Deregulasi Terbesar AS: Trump Cabut Landasan Hukum Aturan Emisi Era Obama

Jumat, 13 Februari 2026 - 15:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Runtuhnya pilar aturan iklim. Presiden Donald Trump mencabut

Runtuhnya pilar aturan iklim. Presiden Donald Trump mencabut "Endangerment Finding" 2009, sebuah langkah deregulasi terbesar yang menghapus kewajiban hukum pemerintah federal untuk membatasi gas rumah kaca. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump mengumumkan pencabutan kebijakan iklim krusial era Obama pada Kamis. Langkah ini secara otomatis meruntuhkan fondasi hukum bagi seluruh regulasi emisi gas rumah kaca di tingkat federal.

Bersama Administrator EPA Lee Zeldin, Trump meluncurkan keputusan tersebut di Gedung Putih. Ia melabeli kebijakan ini sebagai langkah deregulasi paling masif dalam sejarah Amerika Serikat. Penghapusan aturan ini menyasar “Temuan Bahaya” (Endangerment Finding) yang telah berlaku sejak tahun 2009.

Mengakhiri Warisan Iklim Obama

Temuan tahun 2009 tersebut menyimpulkan bahwa karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya mengancam kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah federal selama ini menggunakan aturan tersebut untuk membatasi emisi knalpot kendaraan dan pembangkit listrik.

“Kami secara resmi mengakhiri apa yang disebut sebagai temuan bahaya ini,” tegas Trump dalam konferensi pers. Ia menyebut kebijakan era Obama tersebut sebagai bencana yang merusak industri otomotif Amerika. Trump berpendapat bahwa temuan itu tidak memiliki basis hukum maupun fakta yang kuat. Sebaliknya, ia memuji bahan bakar fosil sebagai penyelamat jutaan nyawa dari kemiskinan di seluruh dunia.

Baca Juga :  Cerai Dengan Atalia Praratya, Ridwan Kamil Resmi Menduda - Akhiri Pernikahan 29 Tahun

Reaksi Keras Obama dan Komunitas Sains

Mantan Presiden Barack Obama segera memberikan respons melalui platform X. Ia menegaskan bahwa tanpa aturan tersebut, tingkat keamanan dan kesehatan masyarakat akan menurun. Obama menuduh langkah ini bertujuan semata-mata agar industri bahan bakar fosil bisa meraup keuntungan lebih besar.

Dunia sains juga bereaksi dengan nada tidak percaya. Profesor Howard Frumkin dari University of Washington mengibaratkan pencabutan ini dengan tindakan “mengeklaim bumi itu datar” atau menyangkal hukum gravitasi. Sementara itu, Dr. Jonathan Patz memperingatkan bahwa risiko kesehatan meningkat karena perubahan iklim sudah terjadi secara nyata. Ia mencontohkan fenomena heat dome tahun 2021 yang menewaskan lebih dari 600 orang sebagai bukti dampak emisi yang tidak terkendali.

Baca Juga :  Polisi Ungkap Motif Kakak Kelas Hajar Siswa SMK di Cikarang Barat

Isolasi Iklim Amerika Serikat

Langkah terbaru ini semakin mempertegas posisi skeptis Trump terhadap energi terbarukan. Sebelumnya, Trump sering menyebut perubahan iklim sebagai sebuah “penipuan”. Arah kebijakan ini juga membawa konsekuensi diplomatik yang serius bagi Washington.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada November lalu, Amerika Serikat absen dalam konferensi iklim tahunan PBB di Brasil untuk pertama kalinya dalam 30 tahun. Selain itu, pada Januari 2025, Trump kembali menarik AS keluar dari Perjanjian Paris. Trump juga menyatakan niatnya untuk meninggalkan berbagai badan internasional, termasuk UNFCCC dan IPCC. Padahal, lembaga-lembaga tersebut mewajibkan negara industri untuk mengurangi emisi dan memberikan bantuan finansial bagi negara berkembang guna menghadapi krisis lingkungan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolres Bima Kota Terseret Aliran Dana Narkoba, Mabes Polri Gas Pidana dan Etik
5 Bulan Berlalu, Laporan Penamparan Siswa SD Tunas Karya 3 Belum Ada Perkembangan
Upaya Redam Krisis Greenland dan Pertegas Peran Eropa
Eskalasi Laut China Timur: Jepang Sita Kapal Nelayan Tiongkok
Laporan Fed New York Ungkap Konsumen AS Tanggung Biaya Terbesar
Pemprov DKI Siapkan 661 Bus dan Kuota 26.500 Peserta Mudik Gratis Lebaran 2026
Dua Pencuri Besi Jembatan di Sunter Positif Narkoba, Polres Jakut Dalami Jaringan
Satu Bulan untuk Kesepakatan Iran atau Hadapi Konsekuensi Traumatis

Berita Terkait

Jumat, 13 Februari 2026 - 17:52 WIB

Kapolres Bima Kota Terseret Aliran Dana Narkoba, Mabes Polri Gas Pidana dan Etik

Jumat, 13 Februari 2026 - 17:34 WIB

5 Bulan Berlalu, Laporan Penamparan Siswa SD Tunas Karya 3 Belum Ada Perkembangan

Jumat, 13 Februari 2026 - 17:23 WIB

Upaya Redam Krisis Greenland dan Pertegas Peran Eropa

Jumat, 13 Februari 2026 - 16:20 WIB

Eskalasi Laut China Timur: Jepang Sita Kapal Nelayan Tiongkok

Jumat, 13 Februari 2026 - 15:16 WIB

Deregulasi Terbesar AS: Trump Cabut Landasan Hukum Aturan Emisi Era Obama

Berita Terbaru

Konflik Arktik memicu perang dagang. Trump tetapkan tenggat waktu Februari untuk aneksasi Greenland atau hadapi tarif impor, membuat Eropa bersatu melawan

INTERNASIONAL

Upaya Redam Krisis Greenland dan Pertegas Peran Eropa

Jumat, 13 Feb 2026 - 17:23 WIB

Ilustrasi, Runtuhnya pilar aturan iklim. Presiden Donald Trump mencabut

INTERNASIONAL

Eskalasi Laut China Timur: Jepang Sita Kapal Nelayan Tiongkok

Jumat, 13 Feb 2026 - 16:20 WIB