STOCKHOLM, POSNEWS.CO.ID – Sejak 1901, Hadiah Nobel telah menjadi puncak pengakuan bagi pencapaian luar biasa manusia, mulai dari fisika hingga perdamaian. Namun, sedikit yang menyadari bahwa fondasi penghargaan mulia ini dibangun di atas tumpukan bahan peledak dan kekayaan seorang industrialis yang kesepian.
Alfred Nobel, lahir di Stockholm pada 1833, tumbuh dalam keluarga insinyur yang berpikiran maju. Ayahnya, Immanuel Nobel, membawa keluarga ke St. Petersburg, Rusia, di mana Alfred menerima pendidikan kelas satu.
Di usia 17 tahun, Alfred muda telah fasih lima bahasa. Menariknya, ia memiliki jiwa ganda: seorang peminat sastra dan puisi yang introvert, sekaligus kimiawan yang tajam. Meskipun ayahnya tidak menyukai sisi puitisnya dan mendorongnya menjadi insinyur, perpaduan inilah yang kelak membentuk warisannya.
Menjinakkan “Minyak Penghanus”
Titik balik hidupnya terjadi di Paris. Di sana, Alfred bertemu Ascanio Sobrero, penemu nitrogliserin. Cairan ini memiliki daya ledak dahsyat, jauh melebihi bubuk mesiu, tetapi sangat tidak stabil dan berbahaya. Sobrero sendiri menganggapnya tidak praktis.
Alfred berpikir lain. Ia melihat potensi besar nitrogliserin untuk konstruksi, asalkan ia bisa menjinakkannya. Ia kembali ke Swedia pada 1863 dan memulai eksperimen berbahaya. Tragisnya, serangkaian ledakan terjadi, termasuk insiden fatal pada 1864 yang menewaskan adiknya, Emil.
Pemerintah kota Stockholm langsung melarang eksperimen tersebut. Pantang menyerah, Alfred memindahkan laboratoriumnya ke sebuah tongkang di tengah Danau Malaren. Di sanalah kejeniusannya bersinar.
Ia menemukan bahwa mencampur nitrogliserin dengan kieselguhr (tanah diatome) mengubah cairan labil itu menjadi pasta yang stabil. Ia bisa membentuknya menjadi batang yang aman untuk dimasukkan ke lubang bor. Pada 1867, ia mematenkan penemuan ini dengan nama “Dinamit”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya itu, ia juga menciptakan detonator dan blasting cap. Kombinasi penemuan ini drastis memangkas biaya peledakan batu, pengeboran terowongan, dan pembangunan kanal di seluruh dunia.
Wasiat yang Mengejutkan Dunia
Bisnis dinamit meledak di pasaran. Alfred membangun imperium bisnis dengan pabrik di lebih dari 20 negara dan memegang 355 paten saat ia meninggal. Namun, kekayaan melimpah tidak memberinya kehidupan pribadi yang hangat.
Di usia 43 tahun, ia merasa tua dan kesepian. Ia sempat mempekerjakan Countess Bertha Kinsky sebagai sekretaris, yang kemudian menjadi sahabat pena seumur hidupnya. Bertha, yang kemudian dikenal sebagai Bertha von Suttner, adalah aktivis perdamaian vokal dan penulis buku Lay Down Your Arms.
Kritik Bertha terhadap perlombaan senjata sangat memengaruhi Alfred. Oleh karena itu, saat Alfred menulis wasiat terakhirnya pada 1895, ia memasukkan kategori “Perdamaian” sebagai salah satu penghargaan, sebuah ironi manis dari seorang raja bahan peledak.
Ketika Alfred meninggal di San Remo pada 1896, wasiatnya mengejutkan keluarga dan dunia. Ia mewariskan sebagian besar kekayaannya untuk mendirikan Hadiah Nobel. Meskipun sempat ditentang kerabat dan dipertanyakan otoritas, para eksekutor wasiatnya berhasil mendirikan Yayasan Nobel.
Kini, visi Alfred Nobel terwujud sempurna. Ia berhasil menggabungkan pikiran tajam seorang ilmuwan dengan dinamisme industrialis, serta kepekaan seorang humanis yang mencintai sastra dan perdamaian.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















