Fenomena Mantan Kelas Menengah: Makan Tabungan demi Bertahan Hidup

Rabu, 26 November 2025 - 05:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy


Gaji cuma numpang lewat, tabungan kian menipis. Fenomena

Gaji cuma numpang lewat, tabungan kian menipis. Fenomena "turun kasta" massal sedang menghantui kelas menengah Indonesia. Simak analisis ekonominya. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Jutaan warga Indonesia kini menyandang status baru yang menyedihkan. Mereka adalah “Mantan Kelas Menengah”. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren penurunan jumlah kelas menengah yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Banyak dari mereka “turun kasta” menjadi kelompok “menuju kelas menengah” (aspiring middle class). Bahkan, sebagian lainnya terperosok ke jurang rentan miskin.

Mereka masih terlihat rapi saat pergi ke kantor. Namun, dompet mereka sebenarnya menjerit. Fenomena ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin nyata dari kesulitan ekonomi yang mencekik leher rakyat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena “Makan Tabungan”

Indikator paling nyata dari krisis ini adalah fenomena “Makan Tabungan” atau mantab. Istilah ini menggambarkan kondisi keuangan di mana pengeluaran bulanan lebih besar daripada pendapatan.

Akibatnya, masyarakat terpaksa mengambil sisa tabungan mereka untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Faktanya, data survei konsumen Bank Indonesia kerap menunjukkan penurunan porsi tabungan pada kelompok pengeluaran menengah.

Baca Juga :  Misteri Kematian 3 Warga di Tanjung Priok, 6 Saksi Diperiksa - Polisi Dalami Aktivitas Korban

Mereka tidak lagi menabung untuk rumah atau dana pensiun. Sebaliknya, mereka mencairkan aset hanya untuk membeli beras, membayar listrik, atau biaya sekolah anak. Lantas, ketahanan finansial keluarga pun menjadi sangat rapuh.

Gaji Stagnan Dihajar Inflasi

Mengapa hal ini bisa terjadi? Penyebab utamanya adalah ketimpangan antara kenaikan gaji dan laju inflasi.

Upah minimum dan gaji karyawan cenderung bergerak lambat atau stagnan. Sementara itu, harga kebutuhan pokok terus melesat naik tanpa ampun. Harga beras, telur, hingga biaya energi terus meroket.

Parahnya lagi, kebijakan fiskal pemerintah terkadang justru menambah beban. Rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% pada tahun mendatang menjadi mimpi buruk baru. Kebijakan ini akan langsung memukul daya beli masyarakat.

Ancaman Bagi Ekonomi Nasional

Fenomena turun kasta massal ini bukan hanya masalah pribadi perorangan. Justru, ini adalah ancaman serius bagi makroekonomi nasional.

Baca Juga :  BNPB Update Bencana Sumatera, Korban Tewas Tembus 1.201 Jiwa - 113 Ribu Mengungsi

Kita harus ingat satu hal penting. Konsumsi rumah tangga adalah mesin utama penopang Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Jika kelas menengah berhenti belanja dan sibuk berhemat, roda ekonomi akan melambat.

Sektor ritel, properti, hingga otomotif akan merasakan dampak pukulan terberat. Imbasnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) bisa terjadi di mana-mana karena permintaan pasar lesu.

Perlunya Jaring Pengaman Luas

Pada akhirnya, pemerintah harus membuka mata lebar-lebar. Fokus bantuan sosial selama ini hanya menyasar kelompok miskin ekstrem.

Padahal, kelas menengah adalah kelompok yang paling rentan saat ini. Mereka terlalu kaya untuk menerima Bansos, tetapi terlalu miskin untuk bertahan menghadapi guncangan ekonomi.

Oleh karena itu, perluasan jaring pengaman sosial menjadi sangat mendesak. Pemerintah wajib menjaga daya beli kelas menengah agar mereka tidak jatuh miskin. Menyelamatkan kelas menengah berarti menyelamatkan pondasi ekonomi Indonesia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Siasat baru pertahanan udara Ukraina. Zelenskyy mendesak Trump memediasi izin penggunaan jaringan Starlink untuk menggempur target di dalam wilayah Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agu 2026 - 10:00 WIB

Eskalasi gempuran udara di ibu kota. Rusia menembakkan gelombang rudal balistik dan drone ke Kyiv, menewaskan tiga warga serta memicu ketidakpastian lisensi Patriot dari AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agu 2026 - 09:00 WIB

Krisis imigrasi terbesar Afrika-Eropa. Spanyol berhasil memulangkan puluhan ribu migran dari Ceuta di tengah ketegangan diplomatik Uni Eropa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agu 2026 - 08:00 WIB