkan jauh sebelum gempa kembali mengguncang. **
Editor : Hadwan














