BRISTOL, POSNEWS.CO.ID – “Insinyur haruslah berani dalam proporsi yang sama dengan kecerdikan mereka.” Kutipan dari ensiklopedia Inggris tahun 1809 ini seolah menjadi ramalan bagi Isambard Kingdom Brunel, pria yang lahir tiga tahun sebelumnya. Putra dari insinyur terkemuka Sir Marc Isambard Brunel ini tumbuh menjadi raksasa Revolusi Industri yang mengubah wajah Inggris dan dunia.
Pendidikannya di Prancis pada usia 14 tahun menempa dasar matematika dan sains yang kuat. Namun, ujian sesungguhnya datang saat ia berusia 16 tahun, bekerja bersama ayahnya membangun terowongan legendaris di bawah Sungai Thames.
Saat memulihkan diri dari cedera akibat gua terowongan yang runtuh di dekat Bristol, Brunel justru menemukan panggilan besarnya: sebuah jembatan gantung yang melintasi Ngarai Avon.
Menantang Gravitasi di Clifton
Jembatan Gantung Clifton adalah proyek ambisius dengan bentang lebih dari 700 kaki—terpanjang pada masanya—dan ketinggian 245 kaki di atas air. Menghadapi tantangan teknis yang gila ini, Brunel tidak hanya mengandalkan perhitungan, tetapi juga estetika. Ia mempresentasikan desain menara yang anggun yang memikat komite.
Sayangnya, Brunel tidak pernah melihat mahakaryanya selesai. Jembatan itu baru rampung pada 1864, lima tahun setelah kematiannya, sebagai penghormatan dari rekan-rekannya. Hingga kini, struktur ikonik tersebut masih berdiri kokoh, menjadi saksi bisu kejeniusannya.
Perang Melawan Standar Kereta Api
Visi Brunel tidak berhenti di jembatan. Ia melihat kebutuhan akan jalur kereta api yang menghubungkan Bristol ke London. Namun, ia harus berhadapan dengan tuan tanah yang marah dan Duke of Wellington yang skeptis.
Alih-alih menyerah, Brunel justru menantang standar yang ada. Ia membangun rel dengan lebar gauge 7 kaki, jauh lebih lebar dari standar umum 4 kaki 8½ inci. Ia yakin rel lebar memberikan stabilitas superior. Meskipun terbukti memberikan perjalanan yang lebih mulus, inovasi ini akhirnya kalah dalam “perang standar” melawan dominasi rel sempit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Eksperimennya dengan kereta api atmosferik di South Devon juga berakhir sebagai kegagalan mahal. Material saat itu belum siap untuk sistem katup kedap udara yang rumit. Dengan jiwa besar, Brunel mengakui kegagalannya dan menolak menerima bayaran, sebuah contoh integritas profesional yang langka.
Menaklukkan Samudra Atlantik
Ambisi terbesar Brunel terletak di laut. Ia mencetuskan ide gila: memperpanjang jalur kereta api Great Western hingga ke New York lewat laut. Maka lahirlah kapal uap transatlantik pertama, “Great Western”.
Diluncurkan pada 1837, kapal kayu ini sukses besar, memangkas waktu perjalanan ke New York menjadi hanya 15 hari. Tidak puas, Brunel segera merancang penerusnya, “Great Britain”. Kapal besi ini menjadi yang pertama menggunakan baling-baling sekrup (propeller) untuk menyeberangi Atlantik, sebuah lompatan teknologi yang menjadi standar pelayaran modern.
Raksasa yang Terlalu Dini: Great Eastern
Karya pamungkasnya adalah “Great Eastern”, monster besi sepanjang 692 kaki yang lima kali lebih besar dari kapal mana pun saat itu. Brunel merancangnya untuk membawa 4.000 penumpang ke Australia tanpa perlu mengisi ulang bahan bakar.
Konstruksinya penuh drama, masalah keuangan, dan penundaan. Brunel, yang kesehatannya memburuk, meninggal hanya seminggu setelah pelayaran perdana yang diwarnai ledakan ruang mesin pada 1859.
Meskipun gagal secara komersial sebagai kapal penumpang, Great Eastern menemukan takdir lain. Kapal ini menjadi satu-satunya yang cukup besar untuk mengangkut 5.000 ton kabel telegraf. Pada 1866, kapal ini sukses menghubungkan Eropa dan Amerika dengan kabel bawah laut, membuka era komunikasi global instan—sebuah warisan yang bahkan tidak pernah Brunel bayangkan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















