Anarki adalah Apa yang Dibuat Negara Darinya: Mengubah Wajah Persaingan Menjadi Kerja Sama

Rabu, 18 Maret 2026 - 05:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Melampaui determinisme anarki. Alexander Wendt menantang pakem Realisme dengan membuktikan bahwa identitas dan interaksi sosial menentukan apakah dunia akan penuh perang atau perdamaian di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Melampaui determinisme anarki. Alexander Wendt menantang pakem Realisme dengan membuktikan bahwa identitas dan interaksi sosial menentukan apakah dunia akan penuh perang atau perdamaian di tahun 2026. Dok: Istimewa.

BERLIN, POSNEWS.CO.ID – Dunia pada tahun 2026 sering kali terlihat seperti tempat yang kejam dan penuh persaingan. Namun, apakah perang merupakan satu-satunya pilihan rasional dalam sistem internasional yang tanpa pemimpin (anarki)? Alexander Wendt, tokoh utama Konstruktivisme, memberikan jawaban yang sangat berbeda. Ia menegaskan bahwa “anarki adalah apa yang dibuat negara darinya”.

Dalam konteks ini, konstruktivisme menolak pandangan kaum Realis yang menganggap anarki sebagai struktur yang kaku. Oleh karena itu, struktur sistemik semata tidak menentukan nasib sebuah negara, melainkan cara negara memaknai hubungannya dengan negara lain melalui proses sosial.

Anarki Bukan Takdir: Menghancurkan Mitos “Hukum Alam”

Kaum Realis percaya bahwa anarki secara otomatis menciptakan dunia “mandiri” (self-help) yang memicu perlombaan senjata. Namun, Wendt berpendapat bahwa anarki tidak memiliki logika internal yang memaksa negara untuk bersikap agresif. Struktur internasional hanyalah sebuah “wadah kosong” yang isinya bergantung pada makna yang para aktor sematkan di dalamnya.

Sebagai contoh, Amerika Serikat tidak menganggap keberadaan 500 hulu ledak nuklir Inggris sebagai ancaman. Sebaliknya, lima hulu ledak nuklir Korea Utara memicu kepanikan luar biasa di Washington. Perbedaan respon ini membuktikan bahwa identitas dan hubungan sosial jauh lebih menentukan daripada jumlah kekuatan militer murni. Dengan demikian, anarki bisa menjadi ruang bagi perdamaian jika negara-negara memilih untuk saling mempercayai.

Baca Juga :  Matinya Diplomasi Rahasia? Dampak Kebocoran Data Intelijen terhadap Hubungan Bilateral

Interaksi Berulang: Menciptakan Sosok “Teman” dan “Musuh”

Identitas sebuah negara tidak muncul di ruang hampa, melainkan melalui interaksi sosial yang berulang. Wendt menggunakan metafora pertemuan pertama antara dua aktor yang tidak saling mengenal. Jika mereka memulai interaksi dengan gestur damai, mereka akan membangun identitas sebagai “teman”. Namun, jika mereka merespon dengan kecurigaan, identitas “musuh” akan segera terbentuk.

Lebih lanjut, persepsi musuh ini sering kali menjadi lingkaran setan yang sulit berakhir. Negara membangun kekuatan militer karena merasa terancam, dan tindakan tersebut justru memvalidasi ketakutan negara lawan. Oleh sebab itu, krisis kepercayaan di tahun 2026 sering kali berakar pada sejarah interaksi yang buruk di masa lalu. Untuk mengubah musuh menjadi teman, negara harus berani memulai “siklus sinyal positif” guna merombak persepsi identitas lawan di mata dunia.

Baca Juga :  Timnas Indonesia U-17 Catat Sejarah Manis di Piala Dunia, Nova Arianto: Ini Baru Awal

Peluang Transformasi: Menuju Budaya Kooperatif

Konstruktivisme menawarkan harapan bahwa dunia dapat bergerak dari budaya Hobbesian (perang semesta) menuju budaya Kantian (perdamaian abadi). Terlebih lagi, perubahan ini sangat bergantung pada transformasi identitas kolektif. Ketika negara mulai memandang keamanan pihak lain sebagai bagian dari keamanannya sendiri, kerja sama akan tumbuh secara natural.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam hal ini, peran norma internasional dan institusi global menjadi sangat krusial sebagai agen sosialisasi. Institusi membantu negara-negara untuk mendefinisikan ulang kepentingan mereka dari egoisme nasional menuju kolaborasi global. Pada akhirnya, mengubah wajah dunia memerlukan keberanian untuk mengubah cara kita melihat satu sama lain. Jika negara-negara di tahun 2026 mampu membangun identitas sebagai komunitas global yang satu, maka anarki tidak lagi menjadi ancaman, melainkan peluang bagi kemajuan umat manusia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diplomasi Identitas: Mengapa Kedekatan Budaya Lebih Kuat daripada Persekutuan Militer?
Pencuri HP di Masjid Istiqlal Sudah 3 Kali Beraksi, Modus Dorong Jemaah
Puncak Mudik di Pelabuhan Merak Dini Hari Ini, Menhub Pastikan Kapal Siaga Penuh
TNI Selidiki Dugaan Keterlibatan Prajurit dalam Kasus Air Keras Aktivis KontraS
BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem di Kota Besar Hari Ini, Hujan Lebat Mengguyur Seharian
Matinya Diplomasi Rahasia? Dampak Kebocoran Data Intelijen terhadap Hubungan Bilateral
Mudik 2026: Wakapolri Ungkap Puncak Arus dan Strategi Pengamanan di Merak-Bakauheni
Nasionalisme Vaksin dan Kesenjangan Kesehatan: Pelajaran dari Pandemi untuk Masa Depan

Berita Terkait

Rabu, 18 Maret 2026 - 06:06 WIB

Diplomasi Identitas: Mengapa Kedekatan Budaya Lebih Kuat daripada Persekutuan Militer?

Rabu, 18 Maret 2026 - 05:17 WIB

Pencuri HP di Masjid Istiqlal Sudah 3 Kali Beraksi, Modus Dorong Jemaah

Rabu, 18 Maret 2026 - 05:03 WIB

Anarki adalah Apa yang Dibuat Negara Darinya: Mengubah Wajah Persaingan Menjadi Kerja Sama

Rabu, 18 Maret 2026 - 05:02 WIB

Puncak Mudik di Pelabuhan Merak Dini Hari Ini, Menhub Pastikan Kapal Siaga Penuh

Rabu, 18 Maret 2026 - 04:47 WIB

TNI Selidiki Dugaan Keterlibatan Prajurit dalam Kasus Air Keras Aktivis KontraS

Berita Terbaru