LONDON, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Inggris berencana memangkas bantuan dana iklim bagi negara-negara miskin hingga lebih dari seperlima. Langkah ini memicu kecaman keras. Para aktivis menilai kebijakan ini melanggar janji internasional. Selain itu, pemotongan dana mengancam nyawa jutaan orang di negara rentan.
Menteri terkait berencana menurunkan pendanaan iklim. Mereka memangkas anggaran dari £11,6 miliar menjadi £9 miliar untuk lima tahun ke depan. Jika memperhitungkan inflasi, kebijakan ini memangkas daya beli sebesar 40%. Pemerintah menyepakati anggaran awal tersebut pada tahun 2021.
Ancaman Keamanan Nasional dan Pangan
Departemen Keuangan Inggris tetap memaksakan pemangkasan dana ini. Padahal, pimpinan intelijen Inggris sudah memberikan peringatan keras. Mereka menekankan bahwa keruntuhan ekosistem penting, seperti hutan Amazon atau Kongo, akan berdampak buruk pada keamanan nasional Inggris.
Prediksi dampak mencakup lonjakan harga pangan global. Selain itu, perebutan sumber daya berisiko memicu pecahnya perang. Namun, para menteri masih memperdebatkan rincian putaran baru pendanaan internasional. Mereka menyebut program ini sebagai ICF4. Pemerintah mengambil sebagian besar dana ini dari bantuan luar negeri. Sebelumnya, mereka sudah memangkas bantuan tersebut menjadi 0,3% dari pendapatan nasional bruto.
Strategi “Pelabelan Ulang” dan Penurunan Fokus
Investigasi mengungkap upaya “pelabelan ulang” oleh pegawai sipil. Mereka memasukkan proyek pendidikan atau kesehatan ke dalam payung dana iklim. Beberapa pejabat mengeklaim porsi bantuan hingga 30% untuk negara tertinggal sebagai dana iklim. Padahal, proyek tersebut hanya memiliki sedikit pengaruh terhadap krisis lingkungan.
Perubahan fokus ini juga terlihat dari sikap Menteri Luar Negeri Yvette Cooper. Berbeda dengan David Lammy yang vokal, Cooper lebih tertarik pada pendidikan anak perempuan. Laporan media menyoroti pergeseran fokus ini. Ia bahkan absen dari KTT Cop30 di Brasil pada November lalu. Para aktivis menganggap hal ini sebagai sinyal penurunan komitmen Inggris di panggung dunia.
Kehilangan Kepemimpinan Global
Keputusan ini muncul setahun setelah janji negara kaya. Mereka berjanji melipatgandakan dana iklim menjadi $300 miliar pada 2035. Direktur Power Shift Africa, Mohamed Adow, memberikan peringatan. Baginya, bantuan Inggris menentukan ketahanan atau bencana bagi negara rentan.
“Pelanggaran komitmen oleh Inggris memberi celah bagi negara lain,” ujar Adow. Hal ini membawa konsekuensi buruk bagi aksi iklim global. Senada dengan itu, pakar dari Satat Sampada Climate Foundation, Harjeet Singh, menegaskan bahwa langkah ini menghancurkan reputasi Inggris. Menurutnya, ambisi Inggris kini semakin mengecil. Inggris tidak lagi mampu memimpin aksi iklim global. Ia menilai janji kepada Global South selama ini hampa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















