JAKARTA,POSNEWS.CO.ID – Istilah “Bintang Film” atau Movie Star pernah memiliki makna yang sangat sakral. Nama-nama seperti Tom Cruise, Julia Roberts, atau Leonardo DiCaprio mampu menarik jutaan penonton ke bioskop hanya dengan wajah mereka di poster.
Mereka adalah dewa-dewi modern yang hidup di atas awan Olympus bernama Hollywood. Namun, era keemasan itu kini tampak semakin pudar.
Konsep bintang film tradisional sedang sekarat. Faktanya, anak-anak muda zaman sekarang mungkin tidak mengenali wajah pemenang Oscar tahun ini. Sebaliknya, mereka akan berteriak histeris saat melihat seorang YouTuber atau bintang TikTok lewat di jalan.
Gen Z dan Pergeseran Definisi Terkenal
Realitas ketenaran telah bergeser secara fundamental. Bagi Generasi Z, selebritas bukanlah orang yang aktingnya memukau di layar lebar selama dua jam.
Bagi mereka, selebritas adalah orang yang menemani mereka setiap hari di layar ponsel 6 inci. Akibatnya, sosok seperti MrBeast atau Charli D’Amelio memiliki tingkat pengenalan (name recognition) yang jauh lebih tinggi daripada aktor watak sekalipun.
Survei terbaru menunjukkan tren yang mengejutkan. Remaja lebih mempercayai rekomendasi produk dari influencer favorit mereka daripada dari aktor film papan atas. Lantas, kekuatan pengaruh bintang film pun tergerus oleh para kreator konten.
Matinya Aura Mistik
Mengapa hal ini bisa terjadi? Perbedaan utamanya terletak pada strategi “Mistik vs Aksesibilitas”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bintang film zaman dulu menjaga privasi mereka dengan sangat ketat. Kita jarang melihat mereka kecuali di film atau wawancara majalah eksklusif. Oleh karena itu, mereka memiliki aura misterius yang membuat penasaran. Mereka tampak tak tersentuh.
Sebaliknya, influencer menjual aksesibilitas total. Mereka merekam kegiatan sarapan, curhat saat sedih, hingga menunjukkan kamar tidur mereka.
Audiens merasa dekat dan memiliki hubungan emosional (parasocial relationship) dengan mereka. Maka, di era ini, “bisa dijangkau” alias relatable adalah mata uang yang jauh lebih berharga daripada “misterius”.
Jumlah Followers di Atas Bakat?
Pergeseran ini berdampak langsung pada ekonomi industri perfilman. Studio film kini menghadapi dilema besar saat melakukan casting.
Produser sering kali lebih memilih aktor dengan jumlah pengikut Instagram jutaan, meskipun kemampuan aktingnya biasa saja. Pasalnya, studio menganggap followers tersebut sebagai tiket bioskop gratis yang sudah terjamin.
Akibatnya, aktor-aktor berbakat yang tidak aktif di media sosial sering kali tersingkir. Bakat murni menjadi nomor dua setelah viralitas digital. Fenomena ini menciptakan gelombang film yang penuh dengan wajah populer, namun miskin kualitas peran.
Selebritas yang Terfragmentasi
Pada akhirnya, kita sedang menyaksikan redefinisi total tentang apa artinya menjadi terkenal. Bintang film tidak akan punah sepenuhnya, tetapi monopoli mereka atas perhatian publik sudah berakhir.
Ketenaran kini terfragmentasi ke dalam ribuan niche kecil di internet. Seseorang bisa menjadi superstar bagi jutaan pengikutnya di TikTok, namun sama sekali tidak dikenal oleh orang di sebelahnya.
Ingatlah, zaman telah berubah. Layar perak bioskop tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran kesuksesan. Kini, panggung terbesar dunia ada di dalam genggaman tangan kita masing-masing.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















