JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Selama berabad-abad, panggung politik dunia didominasi oleh satu hukum rimba: siapa yang memiliki tentara terkuat, dialah yang berkuasa. Kaum Realis percaya bahwa negara selalu dalam kondisi siap perang.
Namun, pada akhir 1970-an, dua pemikir besar bernama Robert Keohane dan Joseph Nye menantang pandangan kuno tersebut. Mereka memperkenalkan konsep revolusioner yang disebut “Interdependensi Kompleks”.
Teori ini mengajarkan bahwa di dunia modern, negara tidak lagi berdiri sendiri seperti bola biliar yang saling bertabrakan. Sebaliknya, negara terikat dalam jaring laba-laba hubungan yang rumit dan saling tumpang tindih. Akibatnya, menggunakan otot militer bukan lagi solusi cerdas untuk memenangkan persaingan.
Ribuan Saluran, Satu Tujuan
Karakteristik utama dari dunia baru ini adalah keberadaan “banyak saluran”. Hubungan antarnegara tidak lagi hanya terjadi lewat telepon merah antara presiden atau diplomat.
Faktanya, interaksi global kini melibatkan aktor non-negara. Perusahaan multinasional, bank, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), hingga turis saling terhubung setiap detik.
Selain itu, tidak ada lagi hierarki isu yang kaku. Dulu, isu militer (High Politics) selalu dianggap lebih penting daripada isu ekonomi (Low Politics).
Kini, batas itu telah kabur. Krisis mata uang atau sengketa dagang bisa mengguncang keamanan negara sama kerasnya dengan ancaman invasi militer.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengapa Perang Besar Jadi Tidak Rasional?
Interdependensi ini menciptakan semacam jaminan keamanan yang unik. Mari kita lihat hubungan Amerika Serikat (AS) dan China. Keduanya memiliki militer raksasa dan sering bersitegang.
Akan tetapi, perang fisik terbuka antara keduanya sangat kecil kemungkinannya terjadi. Alasannya sangat pragmatis: biaya perangnya terlalu mahal dan tidak masuk akal.
Ekonomi kedua negara saling terkunci. Pabrik China butuh pasar Amerika, sedangkan konsumen Amerika butuh barang murah China. Jika satu pihak menembakkan rudal, mereka sama saja dengan menembak kaki sendiri.
Kehancuran ekonomi lawan berarti kehancuran ekonomi sendiri. Saling ketergantungan ini membuat perang menjadi opsi bunuh diri ekonomi (economic suicide).
Era “Smart Power”
Lantas, jika perang bukan solusi, bagaimana cara negara bersaing? Pertarungan bergeser ke ranah Smart Power.
Negara berlomba menguasai teknologi canggih, mendominasi sistem keuangan global, dan menyusun aturan hukum internasional. Menguasai paten chip semikonduktor atau mengendalikan jalur serat optik kini lebih strategis daripada menduduki wilayah teritorial.
“Decoupling” yang Menyakitkan
Pada akhirnya, kita melihat betapa sulitnya negara-negara untuk memisahkan diri atau melakukan decoupling. Memutus hubungan dagang dengan rival ternyata jauh lebih menyakitkan daripada bernegosiasi di meja runding.
Interdependensi Kompleks memaksa musuh untuk tetap bekerja sama. Maka, di abad ke-21 ini, pemenangnya bukanlah negara yang paling jago berperang, melainkan negara yang paling pandai menjalin koneksi dan mengelola ketergantungan orang lain terhadap dirinya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















