Iran Siap Bidik Musuh: Menlu Araghchi Tantang Ancaman

Sabtu, 3 Januari 2026 - 10:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Luka yang belum kering. Dua bulan pasca-serangan udara militer Amerika Serikat terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Iran Selatan, keluarga korban masih menuntut keadilan bagi 155 nyawa yang melayang di tengah kebuntuan diplomasi nuklir. Dok: Istimewa.

Luka yang belum kering. Dua bulan pasca-serangan udara militer Amerika Serikat terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Iran Selatan, keluarga korban masih menuntut keadilan bagi 155 nyawa yang melayang di tengah kebuntuan diplomasi nuklir. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Retorika perang kembali memanas di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, bersumpah menolak mentah-mentah setiap campur tangan asing. Ia menegaskan hal ini pada hari Jumat terkait urusan internal negaranya. Araghchi melontarkan peringatan keras ini sebagai balasan langsung. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah melontarkan ancaman terbuka.

Lewat unggahan di platform X, Araghchi menegaskan kondisi angkatan bersenjata Iran. Ia menyebut pasukan dalam kondisi siaga penuh. “Kami tahu persis ke mana harus membidik jika musuh melanggar kedaulatan kami,” tulisnya. Pernyataan ini merespons komentar Trump di Truth Social. Trump mengklaim AS akan “datang menyelamatkan” jika Iran menembaki pengunjuk rasa damai.

Gejolak Rial Pemicu Amarah

Perang kata-kata ini meletus saat situasi domestik Iran sedang mendidih. Sejak Minggu, gelombang protes melanda sejumlah kota besar. Penyebab utamanya adalah depresiasi tajam mata uang nasional, rial. Nilai tukar dolar AS kini menembus angka 1,35 juta rial di pasar terbuka. Lonjakan ini lantas menghancurkan daya beli masyarakat.

Media Iran melaporkan situasi terkini pada hari Kamis. Bentrokan di dua provinsi telah menewaskan setidaknya tiga orang. Selain itu, insiden ini melukai 13 personel keamanan dalam 24 jam terakhir.

Araghchi mengakui hak warga negara untuk protes damai. Terutama bagi mereka yang terdampak volatilitas nilai tukar. Namun, ia memberi garis tegas. “Kami mencatat insiden kekerasan terisolasi, termasuk serangan terhadap kantor polisi,” ujarnya. Ia juga menyebut lemparan bom Molotov ke petugas. Teheran menegaskan tidak akan mentolerir serangan kriminal terhadap properti publik.

Sanksi Barat Jadi Kambing Hitam?

Pejabat lokal menuding tekanan eksternal sebagai biang keladi. Wakil Gubernur Provinsi Lorestan, Saeid Pourali, angkat bicara. Ia mengaitkan protes ini dengan keluhan ekonomi murni.

Ia menekankan bahwa tekanan ekonomi yang mencekik berakar dari sanksi Barat yang “kejam”. Tekanan ini mencakup volatilitas mata uang hingga masalah penghidupan sehari-hari. Sebagai catatan, ekonomi Iran terus terpuruk sejak tahun 2018. Saat itu, AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan memberlakukan kembali sanksi berat.

Baca Juga :  Jelang Duel Panas Indonesia U-22 vs Filipina SEA Games 2025, Indra Sjafri Pasang Alarm Waspada

Lingkaran Setan Teheran

Situasi Iran saat ini mencerminkan kerapuhan “dua front” yang Teheran hadapi.

Secara internal, krisis hebat sedang menguji legitimasi ekonomi pemerintah. Jatuhnya nilai rial bukan sekadar angka statistik. Ini adalah krisis eksistensial bagi kelas menengah Iran karena tabungan mereka menguap. Pemerintah sulit menjual narasi “perlawanan anti-Barat” ketika rakyat lapar.

Secara eksternal, ancaman Trump menempatkan Iran dalam dilema strategis. Jika Teheran menindak keras demonstran, mereka memberi amunisi bagi AS. AS bisa melakukan intervensi lebih jauh atau menambah sanksi. Namun, stabilitas rezim terancam jika pemerintah membiarkan protes meluas.

Pola ini menciptakan lingkaran setan. Sanksi AS memicu krisis ekonomi, lalu krisis memicu protes. Kemudian, protes memicu represi yang mengundang kecaman dan sanksi baru. Pengamat bisa membaca ancaman Araghchi sebagai upaya pengalihan fokus publik. Pemerintah ingin menggeser isu kegagalan ekonomi domestik menuju musuh bersama di luar negeri.

Stabilitas kawasan kini bergantung pada keberanian Teheran mengambil risiko. Pilihannya adalah fokus memperbaiki ekonomi dengan diplomasi. Atau, memilih konfrontasi militer sebagai jalan keluar dari tekanan domestik.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI
Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan
Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol
Houthi Serang Situs di Riyadh dan Fasilitas Aramco di Yanbu
Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang
AS Setujui Penjualan Jet Tempur F-35 ke Arab Saudi
Hakim AS Larang Pembongkaran Gedung Kennedy Center
Milisi Houthi Kuasai Jalur Maritim Utama Yaman

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 21:58 WIB

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI

Minggu, 20 September 2026 - 20:55 WIB

Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan

Minggu, 20 September 2026 - 20:30 WIB

Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol

Minggu, 20 September 2026 - 18:42 WIB

Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang

Sabtu, 19 September 2026 - 11:04 WIB

AS Setujui Penjualan Jet Tempur F-35 ke Arab Saudi

Berita Terbaru

Donald Trump mengumumkan pembentukan AI Force untuk mendukung industri AI AS. Simak rincian kebijakan baru dan kontroversi pusat data AI. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI

Minggu, 20 Sep 2026 - 21:58 WIB

Polisi Rusia menangkap pengamat pemilu Partai Yabloko hingga pingsan di St. Petersburg. Simak rincian insiden dan dugaan pelanggaran pemilu Duma. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan

Minggu, 20 Sep 2026 - 20:55 WIB

Denmark dan Greenland menegaskan kedaulatan wilayah usai Donald Trump mengklaim kontrol militer permanen di Arktik. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol

Minggu, 20 Sep 2026 - 20:30 WIB