NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Pada awal abad ke-19, Pegunungan Allegheny menjadi tembok raksasa. Batas alam ini mengisolasi penduduk Amerika di pesisir. Wilayah “Barat Laut” (kini Illinois, Indiana, Michigan, Ohio) sebenarnya menyimpan kekayaan alam melimpah. Sayangnya, butuh waktu berminggu-minggu untuk mencapainya lewat jalanan lumpur yang menyiksa.
Di tengah keputusasaan logistik tersebut, muncullah sebuah ide gila. Negara Bagian New York memutuskan untuk membelah hutan belantara sejauh 363 mil (584 km).
Mereka berambisi membangun kanal air raksasa. Hebatnya, mereka hanya mengandalkan tenaga otot manusia dan kuda. Proyek ini mulai berjalan pada 1817 dan rampung pada 1825. Kini, dunia mengenalnya sebagai Kanal Erie, sebuah keajaiban teknik abad ke-19.
“Clinton’s Folly” yang Membungkam Kritik
Awalnya, banyak pihak mencemooh proyek ini. Mereka mengejeknya sebagai “Clinton’s Folly” atau Kegilaan Clinton. Ejekan ini merujuk pada Gubernur De Witt Clinton yang mempertaruhkan karier politiknya demi visi tersebut.
Bahkan, pemerintah federal menolak mengucurkan dana karena menilai proyek itu terlalu ambisius. Akan tetapi, New York tetap melangkah maju.
Pembangunan ini menerapkan sistem kunci air (lock system) yang canggih. Sistem ini berfungsi mengatasi perbedaan ketinggian tanah. Kunci air memiliki pintu air ganda dan katup di dasar. Mekanisme ini bertugas menaikkan atau menurunkan kapal. Inovasi teknik ini sungguh brilian pada zamannya.
Ledakan Ekonomi Instan
Dampak Kanal Erie terasa sangat dramatis dan instan. Biaya angkut barang anjlok drastis. Dulu, mengirim satu ton barang dari Buffalo ke New York lewat darat memakan biaya $100. Berkat kanal, biayanya terjun bebas menjadi hanya $10 per ton.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Volume perdagangan gandum meledak. Pada 1829, kanal mengangkut 3.640 gantang gandum. Hanya dalam delapan tahun, angka itu meroket menjadi satu juta gantang.
Lantas, pendapatan tol kanal berhasil menutup biaya konstruksi $7 juta hanya dalam sembilan tahun. Akibatnya, New York bertransformasi menjadi pelabuhan tersibuk di Amerika. Kota ini mengalahkan gabungan Boston, Baltimore, dan New Orleans. Seketika, kanal ini menobatkan New York sebagai ibu kota finansial dunia.
Membuka Gerbang Barat
Kanal Erie bukan sekadar jalur dagang. Ia berfungsi sebagai arteri kehidupan yang memicu migrasi besar-besaran ke Barat. Lebih dari 50.000 orang menggantungkan hidup mereka pada kanal ini.
Selanjutnya, kota-kota baru bermunculan di sepanjang rutenya. Hingga hari ini, hampir 80 persen penduduk upstate New York tinggal dalam radius 25 mil dari Kanal Erie.
Budaya baru pun lahir di atas air. Kapal penumpang dan packet boats berubah menjadi tempat hiburan, perjudian, dan pertukaran cerita. Kanal menjelma menjadi pusat sosial yang hidup.
Kini, Kanal Erie telah kembali ke masa kejayaannya dalam bentuk berbeda. Ia menjadi destinasi wisata sejarah yang penuh dengan perahu pesiar dan pesepeda. Kanal ini menjaga semangat masa lalu tetap hidup dan relevan di era modern.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















