Air Laut Menghitam di Tarumajaya, Nelayan Terpaksa Jadi Buruh dan Pemulung

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Air Laut Menghitam. (Posnews/Pixabay)

Ilustrasi, Air Laut Menghitam. (Posnews/Pixabay)

CIKARANG, POSNEWS.CO.ID – Laut yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan warga pesisir Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, kini berubah menjadi sumber keresahan.

Dugaan pencemaran laut membuat hasil tangkapan nelayan merosot tajam. Bahkan, sebagian nelayan terpaksa meninggalkan profesinya demi menyambung hidup.

Merespons kondisi tersebut, DPRD Kabupaten Bekasi langsung menggunakan fungsi pengawasan untuk menelusuri dugaan pencemaran di perairan Desa Pantai Makmur, Kecamatan Tarumajaya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Aria Dwi Nugraha, mengatakan pencemaran tidak hanya terjadi di Tarumajaya.

Namun, wilayah itu menjadi sorotan karena dampaknya paling besar terhadap kehidupan nelayan, terutama pembudidaya kerang.

“Pencemaran juga terjadi di sejumlah titik pesisir. Namun, Tarumajaya menjadi perhatian karena dampaknya membuat banyak nelayan kehilangan mata pencaharian,” kata Aria di Cikarang, Sabtu (27/6/2026).

DPRD Panggil DLH dan Perusahaan

Sebagai langkah awal, DPRD akan memanggil Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi untuk meminta penjelasan mengenai pengawasan lingkungan di kawasan pesisir.

Baca Juga :  Update Bencana Maut Sumatera: 770 Tewas, 463 Hilang - Polri All Out Evakuasi dan Kirim Bantuan

Selanjutnya, DPRD juga akan meminta klarifikasi dari sejumlah perusahaan yang beroperasi di sekitar Tarumajaya terkait dugaan pembuangan limbah ke laut.

Aria menegaskan, dugaan pencemaran tersebut menjadi perhatian serius karena berpotensi mengarah pada kejahatan lingkungan.

Meski kewenangan pengelolaan laut berada di pemerintah provinsi dan pusat, DPRD memastikan tetap mengawasi aktivitas perusahaan di daratan yang memiliki saluran pembuangan menuju laut.

Selain itu, DPRD bersama instansi terkait akan menelusuri perusahaan di sekitar pesisir untuk mengidentifikasi sumber pencemaran dan mempercepat pemulihan lingkungan.

DLH Minta Warga Aktif Melapor

Di sisi lain, DLH Kabupaten Bekasi mengajak masyarakat melaporkan dugaan pencemaran melalui SP4N-LAPOR!.

Juru Bicara DLH Kabupaten Bekasi, Dedi Kurniawan, mengatakan laporan masyarakat menjadi dasar bagi pemerintah untuk melakukan penyelidikan.

“Laporan masyarakat menjadi dasar kami melakukan tindak lanjut dan memperkuat pembuktian,” ujarnya.

Air Laut Menghitam, Kerang Menghilang

Sementara proses penyelidikan berlangsung, nelayan mengaku kondisi laut terus memburuk sejak Mei 2026.

Air laut berubah lebih gelap dan mengeluarkan bau menyengat. Mereka menduga limbah industri telah merusak ekosistem laut hingga mematikan habitat kerang, komoditas utama yang selama ini menjadi sumber penghasilan warga.

Baca Juga :  BMKG: Jakarta Hari Ini Cerah Sepanjang Hari, Suhu Tembus 31 Derajat

Nelayan Samsur (58) mengaku hasil tangkapan kerang turun hingga 70 persen.

Jika sebelumnya ia mampu membawa pulang puluhan ember kerang setiap hari, kini beberapa ember saja sulit diperoleh.

“Kondisi laut sekarang yang paling parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saya tetap bertahan karena hanya mencari kerang yang saya bisa,” katanya.

Banyak Nelayan Beralih Profesi

Dampak pencemaran tidak hanya dirasakan di laut, tetapi juga menghantam perekonomian keluarga nelayan.

Dari sekitar 60 nelayan pemburu kerang, kini hanya belasan yang masih bertahan. Selebihnya beralih menjadi buruh harian, pemulung, hingga pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Nelayan lainnya, Sarman (52), mengatakan persoalan terbesar bukan kenaikan harga kebutuhan pokok, melainkan hilangnya sumber penghidupan akibat rusaknya laut.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bekasi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga pemerintah pusat segera mengambil langkah nyata untuk mengungkap penyebab pencemaran dan memulihkan ekosistem pesisir.

“Kami berharap pemerintah segera turun tangan. Laut ini sumber hidup kami. Kalau laut rusak, kami kehilangan masa depan,” ujarnya. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Longboat Kabur ke PNG, 200 Butir Amunisi Dibuang ke Laut dan Berhasil Diamankan
Koper Dibuka, 5 Kg Sabu Ditemukan! Marcel Diduga Hendak Kirim ke Palembang
Ajakan Seks Rp300 Ribu Ditolak, Pria di Labura Tewas Ditebas Celurit 5 Kali
Mayat Terborgol di Rumah Kosong Kendal, Kepala Donna Dihantam Benda Tumpul
Ledakan Pakuwon City Surabaya, 5 Orang Terluka dan 20 Ruko Rusak
Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga di Lampung Tewas Usai Serang Polisi
Satu Keluarga di Tulang Bawang Ditemukan Tewas, Polisi Kejar Terduga Pelaku
Pulang Usai Beli Mi, 7 Remaja Naik Motor Roda Tiga Kecelakaan di Cileungsi, 2 Tewas

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:18 WIB

Longboat Kabur ke PNG, 200 Butir Amunisi Dibuang ke Laut dan Berhasil Diamankan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:07 WIB

Koper Dibuka, 5 Kg Sabu Ditemukan! Marcel Diduga Hendak Kirim ke Palembang

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:05 WIB

Ajakan Seks Rp300 Ribu Ditolak, Pria di Labura Tewas Ditebas Celurit 5 Kali

Rabu, 7 Oktober 2026 - 06:11 WIB

Mayat Terborgol di Rumah Kosong Kendal, Kepala Donna Dihantam Benda Tumpul

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:31 WIB

Ledakan Pakuwon City Surabaya, 5 Orang Terluka dan 20 Ruko Rusak

Berita Terbaru

Pengacara David Hearn mendesak pengawas pemerintah AS menyelidiki kegagalan renovasi Kolam Refleksi Lincoln dan kriminalisasi palsu. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pengacara Mantan Atlet Olimpiade AS Mendesak Penyelidikan

Rabu, 7 Okt 2026 - 15:12 WIB

Donald Trump mempromosikan investasi Anduril $3,7 miliar di Sparrows Point Maryland untuk komponen kapal selam nuklir AS menjelang pemilu sela. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Mempromosikan Investasi Anduril Senilai 3,7 Miliar

Rabu, 7 Okt 2026 - 13:52 WIB