Retorika vs Realita: Membedah Dualisme Pesan Washington dalam Perang Iran

Rabu, 11 Maret 2026 - 21:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jurang komunikasi di Gedung Putih. Di saat para jenderal militer menekankan profesionalisme, administrasi Trump justru menggunakan narasi agresif yang memicu kontroversi global. Dok: Istimewa.

Jurang komunikasi di Gedung Putih. Di saat para jenderal militer menekankan profesionalisme, administrasi Trump justru menggunakan narasi agresif yang memicu kontroversi global. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Muncul jurang komunikasi yang mencolok di jantung pemerintahan Amerika Serikat saat ini. Hal ini terlihat dari perbedaan bahasa antara para petinggi militer dengan retorika politik pemerintahan Presiden Donald Trump.

Pimpinan militer cenderung menggunakan bahasa yang menahan diri. Sebaliknya, pemerintahan Trump menunjukkan sikap yang jauh lebih agresif dan provokatif. Perbedaan ini memicu kekhawatiran mengenai arah kebijakan keamanan nasional AS di tengah konflik yang kian memanas.

“Punching Them While They’re Down”: Gaya Agresif Hegseth

Menteri Pertahanan Pete Hegseth muncul sebagai suara paling vokal dalam kampanye melawan Iran. Mantan pembawa acara televisi ini sering menggunakan nada yang mengejek dan membanggakan diri. Ia menegaskan bahwa pertempuran ini tidak akan pernah menjadi pertarungan yang adil.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami memukul mereka saat mereka jatuh, dan memang seharusnya begitu,” ujar Hegseth pekan lalu. Ia bahkan menyebut tenggelamnya kapal Iran sebagai “kematian yang tenang”. Pernyataan ini dianggap oleh banyak pihak sebagai penyimpangan dari norma diplomasi militer tradisional.

Baca Juga :  Video Viral Tampilkan Pria Menyerah Ditembak Mati, PBB dan PA Murka

Trivialisasi Pertempuran: Perang Sebagai Produk Hiburan

Kritik tajam datang dari pakar hukum perang, Profesor Rachel VanLandingham. Ia menyebut nada bicara pemerintah saat ini sebagai “trivialisasi kasar” terhadap operasi tempur. Administrasi Trump dinilai menunjukkan sikap yang sangat sembrono terhadap kematian dan kehancuran.

Fenomena ini diperparah dengan penyebaran video serangan AS di media sosial. Video-video tersebut menggabungkan rekaman pertempuran nyata dengan estetika film Hollywood dan permainan video. Kardinal Blase Cupich mengutuk tindakan ini. Ia menyatakan bahwa memperlakukan penderitaan nyata seperti video game adalah hal yang memuakkan.

Kontras dengan Tradisi: Suara Jernih dari Pentagon

Di tengah gemuruh retorika politik, para pemimpin militer tetap berpegang pada tradisi. Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, menarik perhatian publik melalui pernyataannya yang terukur. Saat ditanya mengenai kemampuan militer Iran, ia justru menunjukkan rasa hormat.

Baca Juga :  Kanselir Friedrich Merz Perkuat Poros Ekonomi Berlin-Beijing

“Saya pikir mereka sedang bertempur, dan saya menghormati itu,” tegas Caine. Pernyataan ini menunjukkan penghormatan profesional terhadap lawan, sebuah standar yang telah lama dipegang oleh kepemimpinan militer Amerika. Namun, sikap ini kini tampak kontras dengan narasi yang keluar dari Gedung Putih.

Kesimpulan: Dampak Strategis dari Ketidakkonsistenan Pesan

Ketidakkonsistenan pesan ini memicu kebingungan mengenai tujuan akhir perang. Tokoh-tokoh Demokrat di Kongres kini menuntut transparansi lebih lanjut. Mereka meminta Trump, Hegseth, dan Marco Rubio memberikan kesaksian mengenai objektifitas konflik ini.

Dalam perspektif strategis, retorika yang berlebihan dapat memicu miskalkulasi dari pihak lawan. Kegagalan untuk menjaga martabat militer dalam komunikasi publik berisiko merusak aliansi internasional. Pada akhirnya, cara sebuah negara berbicara tentang perang sering kali sama pentingnya dengan cara mereka bertempur di lapangan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis
Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek
Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori
Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi
Laporan GAO Ungkap Borok Pangkalan Imigrasi Texas
Wabah Ebola: AS Desak Eropa Perketat Aturan Imigrasi
Kasus Air Keras Aktivis KontraS, Dua Prajurit BAIS TNI Dipecat dari Dinas Militer

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:43 WIB

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:00 WIB

Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:38 WIB

Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:35 WIB

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:21 WIB

Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi

Berita Terbaru

Duka di Mindanao. Tim penyelamat menyisir puing-puing bangunan komersial di General Santos pasca-gempa bumi dahsyat magnitudo 7,8 yang menewaskan puluhan warga. Dok: REUTERS/Noel Celis

INTERNASIONAL

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Jun 2026 - 18:43 WIB

Persaingan ketat di Andes. Roberto Sánchez memimpin sangat tipis atas Keiko Fujimori dalam penghitungan suara pemilihan presiden Peru yang berjalan lambat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Jun 2026 - 17:35 WIB