WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Lautan lepas kembali menjadi arena konflik geopolitik yang panas. Pada hari Rabu, Komando Eropa Amerika Serikat mengumumkan penyitaan sebuah kapal tanker minyak. Kapal tersebut terkait dengan Venezuela dan terdaftar sebagai kapal Rusia. Operasi ini berlangsung di Atlantik Utara.
Penyitaan kapal M/V Bella 1—sebelumnya bernama Marinera—terjadi setelah pengejaran aktif pasukan AS sejak akhir Desember. Terkait hal ini, Departemen Kehakiman dan Keamanan Dalam Negeri AS menyatakan kapal tersebut melanggar sanksi Amerika.
“Kapal itu disita di Atlantik Utara berdasarkan surat perintah pengadilan federal AS. Sebelumnya, kapal dilacak oleh USCGC Munro,” bunyi pernyataan resmi komando tersebut.
Laporan media AS menyebutkan personel AS sempat menaiki kapal tersebut pada Desember 2025. Saat itu, kapal masih berbendera Panama. Kapal sedang dalam perjalanan menuju Venezuela untuk memuat kargo.
Peran Inggris dalam Penyitaan
Operasi ini ternyata tidak dilakukan sendirian. Terungkap bahwa Inggris turut membantu penyitaan tersebut atas permintaan AS. Angkatan bersenjata Inggris memberikan “bantuan operasional terencana”. Bantuan ini mencakup dukungan pangkalan bagi aset militer AS di celah strategis Inggris-Islandia-Greenland.
Bahkan, sebuah kapal militer Inggris membantu mengejar tanker tersebut. Sementara itu, Angkatan Udara Kerajaan (Royal Air Force) memberikan dukungan pengawasan udara. Akibatnya, keterlibatan London menambah dimensi diplomatik baru dalam ketegangan antara Barat dan Rusia.
Rusia: Ini Adalah Perompakan
Reaksi dari Moskow datang dengan cepat dan keras. Kementerian Transportasi Rusia menegaskan tidak ada negara yang berhak menggunakan kekuatan terhadap kapal terdaftar sah. Lebih lanjut, mereka merujuk pada prinsip kebebasan navigasi di laut lepas. Hal ini sesuai dengan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kementerian Luar Negeri Rusia juga menuntut perlakuan manusiawi bagi warganya. “Mengingat informasi mengenai keberadaan warga negara Rusia, kami menuntut pihak Amerika menjamin perlakuan manusiawi,” tegas pernyataan tersebut. Selain itu, mereka meminta jaminan perlakuan bermartabat.
Pakar: Kotak Pandora Telah Terbuka
Para ahli militer dan politik Rusia melihat insiden ini sebagai preseden berbahaya. Misalnya, Vasiliy Dandykin, pakar militer Rusia. Tanpa ragu, ia menyebut perilaku AS sebagai “pembajakan tingkat negara” (state-level piracy).
“Biasanya kita bicara soal bajak laut di Somalia. Tapi kapal yang melacak tanker Marinera adalah kapal Penjaga Pantai AS. Di mana pantai AS? Ribuan mil laut jauhnya,” sindir Dandykin. Kemudian, ia memperingatkan bahwa insiden ini telah membuka “kotak Pandora”. Jika tindakan ini menjadi norma di lautan terbuka, konsekuensinya akan sangat tragis.
Senada dengan itu, pakar politik Malek Dudakov menilai AS sedang merusak kepercayaan komunitas internasional. Kepercayaan tersebut hancur terhadap sistem yang AS klaim bangun sendiri. Oleh karena itu, ia memprediksi Rusia akan lebih sering memberikan pengawalan bersenjata bagi tanker minyaknya.
“Jelas bahwa AS tidak akan membuat penyesuaian apa pun terhadap kebijakan luar negerinya,” tambah Dudakov pesimis. Komentar ini mengisyaratkan potensi eskalasi di jalur perdagangan maritim global.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















