JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Direktorat Polairud Polda Metro Jaya menggelar doa bersama, sholat gaib, dan istighosah untuk korban bencana alam di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh.
Direktorat Polairud menggelar kegiatan di Parkir Pelelangan Ikan Muara Angke, Senin (1/12/2025), sebagai rangkaian HUT Polairud ke-75 bertema “Polairud Presisi Menuju Indonesia Maju,” dan melibatkan sekitar 350 warga pesisir serta nelayan.
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri menegaskan kegiatan ini sebagai wujud empati dan solidaritas Polri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengucapkan duka cita mendalam dan mendoakan para korban serta keluarga yang ditinggalkan.
Doa bersama dipimpin pemuka agama dan diikuti personel Polairud serta warga pesisir dari berbagai wilayah, mulai dari Kali Adem, Muara Angke, Paljaya, Bidara Marunda, Cilincing hingga Gedung Pompa.
Selain itu, sholat gaib juga digelar sebagai bentuk penghormatan bagi korban meninggal.

Kapolda menekankan bahwa Polri tak hanya melindungi dan melayani, tetapi juga hadir memberi dukungan moril. “Ini momentum memperkuat empati dan kebersamaan di tubuh Polri, khususnya Polairud,” ujarnya.
Acara dihadiri Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Dekananto Eko Purwono, pejabat utama Polda Metro, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, serta instansi terkait seperti Kesyahbandaran Muara Angke, UP3 Muara Angke, dan HNSI.
Nelayan dan Polairud Polda Metro Jaya Makin Kompak
Tokoh masyarakat Muara Angke, Alex, mengaku senang dengan kegiatan yang digelar Ditpolairud Polda Metro Jaya untuk para nelayan. Ia menilai doa bersama, baksos, dan pengobatan gratis sangat membantu warga pesisir.
“Baksos dan pengobatan gratis benar-benar meringankan beban warga. Saya berharap kegiatan seperti ini digelar lebih sering,” ujar Alex.
Menurutnya, HUT Polairud ke-75 menjadi momentum memperkuat kekompakan antara Polairud dan para nelayan. “Kami merasa lebih aman dengan kehadiran polisi di laut. Saya harap nelayan dan Polairud makin kompak,” tegasnya.
Selain itu, Alex menyoroti masalah kelangkaan BBM subsidi jenis solar di Muara Angke. Akibat pasokan minim, para nelayan terpaksa membeli solar non-subsidi dengan harga jauh lebih tinggi.
“BBM subsidi di Muara Angke masih kurang. Kami sering antre panjang di SPBU, tapi solar sudah habis. Akhirnya kami beli solar non-subsidi Rp13 ribu sampai Rp14 ribu per liter, padahal harga subsidi cuma Rp6 ribu,” keluhnya. (red)





















