Sakral vs Viral: Dilema Pelestarian Upacara Adat di Era Konten Digital

Minggu, 21 Desember 2025 - 11:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Upacara sakral atau konten viral? Hutan kamera kini mengepung ritual adat. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Upacara sakral atau konten viral? Hutan kamera kini mengepung ritual adat. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Aroma dupa menyeruak di udara, bercampur dengan keheningan doa yang khusyuk. Namun, suasana sakral itu tiba-tiba terusik. Bukan oleh roh jahat, melainkan oleh hutan tongkat narsis dan lensa kamera yang berebut angle terbaik.

Fenomena ini kini menjadi pemandangan umum dalam upacara adat besar di Indonesia. Entah itu Ngaben di Bali atau Rambu Solo di Toraja, ritual kematian yang seharusnya hening berubah menjadi panggung tontonan yang riuh.

Kamera ponsel wisatawan dan konten kreator mengepung para pemangku adat. Seketika, batas antara ibadah suci dan atraksi wisata menjadi kabur. Kita sedang menghadapi benturan keras antara nilai sakral dan nafsu viral.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Promosi Gratis dan Kebanggaan Lokal

Kita tidak bisa menutup mata terhadap dampak positifnya. Faktanya, kehadiran media sosial membawa angin segar bagi pariwisata daerah.

Baca Juga :  Pembunuh Anak Politikus PKS Cilegon Ajukan Praperadilan, Uji Penetapan Tersangka

Video-video viral di TikTok atau Instagram berfungsi sebagai promosi gratis yang sangat efektif. Dunia menjadi tahu kekayaan budaya Nusantara yang eksotis. Lantas, ekonomi lokal bergerak karena kunjungan turis meningkat.

Selain itu, eksposur ini membangkitkan kebanggaan identitas pada generasi muda lokal. Mereka melihat budaya mereka dipuja oleh dunia. Akibatnya, semangat untuk melestarikan tradisi kembali menyala di kalangan milenial adat.

Desakralisasi: Hilangnya Jiwa Ritual

Di sisi lain, harga yang harus kita bayar sangatlah mahal. Ancaman terbesar adalah desakralisasi atau hilangnya nilai kesucian ritual.

Kehadiran penonton yang agresif sering kali mengganggu kekhusyukan doa. Bahkan, terkadang ritual mengalami komodifikasi. Penyelenggara memodifikasi durasi atau tata cara upacara hanya demi memuaskan selera penonton yang tidak sabaran.

Ritual yang sejatinya adalah dialog manusia dengan Sang Pencipta, berubah menjadi pertunjukan teater semata. Jiwa spiritualnya menguap, menyisakan cangkang visual yang kosong.

Etika Turis yang Menabrak Batas

Konflik makin tajam saat privasi spiritual masyarakat adat berbenturan dengan etika turis yang buruk. Kita sering melihat wisatawan memanjat bangunan suci atau berpakaian tidak pantas demi konten.

Baca Juga :  Ibu Korban Pembunuhan Bocah di Cilincing Meninggal Dunia, Kasus Tetap Berlanjut

Parahnya lagi, kamera sering menyorot wajah keluarga yang sedang berduka secara close-up tanpa izin. Bagi kreator, itu adalah momen emosional yang “menjual”. Namun bagi keluarga, itu adalah eksploitasi kesedihan yang tidak etis.

Masyarakat adat sering kali merasa serba salah. Mereka ingin ramah pada tamu, tetapi mereka juga ingin menjaga kesucian leluhur mereka.

Jalan Tengah: Zona Bebas Kamera

Pada akhirnya, kita harus mencari jalan tengah yang bijak. Mempromosikan budaya tidak harus dengan membunuh jiwanya.

Pengelola wisata dan desa adat perlu menerapkan aturan tegas. Misalnya, menetapkan “zona bebas kamera” di area inti ritual. Wisatawan boleh menonton, tapi harus dari jarak yang menghormati.

Edukasi bagi pengunjung adalah kunci. Kita harus paham bahwa kita adalah tamu di rumah ibadah orang lain, bukan sutradara di lokasi syuting. Ingatlah, budaya hidup karena nilainya, bukan sekadar karena viralnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB