MINNEAPOLIS, POSNEWS.CO.ID – Selama puluhan tahun, dunia bergantung pada minyak bumi untuk memproduksi plastik yang mencemari lingkungan. Namun, dua belas tahun lalu, para ilmuwan di Cargill mendapatkan ide gila saat meneliti limbah penggilingan jagung: bisakah kita membuat plastik dari tanaman?
Jawabannya ternyata “ya”, meskipun perjalanannya tidak mudah. Setelah melalui berbagai upaya yang gagal, mereka akhirnya mencapai terobosan teknologi. Melalui proses fermentasi dan distilasi canggih, jagung kini bisa disulap menjadi polimer serbaguna.
Pada 1997, Cargill menyadari bahwa mereka butuh mitra ahli untuk memasarkan temuan ini. Mereka menggandeng The Dow Chemical Company, membentuk usaha patungan bernama Cargill Dow LLC. Hasilnya adalah NatureWorks™ PLA, plastik komersial pertama di dunia yang terbuat dari sumber daya terbarukan tahunan.
Memanen Karbon dari Udara
Proses pembuatannya terdengar seperti resep dapur futuristik. Pertama, pabrik menggiling jagung untuk memisahkan patinya, yang kemudian diproses menjadi dekstrosa tak murni.
Selanjutnya, Cargill Dow mengubah dekstrosa tersebut menjadi asam laktat menggunakan fermentasi—proses yang mirip dengan pembuatan bir atau anggur. Asam laktat ini sama dengan zat yang ada dalam jaringan otot manusia. Melalui kondensasi dan distilasi vakum, terbentuklah polimer siap pakai.
Teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk “memanen” karbon yang tanaman ambil dari udara melalui fotosintesis. Berbeda dengan plastik konvensional yang melepaskan karbon purba ke atmosfer, PLA justru menggunakan karbon yang sudah ada dalam siklus alam.
Dari Kemasan hingga Baju Olahraga
PLA kini bersaing langsung (head-to-head) dengan raksasa petrokimia seperti poliester. Faktanya, sifat fisiknya yang unik membuat PLA sangat diminati berbagai industri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengecer grosir mulai beralih ke kemasan PLA untuk makanan segar karena bahan ini lebih tahan minyak dan mampu menahan aroma lebih baik daripada plastik biasa. Di sektor tekstil, pembuat pakaian olahraga tertarik karena kemampuan alaminya menyerap kelembapan dari kulit.
Bahkan, PLA memiliki keunggulan estetika. Indeks biasnya yang rendah memungkinkan kain berwarna pekat tanpa memerlukan banyak pewarna kimia. Ketahanannya terhadap sinar ultraviolet juga membuatnya ideal untuk gorden jendela yang tidak mudah pudar.
Ramah Lingkungan dan Kompetitif
Keunggulan utama PLA tentu saja dampak lingkungannya. Produksi PLA menggunakan 20-50% lebih sedikit bahan bakar fosil dibanding plastik minyak bumi. Selain itu, emisi gas rumah kacanya jauh lebih rendah.
Di akhir masa pakainya, produk PLA tidak akan menjadi sampah abadi. Bahannya sepenuhnya dapat dikomposkan di fasilitas komersial atau didaur ulang kembali menjadi polimer baru. Dengan demikian, jejaknya hilang tanpa sisa, menawarkan solusi nyata bagi krisis sampah plastik global.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















