POSNEWS.CO.ID, DELHI – Ribuan orang berdemonstrasi di Delhi pada hari Minggu.
Mereka menuntut pengunduran diri Kepala Pemilihan Umum India.
Tuntutan ini berkaitan dengan kebijakan revisi daftar pemilih nasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemimpin oposisi Partai Kongres Rahul Gandhi memimpin aksi protes tersebut.
Para demonstran menyebut revisi itu menguntungkan Partai Bharatiya Janata.
Partai tersebut merupakan kelompok nasionalis Hindu pimpinan Narendra Modi.
Gelombang protes ini menciptakan krisis paling buruk bagi pemerintahan Modi.
Meskipun demikian, kabinet pemerintahan Modi masih bertahan dengan stabil.
Pemerintah baru akan menyelenggarakan pemilihan umum berikutnya pada tahun 2029.
Pengamanan Ketat Pasukan Antihuru-hara Di Lapangan Ramlila
Pihak berwenang memperketat keamanan sebelum pengunjuk rasa memulai pawai massal.
Ratusan personel keamanan membawa tongkat dan perisai mengamankan lokasi.
Kendaraan antihuru-hara juga mendampingi pasukan keamanan di lapangan Ramlila Maidan.
Sementara itu, pemimpin partai oposisi memimpin pawai menaiki jip tanpa atap.
Rahul Gandhi berorasi meminta Komisaris Pemilihan Umum Gyanesh Kumar mundur.
Gandhi menyebut pembersihan daftar pemilih sebagai bentuk pencurian suara rakyat.
Bahkan, ia menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap negara.
Revisi daftar pemilih menghapus lebih dari 130 juta nama warga.
Jumlah tersebut melebihi total keseluruhan populasi negara Jepang.
Respons Komisi Pemilihan Umum Dan Kesaksian Warga
Partai oposisi menuding penghapusan ini menyasar pemilih Muslim dan minoritas.
Komisi Pemilihan Umum membantah tuduhan keberpihakan terhadap partai mana pun.
Mereka bertujuan memperbarui daftar serta menghapus pemilih ganda dan fiktif.
Oleh karena itu, warga korban penghapusan dapat melakukan pendaftaran ulang segera.
Partai BJP menuduh oposisi berusaha merusak proses demokrasi yang sah.
Seorang mahasiswa bernama Reena Mahto turut menghadiri aksi protes tersebut.
Ia mendapati nama empat anggota keluarganya hilang dari daftar pemilih.
Seorang warga lain bernama Dinesh Singh juga bergabung demi masa depan anak-anaknya.
Tuduhan Konspirasi Pemerintah Dan Latar Belakang Demonstrasi
Namun demikian, Menteri Kesehatan Jagat Prakash Nadda menyebut protes ini drama.
Nadda menganggap demonstrasi tersebut sebagai konspirasi untuk memicu anarki nasional.
Kelompok oposisi dan mahasiswa telah menggelar protes rutin sejak bulan September.
Surat kabar Indian Express sebelumnya menerbitkan laporan mengenai kejanggalan revisi ini.
Dengan demikian, laporan tersebut memicu kemarahan publik atas prosedur pendaftaran pemilih.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













