Kesenjangan Digital: Siapa yang Tertinggal di Era 5G?

Sabtu, 1 November 2025 - 15:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Aturan ketat di ruang siber. Australia resmi memberlakukan batasan usia untuk konten pornografi dan chatbot AI, memicu migrasi massal pengguna ke aplikasi VPN guna menembus blokade digital. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Aturan ketat di ruang siber. Australia resmi memberlakukan batasan usia untuk konten pornografi dan chatbot AI, memicu migrasi massal pengguna ke aplikasi VPN guna menembus blokade digital. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Kita hidup di era 5G dan janji revolusi digital, di mana informasi, pendidikan, hingga layanan kesehatan dapat diakses dari ujung jari. Namun, di balik kemewahan koneksi super cepat, ada realitas pahit: tidak semua orang bisa menikmatinya. Akses internet cepat kini telah berevolusi menjadi hak dasar baru, tetapi distribusinya yang tidak merata menciptakan jurang yang semakin dalam.

Kesenjangan digital atau digital divide adalah masalah serius yang memisahkan mereka yang “memiliki” akses teknologi dari mereka yang “tidak memiliki”. Ini adalah garis pemisah baru antara si kaya dan si miskin, serta antara perkotaan dan pedesaan.

Baca Juga :  Wedang Jahe, Susu Kunyit, dan 4 Minuman Hangat Lainnya untuk Imun di Musim Hujan

Bukan Cuma Soal Akses

Banyak yang mengira kesenjangan digital selesai hanya dengan membangun menara BTS atau menggelar kabel fiber optik. Padahal, masalahnya jauh lebih dalam.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesenjangan ini memiliki tiga lapisan. Pertama adalah kesenjangan akses, yaitu infrastruktur fisik. Kedua, kesenjangan keterampilan (skill), di mana banyak orang memiliki gawai, tetapi tidak memiliki kemampuan digital untuk menggunakannya secara produktif. Ketiga, kesenjangan kualitas perangkat, di mana perangkat yang lambat atau kuno menghalangi akses ke aplikasi modern, meskipun sinyal internet tersedia.

Dampak Nyata Kesenjangan

Kesenjangan ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi masalah sosial-ekonomi yang krusial. Dampaknya terlihat jelas di berbagai sektor penting.

Dalam pendidikan, siswa di daerah terpencil tanpa akses internet stabil langsung tertinggal dari rekan-rekan mereka di kota besar, terutama saat pembelajaran jarak jauh. Di dunia kerja, banyak peluang remote working atau pekerjaan berbasis digital tertutup bagi mereka yang tidak memiliki koneksi memadai. Selain itu, layanan vital seperti telemedicine atau akses ke informasi kesehatan menjadi hak eksklusif mereka yang terhubung.

Baca Juga :  UNEA-7 Nairobi: Dunia Sepakati 11 Resolusi Penyelamatan Planet, Dari AI Hijau hingga Gletser

Kesimpulan

Revolusi digital membawa potensi luar biasa untuk kemajuan. Akan tetapi, jika tidak dikelola dengan adil, revolusi ini berisiko menciptakan kelas sosial baru yang tertinggil. Tantangan terbesar kita ke depan bukanlah sekadar membangun infrastruktur, tetapi memastikan bahwa setiap warga negara, di mana pun mereka berada, memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam masa depan digital ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB