Di Tengah Kebuntuan: Trump Evaluasi Proposal Perundingan Bertahap Iran

Selasa, 28 April 2026 - 12:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kemenangan bagi hak pilih warga. Hakim federal Boston Denise Casper membatalkan secara permanen aturan bukti kewarganegaraan pemilih yang Donald Trump usulkan. Dok: Istimewa.

Kemenangan bagi hak pilih warga. Hakim federal Boston Denise Casper membatalkan secara permanen aturan bukti kewarganegaraan pemilih yang Donald Trump usulkan. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki babak baru perundingan. Presiden Donald Trump bertemu dengan para penasihat keamanan nasional pada Senin pagi untuk mengevaluasi draf perdamaian yang diajukan oleh pihak Teheran.

Meskipun gencatan senjata sementara telah menghentikan serangan udara sejak akhir Februari, kedua pihak masih terjebak dalam kebuntuan diplomatik. Kebuntuan ini berdampak langsung pada pasokan energi regional yang kini terus berkurang secara signifikan.

Strategi Bertahap Iran: Poin Ganjal Isu Nuklir

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, membawa proposal perdamaian melalui mediator Pakistan di Islamabad. Skema tersebut mengusulkan penyelesaian konflik dalam beberapa tahap. Tahap awal menuntut penghentian total perang U.S.-Israel terhadap Iran disertai jaminan keamanan permanen bagi Teheran.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah perang berakhir, perundingan akan berlanjut pada penyelesaian blokade AS dan pengaturan ulang kendali Selat Hormuz. Namun, poin yang paling kontroversial adalah keinginan Iran untuk menunda diskusi program nuklir hingga tahap akhir. Teheran juga masih menuntut pengakuan AS atas hak pengayaan uranium mereka untuk tujuan damai.

Baca Juga :  Inggris Gagal Tundukkan Ghana pada Laga Kedua

Skeptisisme Washington: Taktik Mengulur Waktu

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan keraguannya terhadap niat tulus Iran dalam proposal tersebut. Dalam sebuah wawancara, Rubio menilai Teheran hanya mencoba membeli waktu untuk memperkuat posisi mereka. “Kami tidak bisa membiarkan mereka lolos begitu saja dengan taktik ini,” tegas Rubio.

Ia menambahkan bahwa Iran adalah negosiator yang sangat berpengalaman. Oleh karena itu, Washington bersikeras bahwa setiap kesepakatan harus mencakup jaminan yang mencegah Iran mempercepat pengembangan senjata nuklir sejak awal perundingan. Tanpa poin ini, Washington sulit menerima tawaran tersebut.

Dampak Ekonomi: Kelumpuhan Selat Hormuz dan Harga Minyak

Ketegangan militer ini memberikan pukulan telak bagi pasar energi internasional. Harga minyak mentah kembali melambung ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir pada hari Senin. Penyebab utamanya adalah kemacetan total di Selat Hormuz akibat blokade yang dilakukan oleh kedua belah pihak.

Data pelacakan kapal menunjukkan penurunan drastis aktivitas pelayaran. Jika sebelum perang terdapat 140 kapal yang melintas setiap hari, kini hanya tersisa tujuh kapal yang berani melewati selat tersebut. Blokade AS juga telah memaksa setidaknya enam kapal tanker minyak Iran untuk kembali ke pelabuhan asal mereka dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga :  Bareskrim Selidiki 95 Ekspor Sawit ke China, Bos PT MMS Resmi Ditahan

Jalur Diplomasi: Peran Rusia dan Pakistan

Di saat diplomasi tatap muka dengan AS terhenti, Iran mulai mencari dukungan dari sekutu lamanya. Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi terbang ke Rusia pada hari Senin untuk menemui Presiden Vladimir Putin setelah sebelumnya mengunjungi Oman. Rusia dikabarkan memberikan dukungan diplomatik penuh terhadap posisi Teheran dalam konflik ini.

Sementara itu, di Pakistan, perundingan jarak jauh tetap berlangsung meskipun Trump membatalkan kunjungan utusan khususnya ke Islamabad akhir pekan lalu. Pejabat Pakistan menyatakan bahwa pertemuan fisik tidak akan terjadi sampai kedua pihak mendekati kesepakatan tertulis.

Kesimpulan: Tekanan Domestik bagi Gedung Putih

Presiden Trump kini menghadapi tekanan domestik yang semakin besar untuk mengakhiri konflik yang tidak populer ini. Penurunan tingkat kepuasan publik memaksa Gedung Putih untuk segera menemukan solusi yang mampu menstabilkan harga energi tanpa terlihat lemah di hadapan Iran.

Dengan Selat Hormuz yang menguasai seperlima pengiriman minyak global kini nyaris lumpuh, waktu menjadi faktor krusial. Keputusan yang diambil Trump dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah dunia akan menuju perdamaian permanen atau eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride
Pelaku Lepaskan Tembakan ke Gedung Konsulat AS

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:08 WIB

Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai

Berita Terbaru

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB