YOGYAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Warga Yogyakarta dan pengguna media sosial mendadak heboh baru-baru ini. Sebuah unggahan di platform TikTok menampilkan pemandangan yang mengejutkan. Ikon kota, Tugu Pal Putih atau Tugu Jogja, terlihat seolah-olah ambruk rata dengan tanah.
Video tersebut menyebar dengan cepat alias viral. Bahkan, narasi dalam video itu seakan meyakinkan penonton bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi.
Pembuat konten menyertakan takarir (caption) berbahasa Jawa yang berbunyi “salahe takon kok ragenah” (salahnya bertanya kok tidak jelas). Ia juga menyematkan tagar provokatif seperti #tugujogjaambruk. Seketika, kepanikan dan kebingungan melanda sebagian warganet yang belum mengetahui kebenarannya.
Fakta: Manipulasi Demi Viralitas
Penelusuran fakta membuktikan sebaliknya. Foto dan video tersebut hanyalah hasil rekayasa atau manipulasi digital semata. Tujuannya jelas, sang kreator hanya ingin mengejar viralitas instan.
Tidak ada laporan resmi atau peristiwa nyata mengenai kerusakan Tugu Yogyakarta saat ini. Faktanya, tugu ikonik tersebut masih berdiri kokoh di persimpangan jalan Jenderal Sudirman dan Margo Utomo.
Memang, sejarah mencatat Tugu Golong Gilig (bentuk awal tugu) pernah runtuh akibat gempa dahsyat pada 1867. Namun, pemerintah kolonial Belanda telah membangunnya kembali dengan bentuk yang berbeda seperti yang kita lihat sekarang.
Melukai Kesakralan Sumbu Filosofi
Meskipun terbukti palsu, konten ini memicu reaksi keras. Mayoritas warganet, terutama warga Yogyakarta, mengecam tindakan tersebut. Mereka menilai konten ini tidak etis dan melukai nilai budaya setempat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasalnya, Tugu Jogja bukan sekadar bangunan beton biasa. Tugu ini merupakan bagian integral dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang sarat makna spiritual. Dunia internasional bahkan telah mengakui nilai sejarah dan kesakralan situs ini.
Kolom komentar unggahan tersebut banjir kritik pedas. Salah satunya datang dari akun beridentitas “SRI SULTAN HB X FAMILY”. Akun tersebut memberikan teguran keras terkait etika pembuatan konten.
“Lain kali kalau mau buat konten dipikir dulu ya. Ini Tugu Jogja loh, ikonnya Yogyakarta, sumbu filosofi juga yang mana sudah diakui sangat bersejarah dan sakral,” tulis komentar tersebut.
Peringatan bagi Kreator Konten
Warganet lain pun menyuarakan hal serupa. Mereka menekankan bahwa simbol sakral dan bersejarah tidak pantas menjadi bahan candaan atau hoaks.
Insiden ini menjadi pengingat penting bagi para pembuat konten. Seharusnya, mereka lebih bijak dan bertanggung jawab. Mencari views atau likes dengan mengorbankan akurasi dan menyinggung sensitivitas lokal adalah tindakan ceroboh.
Pada akhirnya, kreativitas digital tetap memiliki batasan etika. Jangan sampai keinginan untuk terkenal justru memicu keresahan publik dan mencederai kehormatan simbol budaya bangsa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: @merapi_uncover



















