Iran Membara: Khamenei Bersumpah Tumpas Vandal

Sabtu, 10 Januari 2026 - 11:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Inflasi tembus 52%, Teheran coba redam amarah rakyat dengan ubah subsidi. Namun, kepala peradilan tegaskan masa

Inflasi tembus 52%, Teheran coba redam amarah rakyat dengan ubah subsidi. Namun, kepala peradilan tegaskan masa "basa-basi" sudah habis. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akhirnya memecah kebisuan. Dalam pidato pertamanya sejak gelombang protes meletus 28 Desember lalu, ia bersumpah bahwa otoritas tidak akan mundur selangkah pun. Pernyataan keras ini menjadi sinyal lampu hijau bagi aparat keamanan untuk mengintensifkan tindakan represif di hari kedua pemadaman internet nasional.

Demonstrasi telah membakar kota-kota di seluruh negeri dalam beberapa hari terakhir. Faktanya, gerakan ini menjadi ancaman paling serius bagi otoritas rezim sejak protes 2022, terutama karena posisi pemerintah yang melemah pasca-perang tahun lalu.

Khamenei tanpa ragu melabeli para pengunjuk rasa sebagai “vandal” dan “penyabot”. Ia menuduh mereka bekerja untuk agenda asing.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Mereka merusak jalanan sendiri demi menyenangkan presiden negara lain… karena dia bilang akan datang membantu mereka,” tuding Khamenei, merujuk langsung pada ancaman intervensi Donald Trump.

Baca Juga :  Mengenal Metaverse di Tahun 2026: Masihkah Relevan atau Hanya Sekadar Tren?

Trump: “Kami Akan Mulai Menembak Juga”

Perang urat saraf lintas benua kian memanas. Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox News, menyarankan bahwa Khamenei sedang bersiap melarikan diri karena situasi yang memburuk.

Lebih jauh, pada Jumat malam, Presiden AS itu mengeluarkan peringatan terbuka. “Lebih baik jangan mulai menembak karena kami akan mulai menembak juga,” ancam Trump kepada para pemimpin Iran.

Eropa mengambil pendekatan yang lebih diplomatis namun tegas. Pemimpin Prancis, Jerman, dan Inggris (E3) merilis pernyataan bersama. Mereka mendesak Iran menahan diri dan mengecam keras pembunuhan demonstran.

Medan Perang Tanpa Sinyal

Di lapangan, situasi berubah menjadi medan tempur yang gelap gulita. Otoritas memutus akses internet total sejak Kamis malam. Akibatnya, arus informasi keluar menjadi sangat terbatas.

Laporan yang berhasil lolos melukiskan kekacauan. Aktivis HAM melaporkan setidaknya 50 orang tewas dan lebih dari 2.270 orang ditahan. Saksi mata bernama Maryam (25) di Teheran menggambarkan kebrutalan aparat.

Baca Juga :  Michelle Park Steel Dinominasikan Sebagai Duta Besar AS

“Mereka membidik mata,” ungkapnya lewat pesan teks. “Polisi berseragam, milisi Basij, dan pasukan pembunuh berpakaian preman menabrakkan sepeda motor ke kerumunan.”

Kelompok HAM Hengaw juga melaporkan penembakan terhadap demonstran di Zahedan usai salat Jumat. Sementara itu, video dari hari Kamis memperlihatkan massa di Teheran membakar gedung penyiaran negara dan mengibarkan bendera singa dan matahari—simbol Iran pra-revolusi 1979.

Kembalinya Putra Mahkota

Kekosongan kepemimpinan oposisi kini mulai terisi. Reza Pahlavi, putra mendiang Shah yang diasingkan, kembali menyerukan demonstrasi. Ia menuduh Khamenei menggunakan pemadaman internet untuk “membunuh pahlawan muda ini”.

Seruan Pahlavi mendapat respons nyata. Video menunjukkan pengunjuk rasa meneriakkan dukungannya, bahkan di Mashhad, kota kelahiran Khamenei. Organisasinya mengklaim puluhan ribu petugas keamanan telah memberi sinyal ingin membelot.

“Negara ini milik kita!” seru Ali, mahasiswa 21 tahun di Teheran, menggambarkan bagaimana massa berhasil memukul mundur aparat yang melarikan diri dan meninggalkan kendaraan mereka.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Drone Ukraina Hantam Wilayah Rusia: 8 Orang Tewas
Mal Aeon Kumamoto: Perusahaan Suruh Karyawan Amankan Uang
Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1
Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas
Interpol Terbitkan Red Notice untuk Syekh Ahmad Al Misry, Polisi Sebut Masih di Mesir
Dua Helikopter Pemadam Tabrakan di Yunani
Israel Gempur Gaza 2 Hari Berturut-turut, 18 Warga Tewas
Bom Bunuh Diri Guncang Unjuk Rasa Anti-Militan di Pakistan

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Serangan Drone Ukraina Hantam Wilayah Rusia: 8 Orang Tewas

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:40 WIB

Mal Aeon Kumamoto: Perusahaan Suruh Karyawan Amankan Uang

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:49 WIB

Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Interpol Terbitkan Red Notice untuk Syekh Ahmad Al Misry, Polisi Sebut Masih di Mesir

Berita Terbaru