JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Perang Dunia I berakhir pada tahun 1918 dengan meninggalkan jutaan mayat di medan tempur Eropa. Namun, musuh yang jauh lebih mematikan sedang mengintai dalam diam. Musuh itu tidak membawa senapan, melainkan virus mikroskopis.
Pandemi ini kita kenal sebagai Flu Spanyol. Faktanya, wabah ini membunuh lebih banyak orang daripada peluru dan bom selama perang itu sendiri. Estimasi sejarawan menyebut angka kematian mencapai 50 hingga 100 juta jiwa di seluruh dunia.
Dunia seolah lupa pada tragedi ini. Padahal, pandemi inilah yang sebenarnya membentuk wajah sistem kesehatan modern yang kita nikmati hari ini.
Korban Sensor Perang
Mengapa dunia menyebutnya “Flu Spanyol”? Ternyata, nama ini adalah sebuah kesalahpahaman sejarah yang fatal. Virus ini bukan berasal dari Spanyol.
Saat itu, negara-negara yang terlibat perang seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman memberlakukan sensor media yang ketat. Mereka melarang berita buruk yang bisa menjatuhkan moral pasukan. Oleh karena itu, koran-koran mereka bungkam soal wabah flu yang sedang menyerang tentara.
Sebaliknya, Spanyol adalah negara netral yang tidak ikut berperang. Pers Spanyol bebas memberitakan penyakit misterius yang bahkan menjangkiti Raja mereka. Akibatnya, dunia mengira wabah itu hanya terjadi di Spanyol. Spanyol pun menanggung stigma nama penyakit itu sendirian.
Pembunuh Orang Muda yang Sehat
Penyebaran virus ini sangat unik dan mengerikan. Kapal-kapal tentara yang sesak menjadi inkubator sempurna. Lantas, pasukan yang pulang ke negara masing-masing membawa serta “oleh-oleh” maut ini ke setiap sudut bumi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anehnya, virus ini tidak mematuhi pola flu biasa. Flu musiman umumnya menyerang lansia atau anak kecil. Namun, Flu Spanyol justru membunuh kelompok usia muda yang sehat dan kuat (usia 20-40 tahun).
Sistem kekebalan tubuh mereka bereaksi terlalu agresif terhadap virus. Kondisi ini memicu badai sitokin yang justru merusak paru-paru mereka sendiri. Orang-orang muda itu tewas tenggelam oleh cairan di dalam paru-paru mereka sendiri.
Lahirnya Kesehatan Masyarakat Modern
Tragedi ini akhirnya memaksa pemerintah dunia untuk berbenah. Sebelumnya, kesehatan dianggap urusan pribadi masing-masing individu. Negara jarang campur tangan.
Pandemi 1918 mengubah pola pikir tersebut secara drastis. Seketika, para pemimpin sadar bahwa penyakit menular adalah ancaman keamanan nasional. Maka, mereka mulai membangun departemen kesehatan masyarakat yang terpusat.
Sistem pengumpulan data epidemiologi mulai mereka terapkan. Selain itu, konsep kedokteran sosial mulai berkembang. Negara-negara mulai merancang sistem jaminan kesehatan universal agar rakyat miskin bisa berobat.
Refleksi: 1918 vs COVID-19
Pada akhirnya, sejarah sering kali berulang. Saat COVID-19 melanda seabad kemudian, kita melihat pola yang sangat mirip. Masker, karantina wilayah, dan perdebatan tentang penutupan sekolah kembali terjadi.
Akan tetapi, ada satu perbedaan besar. Ilmu pengetahuan kita kini jauh lebih maju. Pada 1918, dokter bahkan belum tahu bahwa penyebabnya adalah virus, bukan bakteri. Mereka bekerja dalam gelap.
Kita berutang banyak pada generasi 1918. Penderitaan mereka telah meletakkan dasar bagi respons pandemi global saat ini. Ingatlah, melupakan sejarah sama saja dengan bersiap untuk mengulanginya kembali di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















