BMKG Ungkap Banyak Sensor Gempa Hilang, Peringatan Dini Bisa Terganggu

Jumat, 11 September 2026 - 09:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani. (Posnews/Ist)

Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menghadapi kendala serius dalam memantau aktivitas gempa.

Sejumlah sensor gempa yang dipasang di berbagai lokasi dilaporkan hilang.

Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani mengatakan hilangnya sensor tersebut dapat memengaruhi kualitas data yang diterima pusat pemantauan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ida menyampaikan hal itu dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk “Waspada Gunung Berapi, Bagaimana Langkah Mitigasinya?” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/9/2026).

“Kendala kedua yaitu banyak sensor, apalagi sensor yang ada di sensor gempa, itu banyak yang hilang,” kata Ida.

Satu Sensor Hilang Bisa Ganggu Jaringan

Menurut Ida, sensor gempa bukan sekadar alat pencatat getaran bumi. Perangkat tersebut menjadi bagian dari jaringan pemantauan yang membantu BMKG memperoleh data untuk menganalisis kejadian gempa.

Baca Juga :  Gudang di Bekasi Digerebek Bareskrim, 11 Ular Sanca Hijau Papua Dilindungi Disita

Karena itu, ketika satu bagian jaringan tidak berfungsi, kualitas data yang diterima dapat ikut menurun.

“Kalau satu jaringan hilang itu bisa memengaruhi kualitas data, sehingga nanti mungkin untuk sistem alert dan sebagainya dapat terganggu,” ujarnya.

Namun, Ida tidak menyebutkan jumlah pasti sensor gempa yang hilang. BMKG masih menghadapi persoalan tersebut di lapangan.

BMKG Minta Masyarakat Ikut Menjaga

Ida mengingatkan masyarakat agar tidak merusak, mengambil, atau menghilangkan peralatan pemantauan bencana yang berada di wilayah mereka.

Menurutnya, menjaga perangkat mitigasi sama pentingnya dengan mengikuti peringatan yang dikeluarkan pemerintah ketika bencana terjadi.

“Sensor itu sangat penting untuk menjaga keselamatan kita juga,” kata Ida.

Imbauan tersebut menjadi penting karena BMKG menggunakan jaringan pemantauan untuk menghasilkan informasi gempa secara cepat. Data BMKG juga terus diperbarui ketika terjadi aktivitas seismik di Indonesia.

Pada 10 September 2026, misalnya, BMKG masih mencatat sejumlah gempa yang dirasakan masyarakat di beberapa wilayah.

Baca Juga :  Cuaca Senin 13 April 2026: Jabodetabek Hujan, Sejumlah Kota Waspada Cuaca Ekstrem

Mitigasi Bencana Butuh Data yang Akurat

Di tengah tingginya risiko gempa dan aktivitas gunung api di Indonesia, kecepatan informasi menjadi salah satu kunci mitigasi.

Data dari sensor membantu petugas mengetahui karakteristik suatu gempa dan menentukan informasi yang perlu disampaikan kepada masyarakat.

Karena itu, gangguan pada jaringan pemantauan dapat menjadi persoalan serius.

BMKG sendiri menyediakan informasi gempa secara real-time dan memperbarui parameter apabila hasil analisis menunjukkan perubahan.

Karena itu, masyarakat tidak hanya perlu memahami cara menyelamatkan diri saat gempa. Menjaga peralatan mitigasi di lingkungan sekitar juga menjadi bagian dari upaya menyelamatkan nyawa.

BMKG pun mengingatkan agar seluruh pihak ikut menjaga fasilitas pemantauan bencana.

Sebab, satu perangkat yang hilang bukan sekadar kehilangan barang, tetapi dapat berdampak pada kualitas informasi yang dibutuhkan masyarakat saat menghadapi ancaman gempa. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KemenHAM Desak Penembakan 3 ASN Jayawijaya Diusut Tuntas
Anwar Abbas Minta Kasus Abah Setu Tetap Diproses Polisi
8 Orang Hilang di Anak Krakatau, SAR Belum Temukan Titik Terang
KPK Geledah Rumah Polisi Yayat Sudrajat, Usut Fee Rp16 Miliar
Korupsi Hutan Lampung, Kejagung Sita Rp1,003 Triliun dari PT PSMI
Prabowo Turun Tangan, 11 Kapal Dikerahkan Cari 5 Jurnalis di Selat Sunda
Teror di Kantor Komnas HAM Papua, Pigai Desak Polisi Ungkap Pelaku
BNN Minta Garuda Larang Vape, 1.716 Sampel Terdeteksi Narkotika

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 09:32 WIB

BMKG Ungkap Banyak Sensor Gempa Hilang, Peringatan Dini Bisa Terganggu

Jumat, 11 September 2026 - 09:21 WIB

KemenHAM Desak Penembakan 3 ASN Jayawijaya Diusut Tuntas

Jumat, 11 September 2026 - 09:11 WIB

Anwar Abbas Minta Kasus Abah Setu Tetap Diproses Polisi

Jumat, 11 September 2026 - 07:45 WIB

8 Orang Hilang di Anak Krakatau, SAR Belum Temukan Titik Terang

Jumat, 11 September 2026 - 07:31 WIB

KPK Geledah Rumah Polisi Yayat Sudrajat, Usut Fee Rp16 Miliar

Berita Terbaru

Tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya menjadi korban penembakan di Distrik Muliama. (Ist)

NASIONAL

KemenHAM Desak Penembakan 3 ASN Jayawijaya Diusut Tuntas

Jumat, 11 Sep 2026 - 09:21 WIB

Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas. (Posnews/MUI)

NASIONAL

Anwar Abbas Minta Kasus Abah Setu Tetap Diproses Polisi

Jumat, 11 Sep 2026 - 09:11 WIB

Gedung Merah Putih KPK Jakarta Selatan. (Posnews/KPK)

NASIONAL

KPK Geledah Rumah Polisi Yayat Sudrajat, Usut Fee Rp16 Miliar

Jumat, 11 Sep 2026 - 07:31 WIB