Babak Baru Beijing-Pyongyang: Mengamankan Pengaruh di Tengah Bayang-Bayang Trump dan Rusia

Rabu, 11 Maret 2026 - 20:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi infrastruktur dan mineral. Beijing mempererat cengkeraman ekonomi atas Korea Utara untuk mengimbangi pengaruh Rusia serta bersiap menghadapi negosiasi baru dengan Donald Trump. Dok: Istimewa.

Diplomasi infrastruktur dan mineral. Beijing mempererat cengkeraman ekonomi atas Korea Utara untuk mengimbangi pengaruh Rusia serta bersiap menghadapi negosiasi baru dengan Donald Trump. Dok: Istimewa.

DANDONG, POSNEWS.CO.ID – Hubungan antara China dan Korea Utara kini mencair dengan cepat. Kehadiran Kim Jong Un di Beijing pada parade militer September lalu menjadi sinyal kuat. Kerjasama ini semakin nyata melalui kunjungan balasan Perdana Menteri Li Qiang ke Pyongyang.

Bagi China, misinya sangat jelas. Beijing ingin menegaskan kembali pengaruh tradisionalnya atas Pyongyang. Sejak invasi ke Ukraina, Korea Utara sempat bergeser lebih dekat ke Rusia. Mereka memasok pasukan ke Moskow demi mendapatkan pangan dan bahan bakar. Kini, China bergerak cepat untuk mengambil alih kendali tersebut.

Membangun Jembatan: Infrastruktur sebagai Alat Penekan

Citra satelit menunjukkan aktivitas pembangunan masif di sepanjang perbatasan 1.350 kilometer. China memasang tanda jalur masuk truk dan kendaraan penumpang di Jembatan Sungai Yalu Baru. Pelabuhan Quanhe dan Sanhe juga mengalami peningkatan fasilitas fisik secara signifikan.

Pembangunan ini bukan sekadar urusan logistik. Dalam kacamata Realisme Neoklasik, infrastruktur ini adalah alat “State Power”. China menyiapkan jalur untuk ketergantungan ekonomi Korea Utara yang lebih dalam. Beijing ingin memastikan bahwa akses ekonomi Pyongyang harus selalu melewati pintu mereka.

Baca Juga :  Calon Mantu Bobol Rumah Pengusaha Catering di Jakut, Uang dan Emas Digondol Buat Lebaran

Logistik Rahasia: Dari Wig Hingga Mineral Strategis

Struktur perdagangan kedua negara juga mengalami pergeseran unik. Produk rambut seperti wig dan bulu mata palsu kini mendominasi impor China dari Korea Utara. Produk ini menyumbang hampir setengah dari total nilai impor. Hal ini membantu rezim Kim mendapatkan devisa di tengah sanksi internasional.

Namun, fokus utama China adalah mineral strategis. Impor bijih molybdenum dan tungsten mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025. Mineral ini sangat penting untuk komponen roket dan rudal. Dengan membeli mineral ini, Beijing menjaga stok nasional dengan harga murah. Langkah ini juga mencegah mineral tersebut jatuh ke pasar global yang tidak terkendali.

Diplomasi Dua Front Menjelang Kunjungan Trump

Realisme Neoklasik mengajarkan bahwa kebijakan luar negeri dipengaruhi oleh persepsi elit. Beijing melihat rencana kunjungan Donald Trump ke China sebagai momentum krusial. Trump menunjukkan minat untuk berdialog kembali dengan Kim Jong Un untuk pertama kalinya sejak 2019.

Baca Juga :  Trump Hapus Unggahan yang Menyamakan Obama dengan Kera

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Beijing ingin mengirim pesan tegas kepada Washington. Mereka ingin menunjukkan bahwa China memegang kunci utama atas perilaku Korea Utara. Jika Trump ingin bernegosiasi dengan Kim, ia harus berkompromi dengan Beijing terlebih dahulu. Ini adalah strategi diplomasi dua front yang sangat klasik.

Harapan yang Masih Terhambat di Perbatasan

Meski hubungan elit membaik, situasi di kota perbatasan Dandong masih terasa sunyi. Jembatan Sungai Yalu Baru yang megah masih belum dibuka untuk lalu lintas umum. Harga properti di wilayah tersebut masih anjlok dibanding era pertama kepemimpinan Trump.

Para pedagang lokal merasa aturan logistik masih sangat membatasi. Truk tidak lagi bisa masuk jauh ke pedalaman Korea Utara seperti sebelum pandemi. Namun, optimisme mulai tumbuh seiring rencana pembukaan kembali layanan kereta penumpang. Beijing dan Pyongyang sedang menulis babak baru yang sangat berhati-hati namun strategis.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Natalius Pigai Siapkan Program Nasional HAM untuk Jurnalis di Indonesia
Polda Metro Tegaskan Kematian Pensiunan JICT Ermanto Usman Murni Perampokan
Retorika vs Realita: Membedah Dualisme Pesan Washington dalam Perang Iran
Perang Dingin Baru: Unipolaritas, Bipolaritas, dan Mana yang Lebih Stabil?
Realisme Defensif: Mengejar Kekuatan Secukupnya demi Stabilitas Global
Realisme Neoklasik: Membedah Faktor Domestik di Balik Respon Negara Terhadap Tekanan Global
Memahami Realisme Ofensif dan Ambisi Hegemoni Regional
Dilema Keamanan Nuklir: Saat Upaya Bertahan Hidup Justru Memicu Perlombaan Senjata

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 22:28 WIB

Natalius Pigai Siapkan Program Nasional HAM untuk Jurnalis di Indonesia

Rabu, 11 Maret 2026 - 21:59 WIB

Polda Metro Tegaskan Kematian Pensiunan JICT Ermanto Usman Murni Perampokan

Rabu, 11 Maret 2026 - 21:28 WIB

Retorika vs Realita: Membedah Dualisme Pesan Washington dalam Perang Iran

Rabu, 11 Maret 2026 - 20:27 WIB

Babak Baru Beijing-Pyongyang: Mengamankan Pengaruh di Tengah Bayang-Bayang Trump dan Rusia

Rabu, 11 Maret 2026 - 20:07 WIB

Perang Dingin Baru: Unipolaritas, Bipolaritas, dan Mana yang Lebih Stabil?

Berita Terbaru