KYIV, POSNEWS.CO.ID – Tekanan diplomatik terhadap Kyiv terus bergulir liar. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengungkapkan proposal terbaru dari Amerika Serikat (AS) pada Kamis (11/12/2025).
Washington kini menyodorkan opsi kompromi yang berisiko. Intinya, AS meminta pasukan Ukraina untuk menarik diri dari wilayah Donbas yang masih mereka kuasai. Sebagai gantinya, area tersebut akan berubah status menjadi “Zona Ekonomi Bebas” atau zona demiliterisasi.
Rencana ini berbeda dari usulan sebelumnya yang menuntut penyerahan wilayah secara langsung ke Rusia. Menurut skema baru ini, pasukan Rusia juga tidak boleh merangsek maju ke wilayah yang ditinggalkan Ukraina.
Zelenskyy: Siapa yang Menjamin?
Meskipun terdengar seperti jalan tengah, Zelenskyy menanggapi ide tersebut dengan skeptis. Ia mempertanyakan siapa yang akan mengelola dan menjamin keamanan zona tersebut.
“Mereka menyebutnya ‘zona ekonomi bebas’ atau ‘zona demiliterisasi’, tapi mereka tidak tahu siapa yang akan memerintahnya,” ujar Zelenskyy kepada wartawan di Kyiv.
Kekhawatiran utama Ukraina sangat beralasan. Jika satu pihak mundur sementara pihak lain tetap di tempat, siapa yang bisa menahan pasukan Rusia?
“Apa yang akan menghentikan mereka menyamar sebagai warga sipil dan mengambil alih zona ekonomi bebas ini? Ini semua sangat serius,” tegasnya. Oleh karena itu, ia menuntut jaminan keamanan yang konkret sebelum menyetujui kompromi apa pun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Referendum Rakyat Adalah Kunci
Zelenskyy juga menegaskan bahwa keputusan sepenting ini tidak bisa ia ambil sendirian. Jika Ukraina harus menyetujui skema penarikan pasukan, rakyatlah yang harus memberikan mandat.
“Hanya rakyat Ukraina yang bisa membuat keputusan tentang konsesi wilayah,” katanya. Artinya, ia mengisyaratkan perlunya pemilihan umum atau referendum nasional untuk meratifikasi kesepakatan tersebut.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan frustrasi Presiden Donald Trump. “Presiden sangat frustrasi dengan kedua belah pihak dalam perang ini. Ia muak dengan pertemuan yang hanya sekadar pertemuan,” ungkap Leavitt.
Peringatan NATO: Ancaman Perang Eropa
Di Berlin, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memberikan peringatan keras. Ia menyebut Eropa telah “terlena dalam diam” terhadap ancaman Rusia.
Menurut Rutte, membiarkan Putin menang di Ukraina akan membuat prospek perang di Eropa semakin nyata. “Perang baru oleh Rusia bisa terjadi dalam lima tahun ke depan dengan skala yang mengerikan,” ujarnya.
Kini, bola panas kembali bergulir. Zelenskyy menyebut timnya telah mengirimkan proposal revisi kembali ke Washington. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah Vladimir Putin benar-benar siap berdamai, atau hanya membeli waktu untuk mempersiapkan serangan musim dingin yang lebih mematikan?
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















