PANAMA CITY, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan seorang dokter mencoba mendiagnosis penyakit pasien hanya dengan memeriksa telapak kakinya. Terdengar konyol? Namun, itulah yang selama ini manusia lakukan terhadap hutan.
Andrew Mitchell, Direktur Eksekutif Global Canopy Programme (GCP), menggunakan analogi menohok tersebut untuk menggambarkan ketidaktahuan kita. Hampir semua informasi yang kita miliki tentang hutan berasal dari ketinggian dua meter di atas tanah. Padahal, kita berurusan dengan pohon raksasa yang menjulang hingga 60 meter, bahkan 112 meter.
Di atas sana, di “atap hutan” atau kanopi, tersimpan rahasia biologis terbesar bumi. Para ilmuwan memperkirakan area ini menampung hingga 40 persen dari seluruh spesies, dengan 10 persen di antaranya unik hanya ada di sana.
“Kita berhadapan dengan habitat terkaya, paling sedikit diketahui, dan paling terancam di Bumi,” ujar Mitchell. Faktanya, sekitar 70-90 persen kehidupan di hutan hujan justru berlangsung di pepohonan, bukan di tanah.
Dari Sir Francis Drake hingga Balon Prancis
Upaya menaklukkan ketinggian ini memiliki sejarah panjang. Sir Francis Drake mungkin adalah orang Inggris pertama yang memanjat pohon tinggi di Panama pada 1573 untuk melihat Pasifik. Akan tetapi, upaya ilmiah serius baru dimulai pada 1929 oleh Ekspedisi Universitas Oxford.
Inovasi sesungguhnya datang dari Prancis. Pada pertengahan 1980-an, Francis Halle menggunakan balon udara untuk mendekati kanopi dari atas. Langkah ini memicu lahirnya alat-alat unik seperti Radeau (rakit) dan Luge (kereta luncur).
Radeau adalah jaring kevlar raksasa yang mengapung di atas pucuk pohon, menciptakan pulau buatan bagi peneliti untuk bekerja. Meskipun efektif, metode ini sangat mahal dan bergantung pada cuaca. Dr. Wilfried Morawetz dari Universitas Leipzig mencatat bahwa dalam satu minggu, mereka kadang hanya bisa terbang tiga kali.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Revolusi Derek Konstruksi
Keterbatasan balon mendorong lahirnya solusi yang lebih pragmatis: derek (crane). Smithsonian Tropical Research Institute di Panama memelopori penggunaan derek konstruksi statis untuk mengangkat ilmuwan ke tengah dedaunan.
Profesor Christian Korner dari Universitas Basel memuji metode ini. “Derek mengalahkan mode akses lainnya. Mereka murah, andal, dan cepat,” tegasnya. Bahkan, Korner menggunakan derek statis di Swiss untuk eksperimen pengayaan karbon dioksida yang unik, mencoba memprediksi respons hutan terhadap perubahan iklim global.
Beberapa ilmuwan, seperti Dr. Morawetz di Venezuela, bahkan memasang derek di atas rel sepanjang 150 meter untuk memperluas jangkauan studi.
Masa Depan di Atas Awan
Awalnya, komunitas ilmiah menganggap ide stasiun lapangan di atas pohon sebagai kegilaan. Namun, pandangan itu kini berubah total.
Meg Lowman, seorang “kanopis” ternama, menegaskan bahwa kombinasi metode adalah jalan terbaik. Oleh karena itu, kolaborasi antara penggunaan balon untuk jangkauan luas dan derek untuk studi jangka panjang menjadi kunci.
Dengan alat-alat canggih ini, kita akhirnya mulai memetakan “benua ke-8” biologi. Memahami kanopi bukan sekadar sensasi petualangan, melainkan langkah krusial untuk memahami paru-paru dunia yang sedang terancam.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















