BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Awal dan Lebih Kering, Puncak Agustus

Kamis, 5 Maret 2026 - 09:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PPuncak Kemarau Agustus 2026, 57 Persen Wilayah Alami Durasi Lebih Lama. (Posnews/Ist)

PPuncak Kemarau Agustus 2026, 57 Persen Wilayah Alami Durasi Lebih Lama. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih cepat, berlangsung lebih lama, dan lebih kering dari kondisi normal.

Karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat diminta segera menyiapkan langkah antisipasi.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan pihaknya rutin merilis prediksi iklim untuk mendukung sektor pertanian, sumber daya air, energi, hingga kebencanaan.

Kemarau Mulai April 2026

BMKG mencatat sebagian besar wilayah Indonesia mulai masuk musim kemarau pada April–Juni 2026.

  • April 2026: 114 zona musim (16,3%) mulai kemarau
  • Mei 2026: 184 zona musim (26,3%) menyusul
  • Juni 2026: 163 zona musim (23,3%) terdampak
Baca Juga :  AKP Alex Chandra Resmi Jadi Kapolsek Cabangbungin, Siap Tegakkan Hukum dan Jaga Bekasi Aman

Kemarau akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, lalu bergerak ke barat hingga mencakup sebagian besar Indonesia.

Jika dibandingkan rata-rata klimatologis 1991–2020, sebanyak 325 zona musim (46,5%) mengalami kemarau lebih awal dari biasanya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih Kering dari Normal

Tak hanya lebih cepat, kemarau 2026 juga diprediksi lebih kering. BMKG memperkirakan 451 zona musim (46,5%) mengalami curah hujan kategori bawah normal.

Artinya, banyak daerah berpotensi menghadapi kekeringan lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Puncak Kemarau Agustus 2026

BMKG memproyeksikan puncak kemarau terjadi pada Agustus 2026 di 429 zona musim (61,4%). Bahkan, 410 zona musim (58,7%) diprediksi mencapai puncak lebih awal dari normal.

Baca Juga :  Warteg, Warung Padang, dan Warsun Bisa Kantongi Sertifikat Halal Gratis 2025, Buruan Daftar

Selain itu, durasi kemarau juga lebih panjang. Sebanyak 400 zona musim (57,2%) akan mengalami musim kering lebih lama dari rata-rata.

“Musim kemarau 2026 diperkirakan lebih panjang dari normal,” tegas Teuku.

Dengan kondisi ini, sektor pertanian, perikanan, dan pengelolaan air bersih harus bersiap. Pemerintah daerah perlu memperkuat cadangan air, mempercepat program irigasi, serta mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan.

BMKG berharap prediksi musim kemarau 2026 ini menjadi acuan mitigasi agar dampak kekeringan bisa ditekan sejak dini. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penguasa Padang Rumput: Menelusuri Evolusi dan Sains di Balik Keluarga Bovidae
Imigrasi Bogor Bongkar Sindikat Scam Online 13 WN Jepang di Sentul City
Kasus Utang Berujung Penculikan, Ibu Jadi Otak Aksi di Bangkalan
Sains di Balik Gelitik: Mengapa Kita Tertawa?
Istana Gelar Bukber dengan Ulama Hari Ini, Isu Timur Tengah dan BoP Jadi Sorotan
Bahasa Tanpa Suara: Menyingkap Rahasia Sains di Balik Isyarat Tubuh
Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Sri Lanka Saat NATO Cegat Rudal di Turki
Diduga Curi Labu Siam, Lansia Tewas Dianiaya Tetangga di Cianjur, Pelaku Ditangkap Polisi

Berita Terkait

Kamis, 5 Maret 2026 - 09:27 WIB

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Awal dan Lebih Kering, Puncak Agustus

Kamis, 5 Maret 2026 - 09:19 WIB

Penguasa Padang Rumput: Menelusuri Evolusi dan Sains di Balik Keluarga Bovidae

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:44 WIB

Imigrasi Bogor Bongkar Sindikat Scam Online 13 WN Jepang di Sentul City

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:20 WIB

Kasus Utang Berujung Penculikan, Ibu Jadi Otak Aksi di Bangkalan

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:05 WIB

Sains di Balik Gelitik: Mengapa Kita Tertawa?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Lebih dari sekadar geli. Sains mengungkap bahwa gelitik adalah refleks saraf yang bergantung pada kejutan, sementara humor merupakan proses kognitif kompleks yang melibatkan pusat kesenangan di otak. Dok: Istimewa.

KESEHATAN

Sains di Balik Gelitik: Mengapa Kita Tertawa?

Kamis, 5 Mar 2026 - 08:05 WIB