Debat Panas PBB: AS dan Sekutu Barat Bentrok dengan Rusia-China soal Nuklir Iran

Jumat, 13 Maret 2026 - 17:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pecah kongsi di Dewan Keamanan. Amerika Serikat menuduh Rusia dan China melindungi program nuklir Iran, sementara Moskow menyebut Washington menebar

Pecah kongsi di Dewan Keamanan. Amerika Serikat menuduh Rusia dan China melindungi program nuklir Iran, sementara Moskow menyebut Washington menebar "histeria" untuk membenarkan perang. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat dan sekutu Barat terlibat bentrokan diplomatik sengit dengan Rusia dan China di markas PBB pada Kamis. Washington menggunakan panggung Dewan Keamanan untuk memperkuat pembenaran atas perang yang mereka luncurkan terhadap Iran. Perdebatan ini menyoroti perpecahan tajam mengenai ambisi nuklir Teheran.

Rusia dan China sempat mencoba memblokir diskusi mengenai Komite 1737 yang bertugas mengawasi sanksi PBB terhadap Iran. Namun, upaya tersebut gagal setelah pemungutan suara berakhir dengan skor 11-2 untuk keunggulan AS. Washington pun melangkah maju untuk menekan penegakan embargo senjata dan pembekuan aset keuangan Iran.

Tuduhan Perlindungan terhadap Teheran

Utusan AS untuk PBB, Mike Waltz, melontarkan tuduhan keras terhadap Moskow dan Beijing. Ia menuduh kedua negara tersebut sengaja menghalangi kerja komite sanksi untuk melindungi mitra mereka, Iran. Menurut Waltz, semua anggota PBB seharusnya menerapkan embargo senjata dan melarang perdagangan teknologi rudal dengan Teheran.

Baca Juga :  Eksepsi Ditolak, Dua Bos Sritex Tetap Diadili Kasus Korupsi Kredit Rp1,3 Triliun

Waltz menegaskan bahwa sanksi tersebut bertujuan untuk mengatasi ancaman program nuklir dan dukungan Iran terhadap terorisme. Ia merujuk pada laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang menyebut Iran telah memperkaya uranium hingga 60 persen. Sejauh ini, Iran menjadi satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang memiliki stok uranium pada tingkat setinggi itu.

Rusia dan China Sebut AS Tebar Histeria

Duta Besar Rusia, Vasily Nebenzya, membalas tuduhan tersebut dengan menyebut AS sedang memicu “histeria”. Ia berpendapat bahwa rencana Iran untuk memiliki senjata nuklir tidak pernah terbukti dalam laporan IAEA. Menurutnya, Washington sengaja menciptakan narasi tersebut untuk membenarkan petualangan militer baru di Timur Tengah.

Senada dengan Rusia, perwakilan China Fu Cong menyebut Washington sebagai “penghasut” krisis nuklir Iran. China menilai AS menggunakan kekuatan militer secara terang-terangan saat proses negosiasi masih berlangsung. Tindakan ini dianggap merusak upaya diplomatik yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Baca Juga :  Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Dukungan Sekutu dan Ambang Batas Nuklir

Inggris dan Prancis berdiri kokoh di samping Amerika Serikat. Mereka menegaskan bahwa pengenaan kembali sanksi terhadap Iran sangat beralasan. Prancis bahkan menyatakan bahwa IAEA tidak lagi mampu menjamin sifat damai dari program nuklir Teheran.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan laporan intelijen Barat, stok nuklir Iran saat ini sudah cukup untuk memproduksi sepuluh perangkat nuklir. Meskipun Presiden Donald Trump mengeklaim Iran bisa memiliki senjata nuklir dalam dua minggu, beberapa sumber intelijen AS menyebut klaim tersebut berlebihan. Namun, Washington tetap menjadikan risiko nuklir ini sebagai alasan utama untuk menghancurkan situs-situs strategis di Iran.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Integrasi Regional: Belajar dari Uni Eropa dalam Menghapus Warisan Konflik Berabad-abad
Hukum Internasional sebagai Panglima: Menegakkan Keadilan di Tengah Krisis Kemanusiaan
Diplomasi Jalur Dua: Peran Aktor Non-Negara dalam Menjembatani Konflik Antarnegara
Beirut Membara: Serangan Israel Sasar Jantung Kota, 800 Ribu Warga Lebanon Mengungsi
Mojtaba Khamenei Bersumpah Tutup Selat Hormuz
Korea Utara Tuduh Tokyo Persiapkan Invasi Ulang
Diplomasi di Tengah Krisis: Misi Sulit Sanae Takaichi Menemui Donald Trump
Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran 4,3 Kg Ganja di Depok, Satu Pengedar Ditangkap

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 19:15 WIB

Integrasi Regional: Belajar dari Uni Eropa dalam Menghapus Warisan Konflik Berabad-abad

Jumat, 13 Maret 2026 - 18:10 WIB

Hukum Internasional sebagai Panglima: Menegakkan Keadilan di Tengah Krisis Kemanusiaan

Jumat, 13 Maret 2026 - 17:30 WIB

Debat Panas PBB: AS dan Sekutu Barat Bentrok dengan Rusia-China soal Nuklir Iran

Jumat, 13 Maret 2026 - 17:08 WIB

Diplomasi Jalur Dua: Peran Aktor Non-Negara dalam Menjembatani Konflik Antarnegara

Jumat, 13 Maret 2026 - 16:30 WIB

Beirut Membara: Serangan Israel Sasar Jantung Kota, 800 Ribu Warga Lebanon Mengungsi

Berita Terbaru