POSNEWS.CO.ID, TEHERAN — Warga Iran membawa peti jenazah dalam pemakaman korban serangan udara AS pada Kamis. Serangan tersebut diklaim menghantam sebuah pesta pernikahan di kawasan pesisir Selat Hormuz.
Sementara itu, Teheran meluncurkan rudal dan drone semalam ke pangkalan AS di Kuwait. Serangan balasan ini terjadi setelah eskalasi terbesar perang dalam lebih dari sebulan terakhir.
Para pelayat berkumpul pada sore hari di luar Desa Kuhestak, Kabupaten Sirik. Wilayah ini menjadi lokasi serangan udara berat AS pada Selasa malam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Korban Tewas Bertambah Menjadi Lima Orang
Televisi pemerintah Iran melaporkan seorang perempuan berusia 22 tahun meninggal di rumah sakit pada Kamis. Korban ini meninggal akibat serangan yang menghantam sebuah rumah saat pesta pernikahan berlangsung.
Dengan tambahan korban ini, total kematian mencapai lima orang. Pejabat Iran menyebutkan hampir 70 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
AS Sebut Sedang Selidiki Insiden
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan kepada wartawan pada Kamis bahwa Washington sedang menyelidiki insiden ini. “Kami menyelidikinya karena kami peduli. Kami ingin tahu,” ujar Vance.
Vance menambahkan militer AS akan belajar dari kesalahan jika memang terjadi. Ia menegaskan hal ini menjadi perbedaan besar antara AS dan Iran dalam menyikapi kesalahan militer.
Sementara itu, militer AS menyatakan mengetahui laporan Iran tersebut. Namun, militer AS menegaskan pihaknya tidak pernah menyasar warga sipil dalam operasinya.
Suasana Duka Warnai Pemakaman Korban
Dalam pemakaman empat korban pesta pernikahan, kantor berita Mehr merekam sebuah truk pikap membawa peti jenazah berbalut bendera. Peti tersebut diarak di bawah kanopi daun palem.
Seorang reporter di depan truk menyebutkan jenazah tersebut adalah Amir-Mohammad Karimi, anak berusia 4 tahun. Reporter itu menyebut Amir menjadi martir dalam serangan rezim kriminal Amerika ke selatan negara tersebut.
Dalam rekaman lain, para pelayat melemparkan kelopak bunga ke udara sambil musik duka mengalun dari pengeras suara. Peti jenazah diarak melewati barisan tentara yang berdiri tegak memegang senjata.
Kantor berita semi-resmi Tasnim mengutip seorang warga setempat yang menyampaikan kesedihannya. “Jika ini lokasi militer, rasa sakitnya tidak akan sebesar ini. Ini upacara pernikahan, tapi mereka mengubah kebahagiaan menjadi duka,” ujar warga tersebut.
AS Balas Serangan Iran ke Kapal di Selat Hormuz
Washington melancarkan serangan udara pada Selasa terhadap sejumlah target militer di sepanjang pesisir. AS menyatakan serangan ini menjadi balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Eskalasi mendadak perang ini memicu lonjakan harga minyak ke level tertinggi sejak Juli. Harga minyak naik selama empat hari berturut-turut pada Kamis, membawa Brent crude melampaui $96 per barel.
Iran Serang Balik Lima Pangkalan AS di Kawasan
Iran melaporkan 18 orang tewas akibat serangan AS terakhir. Sebagai balasan, Iran menyerang pangkalan AS di Irak, Yordania, Qatar, Kuwait, dan Bahrain pada Rabu.
Iran kemudian melancarkan serangan lanjutan pada dini hari Kamis. Iran menyatakan kali ini menargetkan pangkalan AS lainnya di Kuwait.
Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal dan drone tersebut. Namun, setelah insiden ini, eskalasi terbesar sejak Juli tampak mulai mereda menjelang sore hari Kamis.
Trump Belum Capai Tujuan “Operation Epic Fury”
Bulan Agustus lalu sempat berlangsung tenang di kawasan Teluk. Ketenangan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump tiba-tiba menghentikan dua pekan pengeboman intensif pada Juli.
Trump menghentikan serangan tersebut setelah militernya memperingatkan amunisi AS mulai menipis. Hingga kini, Trump belum mencapai tujuan yang ia tetapkan saat meluncurkan Operation Epic Fury pada Februari.
Operasi ini bertujuan mengakhiri program nuklir Iran dan menghentikan kemampuan Iran menyerang negara tetangga. Operasi ini juga bertujuan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran menggulingkan kepemimpinan mereka sendiri.
Ekonomi Iran Terpuruk, Namun Penguasa Tetap Bertahan
Ekonomi Iran menderita berat akibat blokade AS yang terus berlangsung. Meski demikian, para penguasa klerik Iran tetap bertahan berkuasa hingga saat ini.
Iran berharap keluar dari perang ini dalam kondisi lebih kuat dari sebelumnya. Iran menuntut pencabutan sanksi dan berharap dapat memungut biaya dari kapal yang melintasi selat tersebut.
Sebelum perang berlangsung, selat ini mengangkut seperlima pengiriman minyak dan gas dunia. Kondisi ini menjadikan Selat Hormuz sebagai titik krusial bagi ekonomi energi global.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














