BEIJING/TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – China akhirnya turun tangan di tengah memanasnya situasi geopolitik Timur Tengah. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyerukan perdamaian kepada semua pihak yang terlibat dalam situasi Iran pada hari Kamis (15/1).
Wang Yi menyampaikan pernyataan ini dalam percakapan telepon strategis dengan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi. Wang Yi juga menjabat sebagai anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis China. Ia menegaskan bahwa Beijing selalu berpegang teguh pada tujuan Piagam PBB dan hukum internasional.
Namun, Wang menyelipkan pesan terkuat dalam kritiknya terhadap unilateralisme.
“China menentang penggunaan atau ancaman kekuatan dalam hubungan internasional, pemaksaan kehendak satu pihak kepada pihak lain, dan kembalinya ke ‘hukum rimba’,” tegas Wang.
Pengamat membaca istilah “hukum rimba” ini sebagai sindiran tajam. Kritik ini menyasar ancaman intervensi militer dan sanksi ekonomi Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dukungan untuk Stabilitas Nasional
Wang Yi menyatakan keyakinannya terhadap persatuan pemerintah dan rakyat Iran. Ia yakin mereka mampu mengatasi kesulitan saat ini. Ia menegaskan dukungan China terhadap upaya Iran menjaga stabilitas nasional serta melindungi hak mereka.
“China bersedia memainkan peran konstruktif dalam proses ini,” tambahnya. Pernyataan ini menandakan kesiapan Beijing untuk menjadi penyeimbang diplomatik di kawasan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di ujung telepon yang lain, Menlu Iran Abbas Araghchi memberikan pengarahan mengenai situasi terkini. Ia menekankan bahwa “kekuatan eksternal” telah menghasut kerusuhan baru-baru ini. Araghchi juga mengklaim bahwa stabilitas kini telah pulih.
“Iran siap menanggapi campur tangan eksternal apa pun. Namun, kami tetap membuka pintu untuk dialog,” ujar Araghchi. Ia juga secara spesifik berharap China dapat memainkan peran lebih besar dalam mempromosikan perdamaian regional.
Medan Baru Rivalitas AS-China
Panggilan telepon ini bukan sekadar pertukaran kabar diplomatik biasa. Ini adalah manuver strategis dalam papan catur kompetisi kekuatan besar (Great Power Competition) antara Amerika Serikat dan China.
1. Pertarungan Narasi Ketertiban Dunia Wang Yi membongkar narasi Amerika Serikat saat menolak “hukum rimba”. AS sering menggaungkan “tatanan berbasis aturan” (rules-based order), yang sering kali berarti aturan buatan Barat. Sebaliknya, China menawarkan narasi tandingan: tatanan berdasarkan hukum internasional dan non-intervensi. China memosisikan dirinya sebagai pelindung kedaulatan negara-negara berkembang dari “agresi” Barat.
2. Timur Tengah sebagai Garis Depan Baru Secara historis, Timur Tengah adalah halaman belakang keamanan Amerika Serikat. Namun, China kini makin agresif masuk. Mereka tidak datang dengan kapal induk, melainkan dengan diplomasi dan ekonomi. Beijing sukses memediasi pemulihan hubungan Saudi-Iran beberapa tahun lalu. Kini, mereka memosisikan diri sebagai “kakak pelindung” bagi Iran saat Washington mengisolasi Teheran.
3. Pragmatisme vs Idealisme Bagi AS, Iran adalah masalah ideologis dan keamanan yang harus mereka selesaikan, bahkan dengan opsi militer. Bagi China, Iran adalah mitra strategis dalam inisiatif Belt and Road dan penyedia energi vital. China mendukung Iran untuk mengamankan pasokan energinya. Beijing juga mengirim pesan kepada negara-negara Global South lainnya: Kami adalah mitra yang tidak akan meninggalkan kalian saat Barat menjatuhkan sanksi.
Langkah China ini memperumit kalkulasi militer AS. Menyerang Iran kini berisiko memicu perang regional. Selain itu, aksi tersebut dapat merusak hubungan dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















