YERUSALEM, POSNEWS.CO.ID — Penasihat senior Gedung Putih sekaligus menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem pada Senin (10/11/2025).
Kunjungan ini berfokus pada implementasi rencana 20 poin AS untuk mengakhiri perang Gaza dan mendorong gencatan senjata ke tahap selanjutnya. Kushner tiba di Israel sehari sebelumnya, pada Minggu (9/11).
Membahas Fase Kedua: Gaza Tanpa Hamas
Juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian, mengonfirmasi pertemuan tersebut. Menurutnya, diskusi berfokus pada transisi dari fase pertama ke fase kedua dari rencana yang Trump umumkan pada September lalu.
“Mereka membahas tahap pertama, yang saat ini masih kami jalani untuk memulangkan sandera warga kami yang tersisa,” kata Bedrosian, Senin.
Lebih lanjut, ia mengatakan fokus utama pembicaraan adalah masa depan Gaza setelah Hamas.
“Diskusi juga mencakup masa depan tahap kedua dari rencana ini. Ini mencakup pelucutan senjata Hamas, demiliterisasi Gaza, dan memastikan Hamas tidak akan pernah lagi memiliki peran di masa depan Gaza,” jelasnya.
Selain itu, Bedrosian mengonfirmasi bahwa kedua pihak “berdiskusi tentang pasukan stabilisasi internasional” yang akan mengambil alih keamanan di wilayah tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gencatan Senjata Rapuh, 240 Tewas
Pertemuan ini menandai satu bulan sejak gencatan senjata resmi dimulai pada 10 Oktober. Namun, situasi di lapangan tetap tegang.
Israel menuduh Hamas telah melanggar ketentuan kesepakatan dan telah melancarkan serangan sporadis di Gaza sebagai respons.
Pada hari Senin, militer Israel (IDF) melaporkan sebuah insiden di Gaza selatan. IDF mengklaim pasukannya mengidentifikasi “dua teroris” yang melintasi garis terlarang dan mendekati pasukan. Militer Israel menyatakan pihaknya membunuh keduanya karena menganggap mereka sebagai ancaman langsung.
Di sisi lain, sebuah laporan media Palestina menyebutkan bahwa dua orang, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan bom Israel.
Pejabat kesehatan Gaza melaporkan kematian lebih dari 240 orang di wilayah tersebut sejak gencatan senjata yang rapuh itu dimulai sebulan lalu.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















