POSNEWS.CO.ID, WASHINGTON — Washington dan Canberra sepakat memperkuat kehadiran militer Amerika Serikat di Australia. Kedua negara juga sepakat mempercepat kerja sama pertahanan mereka secara keseluruhan.
Australia, sekutu AS, telah membentuk ulang kekuatan pertahanannya dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini muncul akibat kekhawatiran atas pembangunan militer China yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Australia kini memfokuskan kekuatannya pada kemampuan serangan rudal. Selain itu, negara ini juga berupaya menangkal calon musuh dari jalur pendekatan wilayah utaranya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hegseth dan Marles Bahas Kerja Sama Pertahanan
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan Canberra memahami pentingnya menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan. Ia menyampaikan hal ini saat bertemu Menteri Pertahanan Australia Richard Marles di Washington pada Rabu.
Menurut Pentagon, kedua negara sepakat mempercepat inisiatif postur kekuatan di pangkalan-pangkalan Australia. Mereka juga sepakat memperkuat kerja sama logistik gabungan dan interoperabilitas lewat latihan bersama.
Selain itu, Pentagon menambahkan kedua negara membahas kemajuan kerja sama industri pertahanan. Pembahasan ini mencakup kapasitas bersama untuk senjata berpemandu dan kemampuan generasi berikutnya.
Marinir AS Rutin Berlatih di Darwin
Australia tidak mengizinkan pangkalan militer asing berdiri di wilayahnya. Namun, negara ini tetap menjadi tuan rumah latihan Marinir AS selama enam bulan setiap tahun di Darwin.
Sementara itu, kapal selam yang dikomandoi AS secara bergilir akan tiba di Australia Barat tahun depan. Kehadiran ini menandai perluasan lebih lanjut kerja sama pertahanan kedua negara.
Marles Sebut Kerja Sama Meluas ke Siber dan Antariksa
Ketika ditanya soal cakupan perluasan postur kekuatan ini, Marles menjelaskan kerja sama juga mencakup bidang lain. Ia menyebut kerja sama logistik, angkatan udara, siber, dan antariksa turut menjadi bagian dari kolaborasi ini.
Marles menegaskan perluasan kerja sama ini merespons pembangunan militer konvensional terbesar sejak Perang Dunia II. Ia menyebut China sebagai negara yang melakukan pembangunan militer tersebut.
“Kita perlu memastikan pembangunan pencegahan dan keseimbangan kekuatan,” ujar Marles. Ia menambahkan langkah ini penting demi menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan tempat kedua negara berada.
Marles juga menegaskan kolaborasi lewat aliansi dengan Amerika Serikat menjadi kunci fundamental. Menurutnya, aliansi ini sangat penting untuk mencapai tujuan keamanan kawasan tersebut.
Korps Marinir AS Rencanakan Stok Krisis di Australia
Salah satu area kerja sama mencakup rencana Korps Marinir AS membangun stok siaga krisis di Australia. AFP melaporkan rencana ini pada Juni lalu sebagai bagian dari perluasan kerja sama militer.
Australia Jalankan Proyek Kapal Selam Nuklir AUKUS
Australia juga tengah menjalankan proyek belanja militer terbesar sepanjang sejarahnya. Proyek ini bertujuan membangun kapal selam bertenaga nuklir pada dekade mendatang.
Australia menjalankan proyek ini lewat perjanjian AUKUS bersama Amerika Serikat dan Inggris. Meski demikian, sejumlah kritikus menyatakan perjanjian ini tidak menjamin Australia benar-benar akan menerima kapal selam tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














