Jagung Kini Disulap Jadi Plastik Ramah Lingkungan

Rabu, 7 Januari 2026 - 10:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan hanya untuk popcorn, jagung kini menjadi bahan baku plastik masa depan. Teknologi baru mengubah gula tanaman menjadi polimer yang bisa terurai alami. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bukan hanya untuk popcorn, jagung kini menjadi bahan baku plastik masa depan. Teknologi baru mengubah gula tanaman menjadi polimer yang bisa terurai alami. Dok: Istimewa.

MINNEAPOLIS, POSNEWS.CO.ID – Selama puluhan tahun, dunia bergantung pada minyak bumi untuk memproduksi plastik yang mencemari lingkungan. Namun, dua belas tahun lalu, para ilmuwan di Cargill mendapatkan ide gila saat meneliti limbah penggilingan jagung: bisakah kita membuat plastik dari tanaman?

Jawabannya ternyata “ya”, meskipun perjalanannya tidak mudah. Setelah melalui berbagai upaya yang gagal, mereka akhirnya mencapai terobosan teknologi. Melalui proses fermentasi dan distilasi canggih, jagung kini bisa disulap menjadi polimer serbaguna.

Pada 1997, Cargill menyadari bahwa mereka butuh mitra ahli untuk memasarkan temuan ini. Mereka menggandeng The Dow Chemical Company, membentuk usaha patungan bernama Cargill Dow LLC. Hasilnya adalah NatureWorks™ PLA, plastik komersial pertama di dunia yang terbuat dari sumber daya terbarukan tahunan.

Memanen Karbon dari Udara

Proses pembuatannya terdengar seperti resep dapur futuristik. Pertama, pabrik menggiling jagung untuk memisahkan patinya, yang kemudian diproses menjadi dekstrosa tak murni.

Baca Juga :  Ilmuwan Rela Menggantung di Balon dan Derek Raksasa?

Selanjutnya, Cargill Dow mengubah dekstrosa tersebut menjadi asam laktat menggunakan fermentasi—proses yang mirip dengan pembuatan bir atau anggur. Asam laktat ini sama dengan zat yang ada dalam jaringan otot manusia. Melalui kondensasi dan distilasi vakum, terbentuklah polimer siap pakai.

Teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk “memanen” karbon yang tanaman ambil dari udara melalui fotosintesis. Berbeda dengan plastik konvensional yang melepaskan karbon purba ke atmosfer, PLA justru menggunakan karbon yang sudah ada dalam siklus alam.

Dari Kemasan hingga Baju Olahraga

PLA kini bersaing langsung (head-to-head) dengan raksasa petrokimia seperti poliester. Faktanya, sifat fisiknya yang unik membuat PLA sangat diminati berbagai industri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengecer grosir mulai beralih ke kemasan PLA untuk makanan segar karena bahan ini lebih tahan minyak dan mampu menahan aroma lebih baik daripada plastik biasa. Di sektor tekstil, pembuat pakaian olahraga tertarik karena kemampuan alaminya menyerap kelembapan dari kulit.

Baca Juga :  Mengapa Mengejar Yang Terbaik Justru Bikin Sengsara?

Bahkan, PLA memiliki keunggulan estetika. Indeks biasnya yang rendah memungkinkan kain berwarna pekat tanpa memerlukan banyak pewarna kimia. Ketahanannya terhadap sinar ultraviolet juga membuatnya ideal untuk gorden jendela yang tidak mudah pudar.

Ramah Lingkungan dan Kompetitif

Keunggulan utama PLA tentu saja dampak lingkungannya. Produksi PLA menggunakan 20-50% lebih sedikit bahan bakar fosil dibanding plastik minyak bumi. Selain itu, emisi gas rumah kacanya jauh lebih rendah.

Di akhir masa pakainya, produk PLA tidak akan menjadi sampah abadi. Bahannya sepenuhnya dapat dikomposkan di fasilitas komersial atau didaur ulang kembali menjadi polimer baru. Dengan demikian, jejaknya hilang tanpa sisa, menawarkan solusi nyata bagi krisis sampah plastik global.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres
AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz
Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot
Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku
Imigrasi Soetta Gagalkan 23 Calon Haji Nonprosedural ke Jeddah, Total 42 Orang Dicegah
Trump Sebut Angkatan Laut AS Bertindak Seperti Bajak Laut
Cuaca Jabodetabek Minggu 3 Mei 2026, Hujan Lebat Guyur Sejumlah Wilayah

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:59 WIB

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:54 WIB

AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:24 WIB

Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:11 WIB

Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku

Berita Terbaru

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Ketegangan di jantung Eropa. Pentagon resmi mengumumkan penarikan sekitar 5.000 tentara AS dari Jerman sebagai balasan atas kritik keras Kanselir Friedrich Merz terhadap kepemimpinan Donald Trump dalam perang Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:54 WIB