Avatar & Alter Ego: Krisis Identitas di Era Metaverse

Sabtu, 1 November 2025 - 08:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Di Metaverse, kita bisa jadi siapa saja. Tapi saat kita punya banyak topeng, di mana wajah asli kita? Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Di Metaverse, kita bisa jadi siapa saja. Tapi saat kita punya banyak topeng, di mana wajah asli kita? Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Kita menggulir linimasa Instagram tanpa henti, melakukan pencarian tak terbatas di Google, dan terhubung dengan keluarga di Facebook. Semua layanan canggih yang mengubah peradaban ini kita nikmati tanpa membayar sepeser pun. Ini terasa seperti keajaiban era digital.

Namun, ada pepatah lama di Silicon Valley: Jika Anda tidak membayar untuk suatu produk, maka Andalah produknya. Layanan “gratis” ini adalah fasad dari salah satu model bisnis paling dominan dan menguntungkan di abad ke-21, yaitu Surveillance Capitalism atau Ekonomi Pengawasan.

Model Bisnis: Anda Adalah Produknya

Kita sering salah paham. Kita mengira Google adalah perusahaan mesin pencari, atau Facebook adalah perusahaan media sosial. Kenyataannya, mereka adalah perusahaan periklanan raksasa yang menyamar.

Produk utama yang mereka tawarkan kepada klien (pengiklan) bukanlah aplikasi atau layanan. Produk utamanya adalah data kita. Lebih spesifik lagi, prediksi akurat tentang perilaku kita di masa depan. Layanan “gratis” yang kita gunakan hanyalah umpan canggih untuk mengumpulkan bahan baku termahal di dunia: perhatian dan data pribadi kita.

Baca Juga :  Kapolri Sowan ke Ponpes Al-Hamidy Pamekasan, Tegaskan Ulama Mitra Utama Jaga NKRI

Jejak Digital yang Dijual

Setiap tindakan yang kita lakukan secara online meninggalkan jejak digital. Setiap like yang Anda berikan, setiap kata kunci yang Anda cari, lokasi yang Anda kunjungi (yang Maps rekam), bahkan berapa detik Anda menatap sebuah gambar, sistem melacak, mengumpulkan, dan menganalisis semuanya.

Algoritma machine learning kemudian mengolah data mentah ini untuk membangun profil psikologis yang sangat mendalam tentang siapa Anda, apa yang Anda takuti, apa yang Anda inginkan, dan apa kecenderungan politik Anda. Perusahaan kemudian menjual profil inilah kepada penawar tertinggi (pengiklan) dalam lelang real-time yang terjadi dalam sepersekian detik saat halaman web memuat.

Erosi Privasi dan Manipulasi

Implikasinya jauh lebih besar dari sekadar iklan sepatu yang terus mengikuti Anda di internet. Pertama, ini adalah erosi privasi yang sistematis. Sistem mengawasi kita secara konstan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, seringkali tanpa persetujuan yang kita pahami sepenuhnya.

Baca Juga :  Banjir Jakarta, Kali Ciliwung Meluap - 20 RT Terendam Hingga 1,2 Meter

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua, dan yang lebih berbahaya, adalah potensi manipulasi perilaku. Ketika sebuah perusahaan tahu persis apa yang membuat Anda marah atau senang, mereka tidak hanya bisa memengaruhi apa yang Anda beli. Mereka bisa memengaruhi cara Anda berpikir, opini Anda, dan pada akhirnya, keputusan Anda di dunia nyata, termasuk dalam ranah politik.

Kesimpulan

Layanan “gratis” di internet ternyata adalah umpan termahal yang pernah ada. Kita menukarnya dengan mata uang yang paling pribadi, yaitu privasi, perhatian, dan otonomi kita atas pikiran kita sendiri. Lain kali Anda menggunakan layanan gratis, ingatlah bahwa transaksi sedang terjadi. Anda mungkin tidak membayarnya dengan uang, tetapi Anda membayarnya dengan data diri Anda.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sakit Sepekan, Pria Obesitas di Jatinegara Dievakuasi ke Rumah Sakit
Tabrak Pedagang Buah hingga Terpental di Kalimalang, Sopir Pajero Diciduk Polisi
Simpan Senpi Ilegal dan Peluru Aktif di Kontrakan, Pria di Muba Diciduk Polisi
Demo Hardiknas, Pengendara Hindari Kawasan Monas dan DPR, Polisi Kerahkan 3.545 Personel
Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi 11 Penumpang Kapal Pancing Bocor di Marunda
Dendam Asmara Berujung Penusukan di Depok, Tiga Pelaku Dibekuk
Tebing Longsor di Bogor, Masjid Nurul Hikmah Ambruk Terseret Arus Kali Cikaret
Sempat Buron, Dua Pelaku Penikam Pemuda di Gowa Menyerahkan Diri ke Polisi

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 17:28 WIB

Sakit Sepekan, Pria Obesitas di Jatinegara Dievakuasi ke Rumah Sakit

Senin, 4 Mei 2026 - 17:07 WIB

Tabrak Pedagang Buah hingga Terpental di Kalimalang, Sopir Pajero Diciduk Polisi

Senin, 4 Mei 2026 - 16:53 WIB

Simpan Senpi Ilegal dan Peluru Aktif di Kontrakan, Pria di Muba Diciduk Polisi

Senin, 4 Mei 2026 - 09:48 WIB

Demo Hardiknas, Pengendara Hindari Kawasan Monas dan DPR, Polisi Kerahkan 3.545 Personel

Senin, 4 Mei 2026 - 08:45 WIB

Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi 11 Penumpang Kapal Pancing Bocor di Marunda

Berita Terbaru