TOKYO, POSNEWS.CO.ID β – Peta geopolitik Asia Timur Laut sedang mengalami pergeseran drastis. China, Rusia, dan Korea Utara kini membentuk sebuah “aliansi de facto” yang solid.
Temuan ini terungkap dalam laporan tahunan Institut Nasional Studi Pertahanan Jepang (NIDS), sebuah wadah pemikir di bawah Kementerian Pertahanan Jepang. Laporan yang rilis pada Rabu (20/11/2025) tersebut membunyikan alarm bahaya bagi keamanan regional.
Akibatnya, persaingan antara blok ini dengan kerangka keamanan pimpinan Amerika Serikat (AS) kian memanas. Jepang dan Korea Selatan, sebagai sekutu utama AS, berada di garis depan ketegangan ini.
Sinyal Kuat dari Parade Militer
Indikasi aliansi ini terlihat sangat nyata pada 3 September lalu di Beijing. Saat itu, Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tampil bersama di panggung utama.
Mereka menghadiri parade militer masif untuk memperingati 80 tahun kemenangan Perang Dunia II. Momen tersebut mengirimkan pesan simbolis yang kuat kepada dunia Barat.
Masayuki Masuda, penulis utama laporan NIDS, memberikan analisis tajam. “China mengirim sinyal ke belahan dunia lain lewat latihan gabungan dan patroli bersama Rusia,” ujarnya.
Menurutnya, Beijing tidak hanya menggertak. Mereka sekaligus sedang menguji kemampuan operasional militernya sendiri secara real-time.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peran Pasukan Korut dan Senjata Nuklir
Laporan tersebut juga menyoroti manuver militer yang agresif. China terus memperkuat hubungan militer dengan Rusia. Di sisi lain, Beijing membiarkan Korea Utara mengirim pasukan untuk membantu perang Rusia di Ukraina.
Taktik Rusia pun kian meresahkan. Faktanya, Moskow menggunakan strategi “penebar ketakutan” untuk membuat negara-negara Barat gentar. Contohnya, mereka menempatkan senjata nuklir taktis di Belarus dan melibatkan tentara Korut di medan perang Eropa.
Imbasnya, kemesraan Moskow-Pyongyang membawa dampak buruk bagi stabilitas nuklir. Laporan itu memperingatkan bahwa kerja sama ini justru memperkuat program nuklir dan rudal Korea Utara.
“Kemitraan ini mempersulit upaya China untuk mendorong denuklirisasi Korea Utara,” tulis laporan tersebut.
Ketegangan Jepang-China Memuncak
Laporan ini muncul di tengah situasi diplomatik yang rapuh. Pasalnya, hubungan Jepang dan China memanas pasca komentar Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.
PM Takaichi yang dikenal pro-Taiwan sebelumnya menyinggung soal “kontingensi”. Ia menyebut potensi keterlibatan Tokyo jika terjadi konflik antara Beijing yang dipimpin Komunis dan pulau demokratis tersebut.
Tentu saja, pernyataan itu memicu kemarahan Beijing. China memandang isu Taiwan dan Laut China Selatan sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional mereka.
Pada akhirnya, laporan NIDS menyimpulkan satu hal pasti. Kerja sama pertahanan trilateral China-Rusia-Korut meningkatkan ketidakpastian keamanan di Indo-Pasifik secara drastis. Jepang kini harus bersiap menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Kyodo





















