JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Kita hidup di era 5G dan janji revolusi digital, di mana informasi, pendidikan, hingga layanan kesehatan dapat diakses dari ujung jari. Namun, di balik kemewahan koneksi super cepat, ada realitas pahit: tidak semua orang bisa menikmatinya. Akses internet cepat kini telah berevolusi menjadi hak dasar baru, tetapi distribusinya yang tidak merata menciptakan jurang yang semakin dalam.
Kesenjangan digital atau digital divide adalah masalah serius yang memisahkan mereka yang “memiliki” akses teknologi dari mereka yang “tidak memiliki”. Ini adalah garis pemisah baru antara si kaya dan si miskin, serta antara perkotaan dan pedesaan.
Bukan Cuma Soal Akses
Banyak yang mengira kesenjangan digital selesai hanya dengan membangun menara BTS atau menggelar kabel fiber optik. Padahal, masalahnya jauh lebih dalam.
Kesenjangan ini memiliki tiga lapisan. Pertama adalah kesenjangan akses, yaitu infrastruktur fisik. Kedua, kesenjangan keterampilan (skill), di mana banyak orang memiliki gawai, tetapi tidak memiliki kemampuan digital untuk menggunakannya secara produktif. Ketiga, kesenjangan kualitas perangkat, di mana perangkat yang lambat atau kuno menghalangi akses ke aplikasi modern, meskipun sinyal internet tersedia.
Dampak Nyata Kesenjangan
Kesenjangan ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi masalah sosial-ekonomi yang krusial. Dampaknya terlihat jelas di berbagai sektor penting.
Dalam pendidikan, siswa di daerah terpencil tanpa akses internet stabil langsung tertinggal dari rekan-rekan mereka di kota besar, terutama saat pembelajaran jarak jauh. Di dunia kerja, banyak peluang remote working atau pekerjaan berbasis digital tertutup bagi mereka yang tidak memiliki koneksi memadai. Selain itu, layanan vital seperti telemedicine atau akses ke informasi kesehatan menjadi hak eksklusif mereka yang terhubung.
Kesimpulan
Revolusi digital membawa potensi luar biasa untuk kemajuan. Akan tetapi, jika tidak dikelola dengan adil, revolusi ini berisiko menciptakan kelas sosial baru yang tertinggil. Tantangan terbesar kita ke depan bukanlah sekadar membangun infrastruktur, tetapi memastikan bahwa setiap warga negara, di mana pun mereka berada, memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam masa depan digital ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















