JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Tembok Berlin runtuh pada tahun 1989. Dunia bersorak merayakan berakhirnya Perang Dingin. Francis Fukuyama dengan optimis menyatakan “Akhir Sejarah”, di mana demokrasi liberal menang mutlak.
Namun, seorang ilmuwan politik bernama Samuel P. Huntington memiliki pandangan yang jauh lebih gelap. Pada tahun 1993, ia melontarkan tesis yang mengguncang dunia akademis.
Huntington berargumen bahwa konflik masa depan tidak akan lagi berpusat pada ideologi atau ekonomi. Sebaliknya, sumber konflik utama adalah budaya. Manusia akan berperang karena perbedaan identitas, suku, dan agama. Ia menyebutnya sebagai “The Clash of Civilizations” atau Benturan Peradaban.
Garis Patahan Dunia Baru
Huntington membagi dunia ke dalam beberapa blok peradaban besar. Ada peradaban Barat, Islam, Konfusianisme (China), Slavia-Ortodoks (Rusia), Hindu, dan lain-lain.
Menurutnya, perdamaian mungkin terjadi di dalam blok yang sama. Akan tetapi, bahaya mengintai di perbatasan atau “garis patahan” (fault lines) antar-peradaban.
Ia memprediksi ketegangan akan memuncak antara “Barat” dan “Non-Barat” (The West vs The Rest). Secara spesifik, ia menunjuk potensi aliansi antara peradaban Islam dan Konfusianisme yang akan menantang hegemoni militer Barat.
Terbukti atau Kebetulan?
Banyak orang awalnya mencemooh teori ini. Tiba-tiba, serangan 11 September 2001 terjadi. Perang Melawan Teror meletus. Seketika, ramalan Huntington tampak menjadi kenyataan mengerikan di depan mata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dunia seolah terbelah menjadi narasi “Barat vs Islam Radikal”. Selanjutnya, kebangkitan ekonomi dan militer China hari ini juga memperkuat tesisnya.
Ketegangan di Laut China Selatan bukan sekadar sengketa wilayah. Bagi banyak pengamat, itu adalah benturan nilai antara peradaban liberal Barat dan peradaban otoriter Timur.
Bahkan, invasi Rusia ke Ukraina pun bisa kita baca lewat kacamata ini. Vladimir Putin sering menggunakan retorika “Dunia Rusia” (Russkiy Mir) dan nilai Ortodoks konservatif untuk melawan apa yang ia sebut sebagai “Barat yang dekaden”.
Kritik Keras: Rasis dan “Self-Fulfilling Prophecy”
Meskipun populer, teori ini menuai kritik tajam dari berbagai penjuru. Edward Said, pemikir Palestina-Amerika, menyebutnya sebagai “The Clash of Ignorance” atau Benturan Kebodohan.
Kritikus menuduh Huntington melakukan simplifikasi berlebihan (essentialism). Ia menganggap budaya sebagai entitas yang kaku dan tunggal. Padahal, di dalam peradaban Islam atau Barat sendiri terdapat keragaman dan konflik internal yang luar biasa.
Lebih bahaya lagi, teori ini berisiko menjadi self-fulfilling prophecy atau ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri. Jika pembuat kebijakan Barat memandang Islam atau China sebagai musuh abadi, mereka akan membuat kebijakan yang agresif. Akibatnya, pihak lawan akan bereaksi keras, dan konflik yang diramalkan itu pun benar-benar terjadi karena ulah mereka sendiri.
Takdir atau Manipulasi Elit?
Pada akhirnya, kita harus bertanya. Apakah budaya benar-benar takdir konflik kita? Atau, identitas hanyalah alat yang dimanipulasi oleh elit politik?
Politisi sering menggunakan sentimen agama dan ras untuk memobilisasi massa demi kekuasaan. Mereka membungkus kepentingan ekonomi dan geopolitik dengan jubah “perang suci” atau “kebanggaan peradaban”.
Ramalan Huntington memang menghantui abad ke-21. Namun, hantu itu mungkin tidak nyata. Kita memiliki pilihan untuk tidak terjebak dalam skenario kiamat budaya tersebut. Ingatlah, peradaban bisa saling belajar dan berdagang, tidak harus selalu saling menghancurkan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















