Diplomasi yang Retak: Marco Rubio Bantah Klaim Zelenskyy Soal Syarat Penyerahan Donbas

Sabtu, 28 Maret 2026 - 16:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Visi diplomatik di tengah krisis. Sekretaris Negara AS Marco Rubio menegaskan bahwa kesepakatan damai antara Israel dan Lebanon sangat mungkin tercapai, namun keberadaan kelompok militan Hezbollah tetap menjadi ganjalan utama bagi stabilitas kawasan. Dok: Istimewa.

Visi diplomatik di tengah krisis. Sekretaris Negara AS Marco Rubio menegaskan bahwa kesepakatan damai antara Israel dan Lebanon sangat mungkin tercapai, namun keberadaan kelompok militan Hezbollah tetap menjadi ganjalan utama bagi stabilitas kawasan. Dok: Istimewa.

PRANCIS, POSNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, meluncurkan kritik tajam terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada hari Jumat. Rubio membantah keras tuduhan bahwa Washington mendesak Kyiv untuk menyerahkan wilayah Donbas demi mendapatkan jaminan keamanan.

Dalam konteks ini, pernyataan Rubio muncul di sela-sela pertemuan Group of Seven (G7) di Prancis. Ia merespon wawancara Zelenskyy sebelumnya yang mengeklaim bahwa jaminan keamanan AS bersifat bersyarat pada pelepasan kontrol atas wilayah timur Ukraina.

Rubio: “Itu Adalah Kebohongan”

Rubio secara eksplisit menyebut klaim Zelenskyy sebagai informasi yang tidak benar. “Itu bohong. Sangat disayangkan ia mengatakan hal tersebut karena ia tahu itu tidak benar,” ujar Rubio kepada wartawan. Oleh karena itu, Amerika Serikat berupaya meluruskan bahwa posisi Washington tetap sebagai mediator yang netral.

Menurut Rubio, Amerika Serikat hanya meneruskan tuntutan resmi dari pihak Rusia kepada Ukraina. Dalam hal ini, Rusia memang bersikeras meminta seluruh wilayah Donbas sebagai pangkalan strategis masa depan. Namun, Rubio menegaskan bahwa AS tidak mengadvokasi atau memaksa Ukraina untuk menerima syarat tersebut.

Baca Juga :  ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal

Dilema Jalur Tengah dan Kedaulatan Ukraina

Washington memandang peran mereka saat ini adalah menjembatani kepentingan kedua belah pihak yang bertikai. Rubio menyatakan bahwa keputusan mengenai wilayah sepenuhnya berada di tangan rakyat Ukraina. “Kami tidak pernah mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus menerimanya atau meninggalkannya,” tegas Rubio.

Meskipun demikian, perbedaan persepsi ini menunjukkan adanya keretakan komunikasi antara Gedung Putih dan kantor kepresidenan Ukraina. Pihak Kyiv hingga saat ini menolak memberikan komentar tambahan mengenai diskrepansi informasi tersebut. Akibatnya, spekulasi mengenai masa depan dukungan AS terhadap integritas wilayah Ukraina semakin memanas di forum internasional.

Krisis Patriot dan Prioritas “America First”

Ketegangan diplomatik ini diperparah oleh isu logistik persenjataan. Laporan media menyebutkan bahwa Amerika Serikat mulai memindahkan rudal pertahanan udara Patriot dari Eropa menuju Timur Tengah. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat posisi AS dalam perang melawan Iran.

Zelenskyy memperingatkan bahwa Ukraina “pasti” akan menghadapi kelangkaan sistem pertahanan udara akibat pergeseran fokus Washington. Menanggapi hal tersebut, Rubio menegaskan prinsip “America First” dalam kebijakan pertahanan. “Jika kami membutuhkan sesuatu untuk Amerika, kami akan menyimpannya untuk Amerika terlebih dahulu,” ujar Rubio. Meskipun demikian, ia mengeklaim bahwa secara resmi belum ada pembatalan penjualan senjata yang ditujukan untuk Ukraina hingga saat ini.

Kesimpulan: Menanti Kepastian di Meja Perundingan

Masa depan perang Ukraina kini terjepit di antara tuntutan kaku Moskow dan pergeseran prioritas militer Washington. Pada akhirnya, keberhasilan gencatan senjata akan bergantung pada kemampuan diplomat untuk menemukan titik temu yang tidak mengorbankan kedaulatan Kyiv.

Dengan demikian, dunia kini memantau apakah Amerika Serikat mampu menyeimbangkan peran mereka sebagai polisi dunia di Timur Tengah sembari tetap menjaga komitmen keamanan di Eropa Timur. Krisis informasi antara Rubio dan Zelenskyy ini menjadi sinyal bahwa diplomasi di tahun 2026 berada dalam fase yang sangat rapuh.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

China Dukung Penuh Pakistan Mediasi Kebuntuan AS-Iran
China Desak AS Hentikan Penjualan Senjata ke Taiwan
Kepala Microsoft Israel Mundur Usai Azure Digunakan Militer
ITW Soroti Kenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Jadi Komjen, Prestasi Dipertanyakan
Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC
Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI
Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar
Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 16:02 WIB

China Dukung Penuh Pakistan Mediasi Kebuntuan AS-Iran

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:57 WIB

China Desak AS Hentikan Penjualan Senjata ke Taiwan

Kamis, 14 Mei 2026 - 13:54 WIB

Kepala Microsoft Israel Mundur Usai Azure Digunakan Militer

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:22 WIB

ITW Soroti Kenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Jadi Komjen, Prestasi Dipertanyakan

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:49 WIB

Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC

Berita Terbaru

Sinergi diplomatik di Asia. Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Pakistan untuk meningkatkan upaya mediasi guna membuka kembali Selat Hormuz, mempertegas aliansi strategis kedua negara di tengah peringatan 75 tahun hubungan bilateral. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

China Dukung Penuh Pakistan Mediasi Kebuntuan AS-Iran

Kamis, 14 Mei 2026 - 16:02 WIB

Diplomasi lintas selat. Pemerintah China memaparkan manfaat budaya dan ekonomi dari penyatuan kembali secara damai, sembari memperingatkan Amerika Serikat untuk menghentikan dukungan militer bagi pasukan separatis di Taiwan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

China Desak AS Hentikan Penjualan Senjata ke Taiwan

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:57 WIB

Etika teknologi di garis depan. Pimpinan Microsoft Israel resmi mengundurkan diri setelah penyelidikan internal membongkar penggunaan platform Azure oleh militer untuk penyadapan massal warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kepala Microsoft Israel Mundur Usai Azure Digunakan Militer

Kamis, 14 Mei 2026 - 13:54 WIB

Konfrontasi hukum internasional. Senator Ronald

INTERNASIONAL

Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:49 WIB