Bajak Laut Mediterania Kuno: Teror Laut Ribuan Tahun Sebelum Jack Sparrow

Rabu, 24 Desember 2025 - 11:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lupakan Karibia! Ribuan tahun lalu, bajak laut sudah kuasai Mediterania. Julius Caesar pernah diculik, dan Pompey akhirnya basmi mereka. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Lupakan Karibia! Ribuan tahun lalu, bajak laut sudah kuasai Mediterania. Julius Caesar pernah diculik, dan Pompey akhirnya basmi mereka. Dok: Istimewa.

ROMA, POSNEWS.CO.ID – Saat mendengar kata “bajak laut”, pikiran kita pasti langsung melayang ke Kapten Jack Sparrow atau Blackbeard di Laut Karibia. Kapal layar tinggi dan bendera tengkorak menjadi imajinasi standar.

Namun, ribuan tahun sebelum para perompak Karibia menyebar teror, Laut Mediterania sudah menjadi sarang penyamun yang ganas. Dari milenium pertama hingga ketiga Sebelum Masehi (SM), bajak laut kuno merajarela.

Mereka menyerang kapal dagang dan mengancam jalur perdagangan vital. Meskipun kerajaan-kerajaan kuno telah berusaha keras, pembajakan terus berlanjut tanpa henti selama ribuan tahun.

Barulah ketika bajak laut mengusik kepentingan Republik Romawi, sejarah berubah. Di bawah komando Jenderal Pompey, Roma melancarkan operasi pembersihan total yang legendaris.

Geografi yang Menguntungkan Penjahat

Jejak bajak laut pertama kali tercatat di Mesir Kuno pada masa Firaun Amenhotep III (1390–1353 SM). Akan tetapi, para ahli meyakini praktik ini sudah ada jauh sebelumnya.

Geografi Mediterania memainkan peran kunci. Wilayah ini subur, tetapi memiliki garis pantai yang berbukit dan penuh teluk tersembunyi. Penduduk pesisir sangat bergantung pada laut dan memiliki keahlian navigasi yang mumpuni.

Sayangnya, keahlian itu sering mereka gunakan untuk kejahatan saat masa sulit tiba. Teluk-teluk kecil menjadi tempat persembunyian sempurna untuk menyergap kapal dagang yang lambat.

Baca Juga :  Polri Selamatkan AMK, Anak Korban Kekerasan dan Penelantaran, Kembali ke Keluarga Kandung

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terlebih lagi, kapal kuno belum sanggup menyeberangi laut lepas. Mereka harus berlayar menyusuri pantai. Akibatnya, kapal dagang mudah terjebak di rute yang sudah bajak laut hafal di luar kepala.

Surat Firaun dan Pujian Homer

Firaun Akhenaten pernah mengeluhkan gangguan bajak laut dalam “Surat Amarna”. Ia menyebut dua kelompok perompak, Lukka dan Sherden, yang mengacaukan perdagangan regional meskipun armada Mesir sudah berusaha menghalau.

Berbeda dengan Mesir, bangsa Yunani Kuno justru memiliki pandangan yang lebih lunak. Penulis legendaris Homer bahkan memuji gaya hidup bajak laut dalam karya Iliad dan Odyssey.

Bagi orang Yunani, pembajakan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, pejabat tinggi negara pun tak segan terlibat. Contohnya, pada 355 SM, duta besar Athena membajak kapal dagang dari Mesir untuk memperkaya diri sendiri saat perjalanan dinas!

Pedang Bermata Dua bagi Roma

Bangkitnya kekuatan Roma mengubah dinamika. Awalnya, Roma justru diuntungkan oleh keberadaan bajak laut. Perompak menyediakan pasokan budak yang stabil untuk pertanian dan tambang Romawi.

Baca Juga :  Tolak Pengusiran Paksa: 8 Negara Muslim Kecam Rencana Israel Buka Rafah Satu Arah

Namun, toleransi itu menjadi bumerang. Bajak laut yang semakin berani mulai menyerang kapal gandum vital bagi warga Roma. Puncaknya, mereka menculik tokoh penting Romawi dan meminta tebusan besar.

Korban penculikan paling terkenal adalah Julius Caesar muda pada tahun 75 SM. Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi harga diri Republik.

Operasi Militer Pompey

Roma akhirnya sadar bahwa bajak laut sudah tidak berguna lagi. Pada 67 SM, undang-undang baru memberikan dana dan wewenang besar kepada Jenderal Pompey untuk membasmi ancaman ini.

Strategi Pompey sangat brilian. Ia membagi Mediterania menjadi 13 distrik militer. Lantas, ia menyapu bersih setiap distrik satu per satu dengan armada tempurnya.

Ribuan bajak laut tewas. Namun, Pompey juga menawarkan solusi jangka panjang yang cerdas. Ia memberikan tanah pertanian yang subur di pedalaman kepada bajak laut yang menyerah.

Hasilnya, mantan penjahat laut berubah menjadi petani produktif. Laut Mediterania pun akhirnya aman dan mendapat julukan Mare Nostrum atau “Laut Kami” oleh bangsa Romawi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketua Mahendra Siregar dan Pejabat Tinggi Mundur Massal di Tengah Gejolak Pasar
Tabung Pink Berisi Gas N2O di Kamar Lula Lahfah, Polisi Ungkap Bahaya Euforia Mematikan
Polresta Malang Bongkar 31 Kasus Narkoba Januari 2026, 36 Tersangka Ditangkap
Basarnas Temukan 60 Bodypack Korban Longsor Cisarua, 20 Orang Masih Dicari
Rotasi Kapolda dan Pejabat Mabes Polri, Kapolri Tegaskan Profesionalisme
Rumah Siti Nurbaya Digeledah Kejagung, Fokus Kasus Korupsi Perkebunan Sawit
Bau Sampah Mengganggu, RDF Rorotan Dihentikan Sementara oleh Pemprov DKI
Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:23 WIB

Ketua Mahendra Siregar dan Pejabat Tinggi Mundur Massal di Tengah Gejolak Pasar

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:05 WIB

Tabung Pink Berisi Gas N2O di Kamar Lula Lahfah, Polisi Ungkap Bahaya Euforia Mematikan

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:50 WIB

Polresta Malang Bongkar 31 Kasus Narkoba Januari 2026, 36 Tersangka Ditangkap

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:06 WIB

Basarnas Temukan 60 Bodypack Korban Longsor Cisarua, 20 Orang Masih Dicari

Jumat, 30 Januari 2026 - 19:49 WIB

Rotasi Kapolda dan Pejabat Mabes Polri, Kapolri Tegaskan Profesionalisme

Berita Terbaru