Gelembung AI : Investasi Triliunan Dolar yang Belum Balik Modal

Rabu, 26 November 2025 - 05:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saham teknologi meroket gila-gilaan, tapi untungnya mana? Waspada ledakan

Saham teknologi meroket gila-gilaan, tapi untungnya mana? Waspada ledakan "Gelembung AI" yang bisa meruntuhkan pasar saham global. Dok:

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pasar saham global sedang berpesta pora dalam setahun terakhir. Grafik harga saham raksasa teknologi seperti Nvidia, Microsoft, dan Google melesat vertikal menuju langit.

Investor berlomba-lomba menanamkan uang mereka karena satu alasan magis: Kecerdasan Buatan (AI). Seketika, valuasi perusahaan-perusahaan ini membengkak hingga triliunan dolar. Optimisme pasar sedang berada di titik didih tertinggi.

Namun, di balik pesta meriah tersebut, para analis mulai membunyikan alarm bahaya. Mereka mencium aroma “hangus” yang familiar. Tampaknya, kita sedang meniup sebuah gelembung raksasa bernama AI Bubble yang siap meletus kapan saja.

Biaya Jumbo, Untung Mikro

Masalah utama terletak pada matematika dasar yang tidak nyambung. Faktanya, perusahaan teknologi menggelontorkan belanja modal (Capex) yang gila-gilaan.

Mereka menghabiskan ratusan miliar dolar untuk memborong chip canggih dan membangun pusat data. Sebaliknya, pendapatan riil yang mereka hasilkan dari produk AI generatif masih sangat minim.

Baca Juga :  Cuaca Jabodetabek 3 Maret 2026, BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang

Padahal, investasi infrastruktur ini membutuhkan biaya perawatan yang juga fantastis. Akibatnya, terjadi kesenjangan menganga antara uang yang keluar dan uang yang masuk. Sampai saat ini, AI lebih banyak membakar uang daripada mencetaknya.

Bayang-Bayang Dotcom Bubble 2000

Situasi ini memicu deja vu yang mengerikan bagi investor kawakan. Pasalnya, pola ini sangat mirip dengan tragedi Dotcom Bubble pada tahun 2000 silam.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kala itu, saham perusahaan apa pun yang memiliki akhiran “.com” akan melonjak drastis, terlepas dari apakah perusahaan itu untung atau buntung. Investor membeli mimpi tentang masa depan internet tanpa melihat fundamental bisnis.

Akhirnya, gelembung itu pecah. Pasar saham hancur lebur dan triliunan dolar kekayaan menguap dalam sekejap. Kini, narasi serupa terjadi pada AI. Kita mungkin sedang berjalan menuju koreksi pasar yang menyakitkan.

Adopsi Karena FOMO, Bukan Kebutuhan

Realitas di lapangan pun mendukung kekhawatiran ini. Banyak perusahaan non-teknologi mengadopsi AI bukan karena kebutuhan efisiensi yang terukur. Justru, mereka membelinya karena Fear Of Missing Out (FOMO).

Baca Juga :  Hakim AS Pertanyakan Larangan Penggunaan Dana Venezuela untuk Pengacara Maduro

Para CEO takut dianggap ketinggalan zaman jika tidak menyebut kata “AI” dalam laporan tahunan mereka. Lantas, mereka memaksakan penggunaan teknologi mahal ini.

Sayangnya, produktivitas karyawan tidak serta-merta meningkat. AI sering kali berakhir menjadi “mainan mahal” yang tidak memberikan dampak signifikan pada neraca keuangan perusahaan.

Menunggu Seleksi Alam

Pada akhirnya, hukum ekonomi akan mengambil alih. Investor tidak bisa terus-menerus memakan janji manis tentang masa depan. Mereka akan menuntut keuntungan nyata dalam bentuk dividen.

Seleksi alam akan segera dimulai. Nantinya, pasar akan memisahkan siapa pemain AI yang benar-benar profitable dan siapa yang hanya menjual mimpi kosong. Maka, bersiaplah menghadapi guncangan saat realitas mulai menagih utangnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rezim Kebenaran di Era Post-Truth: Fakta Saja Tidak Cukup
Apakah Kecerdasan Buatan Bisa Memiliki Tanggung Jawab Moral?
Mengapa Kita Merasa Lelah dan Depresi di Era Kebebasan?
Antroposen dan Kematian Alam: Menggugat Posisi Manusia
Kasus Iklan Bank BJB, Penyidikan KPK Dalami Dokumen Keuangan dan Sorot Ridwan Kamil
Kloter Pertama Jemaah Haji Indonesia Berangkat 22 April, Persiapan 100 Persen Rampung
Bandar Narkoba Kakap “The Doctor” Dicokok di Malaysia, Buang HP demi Hapus Jejak
Kadiv Humas Polri Pastikan Seleksi Akpol Bersih, Transparan, dan Tanpa Jalur Khusus

Berita Terkait

Selasa, 7 April 2026 - 22:00 WIB

Rezim Kebenaran di Era Post-Truth: Fakta Saja Tidak Cukup

Selasa, 7 April 2026 - 21:38 WIB

Apakah Kecerdasan Buatan Bisa Memiliki Tanggung Jawab Moral?

Selasa, 7 April 2026 - 21:00 WIB

Mengapa Kita Merasa Lelah dan Depresi di Era Kebebasan?

Selasa, 7 April 2026 - 20:30 WIB

Antroposen dan Kematian Alam: Menggugat Posisi Manusia

Selasa, 7 April 2026 - 20:25 WIB

Kasus Iklan Bank BJB, Penyidikan KPK Dalami Dokumen Keuangan dan Sorot Ridwan Kamil

Berita Terbaru

Ilustrasi, Runtuhnya kedaulatan fakta. Di era post-truth tahun 2026, kebenaran bukan lagi soal apa yang nyata, melainkan soal cerita mana yang paling memuaskan emosi dan memperkuat identitas kelompok kita. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Rezim Kebenaran di Era Post-Truth: Fakta Saja Tidak Cukup

Selasa, 7 Apr 2026 - 22:00 WIB

Ilustrasi, Hakim di balik baris kode. Saat algoritma mulai mengambil keputusan hidup dan mati, dunia filsafat tahun 2026 berpacu mendefinisikan siapa yang memegang tanggung jawab moral: pencipta, pengguna, atau mesin itu sendiri? Dok; Istimewa.

INTERNASIONAL

Apakah Kecerdasan Buatan Bisa Memiliki Tanggung Jawab Moral?

Selasa, 7 Apr 2026 - 21:38 WIB

Penjara tanpa dinding. Filsuf Byung-Chul Han mengungkap bagaimana ambisi untuk selalu produktif telah mengubah manusia modern menjadi tuan sekaligus budak bagi dirinya sendiri, memicu pandemi kelelahan mental di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Kita Merasa Lelah dan Depresi di Era Kebebasan?

Selasa, 7 Apr 2026 - 21:00 WIB

Ilustrasi, Bumi bukan milik kita sendiri. Di tengah krisis iklim yang kian ekstrem, perspektif Post-Humanisme mengajak kita menanggalkan kesombongan sebagai

INTERNASIONAL

Antroposen dan Kematian Alam: Menggugat Posisi Manusia

Selasa, 7 Apr 2026 - 20:30 WIB