JENEWA, POSNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, bertolak menuju Jenewa pada Rabu guna memimpin delegasi dalam putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung dengan Amerika Serikat. Pertemuan krusial ini dijadwalkan berlangsung pada hari Kamis (26/2).
Melalui unggahan di platform X pada Selasa, Araghchi menegaskan bahwa Iran mendekati perundingan ini dengan tekad bulat. Oleh karena itu, ia berupaya mengejar kesepakatan yang “adil dan merata” secepat mungkin guna mengakhiri ketegangan diplomatik yang telah berlangsung lama.
Ketegasan Washington: “Tanpa Senjata Nuklir”
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat terus mempertegas batasan-batasan strategisnya. Wakil Presiden AS, JD Vance, mengulangi posisi resmi Washington mengenai isu ini pada Rabu.
“Prinsipnya sangat sederhana: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegas Vance. Selain itu, kepemilikan rudal balistik oleh Iran tetap menjadi kekhawatiran utama bagi keamanan nasional Amerika. Menteri Luar Negeri Marco Rubio bahkan melabeli Iran sebagai “ancaman serius”. Ia enggan menganggap pembicaraan hari Kamis sebagai hal lain selain kesempatan tambahan untuk berdialog di tengah kebuntuan yang ada.
Tuntutan Permanen dan Tekanan Sanksi Baru
Laporan internal mengungkapkan bahwa administrasi Donald Trump menginginkan konsesi yang jauh lebih berat dari Teheran. Utusan khusus Gedung Putih untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengisyaratkan tuntutan tersebut dalam sebuah pertemuan tertutup pada Selasa malam.
Berdasarkan laporan media, Washington menuntut agar Iran menyetujui bahwa setiap kesepakatan nuklir di masa depan harus tetap berlaku tanpa batas waktu (indefinitely). Selanjutnya, satu hari menjelang perundingan, Amerika Serikat secara mendadak meluncurkan gelombang sanksi baru. Sanksi tersebut menyasar lebih dari 30 entitas, individu, dan kapal yang petugas nilai berkaitan dengan jaringan pendanaan atau aktivitas nuklir terlarang Iran.
Analisis Strategis: Diplomasi di Bawah Tekanan
Langkah Washington yang menjatuhkan sanksi tepat sebelum pertemuan petugas prediksikan sebagai strategi “tekanan maksimal”. Langkah ini bertujuan untuk memperlemah posisi tawar Iran di meja perundingan. Meskipun begitu, Araghchi tetap menekankan bahwa kesepakatan masih mungkin tercapai jika semua pihak menjunjung tinggi kedaulatan dan keadilan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada akhirnya, dunia kini menanti hasil dari perundingan hari Kamis di Jenewa. Apakah kehadiran delegasi tingkat tinggi ini mampu meredam risiko eskalasi militer di Timur Tengah atau justru mempertegas garis konfrontasi baru antara Washington dan Teheran di tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















