BERLIN, POSNEWS.CO.ID – John Franklin (1786-1847) mungkin paling dikenal dunia karena cara ia menghilang. Namun, di tangan novelis Sten Nadolny, penjelajah Inggris ini berubah menjadi ikon tak terduga bagi gerakan “keterlambatan” (slowness).
Franklin bergabung dengan Angkatan Laut pada usia belia, 14 tahun. Ia bertempur di garis depan Copenhagen dan Trafalgar. Setelah perdamaian pecah, ia mengalihkan fokusnya ke teka-teki Jalur Barat Laut yang mistis. Jalur ini, jika ada, akan menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik di atas benua Amerika.
Ekspedisi pertamanya ke Arktik adalah perjalanan darat yang melelahkan dari Teluk Hudson. Antara 1819 dan 1822, Franklin dan timnya menempuh 5.550 mil dengan berjalan kaki. Mereka sukses memetakan ratusan mil garis pantai yang sebelumnya tidak dikenal.
Namun, takdir berkata lain pada ekspedisi terakhirnya. Pada Mei 1845, Franklin berangkat dengan dua kapal, Erebus dan Terror. Konvoi itu terlihat memasuki Lancaster Sound pada bulan Juli, lalu lenyap. Dunia tidak mendengar kabar mereka lagi selama 14 tahun.
Interpretasi Ulang Nadolny: Lambat sebagai Kekuatan
Dalam memoar pribadinya, Franklin tampil sebagai sosok militer yang kaku dan minim introspeksi. Kekosongan karakter ini justru menjadi kanvas sempurna bagi Sten Nadolny. Dalam novelnya, The Discovery of Slowness, Nadolny memberikan Franklin sifat yang tidak tercatat dalam sejarah resmi: kelambanan atau ketenangan ekstrem.
Novel ini menggambarkan Franklin kecil yang gagal bermain tangkap bola karena reaksinya terlalu lambat. Alih-alih mengikuti ritme teman-temannya yang cepat, Franklin justru mencari lingkungan yang cocok dengan “cacat”-nya itu. Ia menemukannya di Arktik.
“Es adalah penggerak yang lambat,” tulis narasi tersebut. Es menuntut kesabaran. Penjelajah yang sukses di lintang tinggi biasanya bukan orang yang tergesa-gesa. Mereka memiliki ketenangan diri yang luar biasa, kapasitas untuk menahan kebosanan, dan bakat untuk tholing—istilah Skotlandia untuk ketahanan menanggung penderitaan tanpa mengeluh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Filosofi “Tidak Membuang Waktu”
Dalam novel, kelambanan berpikir Franklin memaksanya menghafal “armada kata-kata” sebelum berbicara. Awalnya, rekan-rekannya di Angkatan Laut mengejek metodenya yang “berpikir dulu, bertindak kemudian”.
Namun, perlahan ia memenangkan rasa hormat mereka. Seorang letnan memujinya dengan kalimat paradoks: “Karena Franklin sangat lambat, dia tidak pernah membuang waktu.”
Resonansi di Dunia Modern
Sejak terbit di Jerman pada 1983, The Discovery of Slowness telah terjual lebih dari satu juta kopi. Buku ini menjadi fenomena budaya. Kelompok manajemen, gereja Protestan, hingga aktivis lingkungan mengadopsinya sebagai semacam “kitab suci” perlawanan.
Mereka melihat Franklin versi Nadolny sebagai antitesis budaya kecepatan pasca-modern. Kelompok ini menolak gagasan bahwa seseorang lebih baik hanya karena bisa melakukan sesuatu lebih cepat.
Dampaknya bahkan terlihat di jalanan Jerman. Pengendara bisa melihat tanda-tanda di pinggir Autobahn yang memproklamirkan “ketidak-tergesa-gesaan” (unhurriedness). Sebuah jurnal manajemen AS menyebut novel ini sebagai bacaan wajib bagi pemimpin yang peduli pada sistem berpikir.
Franklin mengajarkan kita aturan waktu yang sederhana namun mendalam: “Biasanya selalu ada tiga titik waktu: waktu yang tepat, waktu yang hilang, dan waktu yang prematur.” Terkadang, menjadi lambat adalah satu-satunya cara untuk sampai tepat waktu.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















