Drama Internal PBNU Memanas, Gus Yahya Bongkar Manuver Politik di Balik Rapat Pleno

Selasa, 9 Desember 2025 - 21:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menyampaikan pernyataan resmi terkait polemik internal dan rencana Muktamar PBNU di Kantor PBNU Jakarta.
(Posnews/Ist)

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menyampaikan pernyataan resmi terkait polemik internal dan rencana Muktamar PBNU di Kantor PBNU Jakarta. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Persiteruan internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali memanas. Kedua belah pihak sama-sama mengklaim sebagai yang paling benar.

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), akhirnya buka suara soal rapat pleno di Hotel Sultan yang kabarnya bakal menentukan Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU, Selasa (5/12/2025).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menilai gerakan itu sebagai manuver politik penuh kepentingan. “Saya Masih Ketum PBNU yang Sah”

Gus Yahya menegaskan secara administratif dan hukum, ia masih satu-satunya Ketua Umum PBNU yang sah. Karena itu, ia menghadapi manuver rapat pleno tersebut dengan santai.

“Ya itu tadi, ada yang punya kepentingan lalu bikin manuver. Biasa itu. Kita lihat saja nanti,” tegas Gus Yahya di Kantor Pusat PBNU, Jakarta.

Baca Juga :  Ketua KMT Cheng Li-wun Lakukan Kunjungan Bersejarah ke Tiongkok

Ia menambahkan, AD/ART PBNU masih menempatkannya sebagai Ketum, sehingga tidak ada dasar hukum untuk menggulingkannya melalui rapat yang tidak sah.

“Secara de jure maupun de facto saya masih Ketua Umum PBNU. Tanpa keputusan tertinggi, semua itu tidak bisa dieksekusi. Bertentangan dengan AD/ART dan melawan hukum,” katanya.

Rapat Pleno Dinilai Tidak Sah

Gus Yahya juga menilai rapat pleno yang digelar sebagian pihak sejak awal cacat prosedur. Menurutnya, pleno tidak bisa berlangsung bila:

  • Hanya Syuriyah yang mengundang,
  • Tidak melibatkan Ketua Umum PBNU yang sah.

“Ini nggak bisa disebut pleno. Pertama, yang mengundang hanya Syuriyah, dan itu tidak sesuai aturan. Kedua, pleno wajib melibatkan saya sebagai Ketua Umum,” jelasnya.

Baca Juga :  Rapat Pleno 9–10 Desember, PBNU Diguncang Polemik Surat - Dugaan Pembajakan Sistem Internal

Meski tensi meningkat, Gus Yahya tetap membuka pintu dialog untuk menyelesaikan masalah tanpa memperlebar konflik.

“Para Kiai Sepuh sudah menegaskan bahwa rapat Syuriyah sebelumnya bertentangan dengan AD/ART. Jadi ya kita lihat ini sebagai manuver saja. Ada jalan keluar? Ada. Tinggal duduk bersama,” ujarnya.

Gus Yahya menegaskan posisi, aturan, dan kewenangannya masih sangat kuat secara hukum dan organisasi.

Sementara itu, rapat pleno tandingan dinilai tidak sah, penuh kepentingan, dan hanya gerakan manuver politik.

Drama PBNU kian panas, dan publik kini menunggu langkah lanjutan dari kedua kubu. (red)

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kecelakaan KMP Virgo Transport 8, Menhub Perintahkan Pencarian Korban Dikebut
Menag Nasaruddin: Semakin Dekat Al-Qur’an, Semakin Mulia Akhlak
Kapal Virgo Transport 8 Kecelakaan di Laut Jawa, 140 Orang Masih Hilang
Gempa M5,9 Guncang DKI Jakarta, Getaran Terasa hingga Jawa dan Sumatra
Jaket Pelampung Ditemukan di Laut, Ternyata Bukan Milik Jurnalis Hilang
BMKG Ungkap Banyak Sensor Gempa Hilang, Peringatan Dini Bisa Terganggu
KemenHAM Desak Penembakan 3 ASN Jayawijaya Diusut Tuntas
Anwar Abbas Minta Kasus Abah Setu Tetap Diproses Polisi

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 06:21 WIB

Kecelakaan KMP Virgo Transport 8, Menhub Perintahkan Pencarian Korban Dikebut

Minggu, 13 September 2026 - 21:17 WIB

Menag Nasaruddin: Semakin Dekat Al-Qur’an, Semakin Mulia Akhlak

Minggu, 13 September 2026 - 15:53 WIB

Kapal Virgo Transport 8 Kecelakaan di Laut Jawa, 140 Orang Masih Hilang

Sabtu, 12 September 2026 - 06:31 WIB

Gempa M5,9 Guncang DKI Jakarta, Getaran Terasa hingga Jawa dan Sumatra

Jumat, 11 September 2026 - 17:24 WIB

Jaket Pelampung Ditemukan di Laut, Ternyata Bukan Milik Jurnalis Hilang

Berita Terbaru