WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Langit Sabtu malam di wilayah selatan Iran mendadak menyala terang. Deru jet tempur Amerika Serikat memecah kesunyian malam saat menjatuhkan bom tepat pukul 18.00 waktu timur. Perintah langsung Presiden Donald Trump memicu aksi agresif ini. Langkah Washington merespons kematian dua prajurit mereka akibat serangan di Yordania sebelumnya. Kini, dunia menyaksikan babak baru yang sangat menegangkan. Dua kekuatan militer besar kembali berhadapan di ambang perang skala penuh.
Selat Hormuz Jadi Taruhan Nyata
Militer Amerika Serikat mengerahkan jet tempur dan meluncurkan rudal jelajah Tomahawk dari lautan. Komando Pusat AS mengincar fasilitas pengawasan pantai serta pangkalan pertahanan udara milik Iran. Washington merancang gempuran cepat ini untuk melemahkan kuasa Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz. Selat sempit ini menyalurkan seperlima pasokan minyak bumi global setiap hari. Namun, aksi ini justru memicu serangan balasan yang tidak kalah brutal dari Teheran.
Balasan Brutal Teheran di Jantung Teluk
Garda Revolusi Iran langsung menembakkan badai rudal balistik dan drone tempur ke beberapa negara Arab sekutu dekat AS. Kuwait menghadapi malam yang mencekam akibat gempuran beruntun tersebut. Rudal Iran menghantam pusat logistik militer AS di Camp Arifjan dan menghancurkan pangkalan udara Ali Al Salem. Petugas pemadam kebakaran Kuwait mengalami luka-luka saat menjinakkan kobaran api di fasilitas minyak milik negara. Sementara itu, di Yordania, rudal Iran menghancurkan dua jet tempur AS di pangkalan Al Azraq.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bayang-bayang Kiamat Ekonomi Global
Konflik bersenjata ini membawa dampak buruk bagi stabilitas pasokan energi dunia secara instan. Arab Saudi langsung mengaktifkan sistem peringatan dini di wilayah Al-Kharj dan Yanbu. Otoritas meminta warga segera mencari perlindungan darurat guna menghindari potensi runtuhan rudal. Departemen Luar Negeri AS juga mengeluarkan peringatan perjalanan global bagi warga Amerika Serikat karena kekhawatiran eskalasi yang tidak terduga. Di lautan, AS memperketat blokade laut untuk menghentikan seluruh ekspor minyak mentah Iran.
Jalan Buntu Meja Perundingan
Sebelum bom Amerika jatuh, Pemimpin Agung Iran Mojtaba Khamenei sempat menyampaikan ancaman keras melalui media sosial. Khamenei memperingatkan bahwa tanda tangan Trump sama sekali tidak memiliki kredibilitas. Ia berjanji akan memberikan pelajaran yang tidak akan pernah Washington lupakan jika eskalasi berlanjut. Kini, kesepakatan gencatan senjata yang baru berumur sebulan telah hancur sepenuhnya. Konflik yang berawal sejak Februari lalu ini terus memakan korban jiwa dan menyeret ekonomi dunia ke masa depan yang gelap.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













