Dari Kotak Besi Abad Pertengahan hingga Algoritma RSA

Minggu, 25 Januari 2026 - 18:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dulu orang kaya menyembunyikan kunci fisik di tempat rahasia. Kini, keamanan finansial Anda bergantung pada dua bilangan prima dan algoritma matematika yang rumit. Dok; Istimewa.

Ilustrasi, Dulu orang kaya menyembunyikan kunci fisik di tempat rahasia. Kini, keamanan finansial Anda bergantung pada dua bilangan prima dan algoritma matematika yang rumit. Dok; Istimewa.

BOSTON, POSNEWS.CO.ID – Hingga baru-baru ini, kekayaan manusia—kebanyakan berupa koin dan permata—disimpan secara fisik di bawah kunci dan gembok. Keluarga kaya abad pertengahan mengandalkan kotak besi (strongbox) dengan kunci besar yang disembunyikan dengan hati-hati.

Prinsip serupa berlaku untuk pesan rahasia diplomatik. Pengirim dan penerima harus memegang kunci kode yang sama. Ini memicu perlombaan senjata panjang antara pembuat kode dan pemecah kode.

Namun hari ini, medan perang telah berubah. Uang kita bukan lagi logam di dalam peti, melainkan informasi digital di server bank. Kriptografi, seni menyandikan pesan, kini menjadi pusat dari bagaimana uang kita tetap aman, meskipun kita jarang menyadarinya.

Kartu kredit Anda dengan 16 digit angka, chip pintar, dan PIN adalah manifestasi modern dari kunci-kunci tersebut. Namun, cara kerjanya jauh lebih canggih daripada sekadar menyembunyikan kunci di bawah pot bunga.

Revolusi 1970-an: Dua Kunci Lebih Baik dari Satu

Kelemahan utama sistem tradisional adalah distribusi kunci. Agar pesan aman, pengirim harus memberikan kunci rahasia kepada penerima terlebih dahulu. Proses pengiriman kunci ini sendiri adalah risiko keamanan besar.

Baca Juga :  Bahasa Tanpa Suara: Menyingkap Rahasia Sains di Balik Isyarat Tubuh

Pada tahun 1970-an, pendekatan radikal muncul. Ide utamanya adalah setiap pengguna—mari kita sebut dia Amir—memiliki dua kunci: kunci publik dan kunci privat.

Konsepnya jenius namun sederhana:

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

  • Kunci Publik: Digunakan oleh orang lain untuk mengenkripsi (mengunci) pesan yang ingin mereka kirim ke Amir.
  • Kunci Privat: Disimpan rahasia oleh Amir dan digunakan untuk mendekripsi (membuka) pesan tersebut.

Keamanan sistem ini bergantung sepenuhnya pada kerahasiaan kunci privat Amir. Tidak perlu lagi ada kurir yang membawa buku kode rahasia melintasi perbatasan musuh.

Matematika RSA: Benteng Digital

Sistem ini dikenal sebagai RSA, diambil dari nama pengembangnya: Ronald Rivest, Adi Shamir, dan Leonard Adleman. Dikembangkan pada akhir 1970-an, RSA bekerja berdasarkan algoritma matematika yang melibatkan dua bilangan prima besar.

Baca Juga :  Bareskrim Polri Sikat 30.000 Pil Ekstasi di Pelalawan Riau, Nilai Rp30 Miliar

Kekuatan RSA terletak pada ketidakseimbangannya. Enkripsi dan dekripsi sangat efisien bagi pengguna yang memiliki kunci. Namun, bagi peretas yang mencoba membobol tanpa kunci privat, matematika di baliknya menjadi mimpi buruk.

Tantangan 17 Tahun

Seberapa aman sistem ini? Ketika RSA pertama kali dibahas di Scientific American, para pengembang menantang pembaca untuk menemukan faktor prima (dua angka asli) dari sebuah bilangan acak dengan 129 digit.

Tugas itu terdengar sederhana, namun nyatanya sangat brutal. Dunia membutuhkan waktu 17 tahun dan upaya gabungan lebih dari 600 orang untuk memecahkan masalah tersebut.

Dengan menggunakan matematika sebagai perisai, para ilmuwan dan teknolog telah memungkinkan kita menyimpan uang seaman para baron abad pertengahan dengan kotak besi mereka. Bedanya, kunci kita kini tersimpan dalam deretan angka, bukan di saku jubah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sadis! Perampok Pukuli Lansia di Cileungsi hingga Tuli, Ternyata Sudah Beraksi di 50 TKP
Mudik Lebaran 2026 Lebih Mudah, ASDP Hapus Batas Jarak Pembelian Tiket Kapal
Polisi Sita 14 Ton Daging Domba Kedaluwarsa Impor Australia yang Siap Dijual Saat Lebaran
Cuaca Indonesia Selasa 17 Maret 2026: Jabodetabek Berawan, Hujan Mengintai Sore Hari
Jakarta Gelar Car Free Night dan Pawai Obor Raksasa Saat Malam Takbiran
Polisi Sita 86 CCTV Kasus Aktivis KontraS Andrie Yunus, Ribuan Rekaman Dibedah
Diskotek di Denpasar Jadi Sarang Ekstasi, Bareskrim Polri Amankan Ratusan Pil XTC
Kapolri Cek Kesiapan Arus Mudik di Tol Kalikangkung, Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Nasional

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 05:30 WIB

Sadis! Perampok Pukuli Lansia di Cileungsi hingga Tuli, Ternyata Sudah Beraksi di 50 TKP

Selasa, 17 Maret 2026 - 05:13 WIB

Mudik Lebaran 2026 Lebih Mudah, ASDP Hapus Batas Jarak Pembelian Tiket Kapal

Selasa, 17 Maret 2026 - 04:57 WIB

Polisi Sita 14 Ton Daging Domba Kedaluwarsa Impor Australia yang Siap Dijual Saat Lebaran

Selasa, 17 Maret 2026 - 03:59 WIB

Cuaca Indonesia Selasa 17 Maret 2026: Jabodetabek Berawan, Hujan Mengintai Sore Hari

Senin, 16 Maret 2026 - 22:02 WIB

Jakarta Gelar Car Free Night dan Pawai Obor Raksasa Saat Malam Takbiran

Berita Terbaru