Sains di Balik Gelitik: Mengapa Kita Tertawa?

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lebih dari sekadar geli. Sains mengungkap bahwa gelitik adalah refleks saraf yang bergantung pada kejutan, sementara humor merupakan proses kognitif kompleks yang melibatkan pusat kesenangan di otak. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Lebih dari sekadar geli. Sains mengungkap bahwa gelitik adalah refleks saraf yang bergantung pada kejutan, sementara humor merupakan proses kognitif kompleks yang melibatkan pusat kesenangan di otak. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Jari yang mendekat ke arah tubuh sering kali memicu reaksi instan: Anda meliuk, melipat torso, dan mencoba menghindar. Namun, begitu sentuhan itu mendarat, Anda meledak dalam tawa yang tak terkendali. Mengapa tubuh kita bereaksi sedemikian hebat terhadap gelitik?

Sains membuktikan bahwa gelitik muncul akibat sensasi ringan di permukaan kulit yang memicu sinyal pada serat saraf. Oleh karena itu, tawa yang dihasilkan bukan sekadar ekspresi kegembiraan, melainkan sebuah koordinasi rumit antara otot, sistem pernapasan, dan aktivitas listrik di pusat saraf kita.

Mekanisme Biologis dan Manfaat Kesehatan

Yngve Zotterman dari Institut Karolinska menemukan bahwa sensasi geli melibatkan sinyal saraf yang berkaitan dengan sentuhan dan nyeri. Menariknya, individu yang kehilangan sensasi nyeri tetap bisa tertawa saat petugas gelitik. Hal ini membuktikan bahwa indra peraba memegang peranan utama dalam fenomena ini.

Selain itu, tertawa memberikan dampak positif yang luar biasa bagi kesehatan. Proses ini meningkatkan tekanan darah dan detak jantung secara sementara, serta merangsang sistem imun. Bahkan, riset menunjukkan bahwa tawa dapat mengurangi ketegangan otot dan menurunkan hormon stres. Dengan demikian, humor bertindak sebagai penawar rasa sakit alami yang membantu otak melawan infeksi secara biologis.

Baca Juga :  Pusat Studi HAM Unika Santu Paulus Ruteng Diresmikan, Perkuat Pengabdian dan Kesadaran HAM

Anatomi Humor: Di Mana Lokasi “Funny Bone”?

Para peneliti kini mulai memetakan jalur humor di dalam otak menggunakan peralatan pemindaian canggih. Hasil investigasi menunjukkan tiga komponen utama yang bekerja:

  • Lobus Frontal: Bertanggung jawab atas pemrosesan kognitif untuk memahami inti dari sebuah lelucon.
  • Area Motorik Tambahan: Mengatur gerakan fisik tawa dan ekspresi wajah.
  • Nucleus Accumbens: Pusat kesenangan yang memberikan rasa puas dan “kecanduan” terhadap humor.

Dr. Shibata dari University of Rochester menemukan bahwa area spesifik di lobus frontal kanan, tepat di atas mata kanan, sangat krusial dalam mengenali lelucon. Kerusakan pada area ini dapat menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan antara situasi yang lucu dan yang tidak.

Misteri Gelitik Mandiri: Mengapa Kita Tidak Bisa?

Pertanyaan klasik yang sering muncul adalah mengapa kita tidak bisa menggelitik diri sendiri. Charles Darwin pernah berteori bahwa gelitik membutuhkan unsur kejutan dan antisipasi kesenangan. Namun, penjelasan medis yang lebih modern merujuk pada peran otak kecil (cerebellum).

Baca Juga :  PM Denmark Akui Ambisi AS Caplok Greenland Masih Membara

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pasalnya, saat Anda mencoba menggelitik diri sendiri, otak kecil sudah memprediksi sensasi tersebut. Ia segera mengirimkan instruksi kepada korteks somatosensori untuk mengabaikan atau meredam rangsangan tersebut. “Itu hanya gerakanmu sendiri, jangan terlalu bersemangat,” begitulah pesan yang otak kirimkan secara internal. Akibatnya, tidak ada ketegangan atau kejutan yang tercipta, sehingga tawa pun tidak akan muncul.

Harapan Baru untuk Penderita Depresi

Penelitian mengenai mekanisme humor ini membawa angin segar bagi dunia psikiatri. Para ahli menemukan bahwa bagian otak yang aktif saat kita tertawa justru menunjukkan aktivitas abnormal pada penderita depresi.

Oleh sebab itu, di masa depan, pemindaian otak dapat petugas gunakan untuk menilai tingkat keparahan gangguan suasana hati (mood disorders). Selanjutnya, pemahaman ini juga menjelaskan mengapa korban stroke terkadang mengalami perubahan kepribadian atau kehilangan selera humor. Melalui pemetaan “Funny Bone” digital, sains terus berupaya mencari solusi medis yang lebih humanis guna meningkatkan kualitas hidup manusia di era modern 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hati-hati! Jual atau Pinjamkan Rekening Tetap Bisa Dipidana
Dituding Punya 750 Dapur MBG, Uya Kuya Tempuh Jalur Hukum
BBM Nonsubsidi Naik, Gubernur DKI Siapkan Jurus Paksa Warga Beralih ke Transportasi Umum
Tawuran Pelajar di Dramaga Bogor Berujung Maut, Siswa MTs Tewas Dibacok
Polisi Gerebek Jaringan Obat Keras Ilegal di Sawah Besar, 31.997 Butir Disita – 5 Orang Diciduk
Bareskrim Bongkar Sindikat Dolar Palsu di Banten, 5 Pelaku Diciduk dan Jaringan Diburu
Kampung Kadaung Terparah, Banjir Rendam Ratusan Rumah di Cigudeg
Kontroversi Pembasmian Ikan Sapu-Sapu, MUI Soroti Unsur Penyiksaan

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 17:29 WIB

Hati-hati! Jual atau Pinjamkan Rekening Tetap Bisa Dipidana

Minggu, 19 April 2026 - 16:47 WIB

Dituding Punya 750 Dapur MBG, Uya Kuya Tempuh Jalur Hukum

Minggu, 19 April 2026 - 16:31 WIB

BBM Nonsubsidi Naik, Gubernur DKI Siapkan Jurus Paksa Warga Beralih ke Transportasi Umum

Minggu, 19 April 2026 - 16:18 WIB

Tawuran Pelajar di Dramaga Bogor Berujung Maut, Siswa MTs Tewas Dibacok

Minggu, 19 April 2026 - 15:24 WIB

Bareskrim Bongkar Sindikat Dolar Palsu di Banten, 5 Pelaku Diciduk dan Jaringan Diburu

Berita Terbaru

Nama Dicatut, Uya Kuya Laporkan Penyebar Berita Bohong. (Posnews/Instagram)

HUKRIM

Dituding Punya 750 Dapur MBG, Uya Kuya Tempuh Jalur Hukum

Minggu, 19 Apr 2026 - 16:47 WIB