BOSTON, POSNEWS.CO.ID – Hingga baru-baru ini, kekayaan manusia—kebanyakan berupa koin dan permata—disimpan secara fisik di bawah kunci dan gembok. Keluarga kaya abad pertengahan mengandalkan kotak besi (strongbox) dengan kunci besar yang disembunyikan dengan hati-hati.
Prinsip serupa berlaku untuk pesan rahasia diplomatik. Pengirim dan penerima harus memegang kunci kode yang sama. Ini memicu perlombaan senjata panjang antara pembuat kode dan pemecah kode.
Namun hari ini, medan perang telah berubah. Uang kita bukan lagi logam di dalam peti, melainkan informasi digital di server bank. Kriptografi, seni menyandikan pesan, kini menjadi pusat dari bagaimana uang kita tetap aman, meskipun kita jarang menyadarinya.
Kartu kredit Anda dengan 16 digit angka, chip pintar, dan PIN adalah manifestasi modern dari kunci-kunci tersebut. Namun, cara kerjanya jauh lebih canggih daripada sekadar menyembunyikan kunci di bawah pot bunga.
Revolusi 1970-an: Dua Kunci Lebih Baik dari Satu
Kelemahan utama sistem tradisional adalah distribusi kunci. Agar pesan aman, pengirim harus memberikan kunci rahasia kepada penerima terlebih dahulu. Proses pengiriman kunci ini sendiri adalah risiko keamanan besar.
Pada tahun 1970-an, pendekatan radikal muncul. Ide utamanya adalah setiap pengguna—mari kita sebut dia Amir—memiliki dua kunci: kunci publik dan kunci privat.
Konsepnya jenius namun sederhana:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
- Kunci Publik: Digunakan oleh orang lain untuk mengenkripsi (mengunci) pesan yang ingin mereka kirim ke Amir.
- Kunci Privat: Disimpan rahasia oleh Amir dan digunakan untuk mendekripsi (membuka) pesan tersebut.
Keamanan sistem ini bergantung sepenuhnya pada kerahasiaan kunci privat Amir. Tidak perlu lagi ada kurir yang membawa buku kode rahasia melintasi perbatasan musuh.
Matematika RSA: Benteng Digital
Sistem ini dikenal sebagai RSA, diambil dari nama pengembangnya: Ronald Rivest, Adi Shamir, dan Leonard Adleman. Dikembangkan pada akhir 1970-an, RSA bekerja berdasarkan algoritma matematika yang melibatkan dua bilangan prima besar.
Kekuatan RSA terletak pada ketidakseimbangannya. Enkripsi dan dekripsi sangat efisien bagi pengguna yang memiliki kunci. Namun, bagi peretas yang mencoba membobol tanpa kunci privat, matematika di baliknya menjadi mimpi buruk.
Tantangan 17 Tahun
Seberapa aman sistem ini? Ketika RSA pertama kali dibahas di Scientific American, para pengembang menantang pembaca untuk menemukan faktor prima (dua angka asli) dari sebuah bilangan acak dengan 129 digit.
Tugas itu terdengar sederhana, namun nyatanya sangat brutal. Dunia membutuhkan waktu 17 tahun dan upaya gabungan lebih dari 600 orang untuk memecahkan masalah tersebut.
Dengan menggunakan matematika sebagai perisai, para ilmuwan dan teknolog telah memungkinkan kita menyimpan uang seaman para baron abad pertengahan dengan kotak besi mereka. Bedanya, kunci kita kini tersimpan dalam deretan angka, bukan di saku jubah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















