Trump Perpanjang Gencatan Senjata Israel-Lebanon Selama Tiga Pekan

Sabtu, 25 April 2026 - 14:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Terobosan besar diplomasi dunia. Presiden Donald Trump mengumumkan pencapaian kesepakatan damai dengan Iran guna membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan energi global. Dok: Istimewa.

Terobosan besar diplomasi dunia. Presiden Donald Trump mengumumkan pencapaian kesepakatan damai dengan Iran guna membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan energi global. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, D.C., POSNEWS.CO.ID – Harapan untuk meredam api peperangan di Levant kembali mendapatkan momentum diplomatik. Presiden Donald Trump mengonfirmasi kesepakatan baru. Pemerintah resmi memperpanjang gencatan senjata Israel-Lebanon selama tiga pekan ke depan.

Dalam konteks ini, pengumuman tersebut muncul setelah dialog maraton di Ruang Oval. Pejabat senior Gedung Putih memfasilitasi pertemuan strategis tersebut. Oleh karena itu, Washington kini berupaya keras guna memastikan jeda pertempuran ini bertransformasi menjadi perjanjian damai permanen di tahun 2026.

Pertemuan Puncak di Gedung Putih

Jajaran elit pemerintahan AS menghadiri pertemuan hari Kamis tersebut. Peserta meliputi Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Trump menjamu Duta Besar Israel Yechiel Leiter dan Duta Besar Lebanon Nada Moawad dalam putaran kedua negosiasi langsung.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pertemuan berjalan sangat baik! Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon guna membantu negara tersebut melindungi diri dari Hezbollah,” tulis Trump melalui platform Truth Social. Selain itu, Trump memberikan sinyal kuat bahwa ia akan segera mengundang PM Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun ke Washington. Mereka akan memfinalisasi peta jalan perdamaian dalam waktu dekat.

Baca Juga :  AS Berencana Hentikan Layanan Imigrasi di Kota Suaka

Tragedi Rabu Berdarah: Gugurnya Jurnalis Amal Khalil

Meskipun diplomasi bergerak maju, realitas di lapangan masih menyisakan luka mendalam. Rabu (22/4) tercatat sebagai hari paling mematikan bagi Lebanon sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 16 April lalu.

Secara khusus, serangan udara Israel di wilayah selatan merenggut nyawa jurnalis terkemuka, Amal Khalil, dari surat kabar Al-Akhbar. Akibatnya, insiden ini memicu gelombang kemarahan publik dan tuntutan akuntabilitas internasional. Militer Israel mengeklaim operasi mereka menyasar individu bersenjata yang mengancam keselamatan pasukan. Namun, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jatuhnya korban anak-anak dalam rentetan tembakan artileri tersebut.

Syarat Hezbollah dan Dilema Kedaulatan

Kelompok Hezbollah, yang mendapat dukungan Iran, menyatakan kesediaan untuk melanjutkan gencatan senjata, namun dengan prasyarat kaku. Anggota parlemen Hezbollah, Hassan Fadlallah, mendesak Israel menghentikan pembunuhan bertarget sepenuhnya. Ia juga menuntut penghentian penghancuran desa-desa di perbatasan.

Baca Juga :  Sengketa Bill Pulte Membawa Program Intelijen

Di sisi lain, pemerintah resmi Lebanon menetapkan perpanjangan gencatan senjata sebagai prasyarat mutlak negosiasi lanjutan. Dalam hal ini, aspirasi Beirut mencakup:

  1. Penarikan Mundur Pasukan: Israel harus meninggalkan zona penyangga 5-10 km yang saat ini mereka kuasai.
  2. Repatriasi Tahanan: Pemulangan warga Lebanon yang saat ini pihak Israel tahan.
  3. Delineasi Batas Darat: Penentuan garis perbatasan permanen guna mencegah konflik di masa depan.

Stabilitas kawasan kini bergantung pada keberhasilan proses disarmasi damai Hezbollah. Pemerintah Lebanon telah mengupayakan langkah ini selama satu tahun terakhir. Pada akhirnya, Israel bersikeras bahwa dialog di Washington bertujuan membubarkan infrastruktur militer Hezbollah secara total.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau efektivitas mediator Amerika Serikat dalam menjembatani perbedaan tajam ini. Keberhasilan perpanjangan 21 hari menjadi barometer utama keamanan baru di tahun 2026. Tujuannya adalah menciptakan Timur Tengah yang bebas dari bayang-bayang milisi bersenjata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay
Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu
Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus
Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle
Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang
Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun
Warga al-Obeid Hadapi Serangan Drone dan Pemerkosaan
Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:30 WIB

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:00 WIB

Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:30 WIB

Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:00 WIB

Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:51 WIB

Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang

Berita Terbaru

Langkah baru pasar monitor OLED. Philips merilis Evnia 32M2N6901A yang memadukan panel 4K QD-OLED 165Hz dengan harga kompetitif. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Philips Resmi Meluncurkan Monitor Evnia 32M2N6901A

Minggu, 26 Jul 2026 - 22:30 WIB