Bagaimana Bentuk Sayap Bisa Menerbangkan Pesawat Raksasa?

Jumat, 26 Desember 2025 - 12:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi,

Ilustrasi,

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Saat kita melihat pesawat raksasa lepas landas, otak kita sering kali sulit mempercayainya. Bagaimana mungkin benda logam seberat ratusan ton bisa melayang di atas udara yang tak kasat mata?

Banyak orang menganggap udara itu “kosong”. Padahal, udara adalah zat yang terdiri dari gas-gas. Jika kita membayangkan pesawat membelah air, mungkin kita lebih mudah memahami konsep daya dorong ke atas atau gaya angkat (lift).

Kunci dari keajaiban ini terletak pada bentuk sayap yang disebut aerofoil. Intinya, cara bentuk lengkung aerofoil membelokkan aliran udara di sekitarnya adalah rahasia utama penerbangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Eksperimen Sendok dan Air Keran

Untuk memahaminya, kita bisa melakukan eksperimen sederhana di dapur. Nyalakan keran air dan ambil sebuah sendok.

Pertama, pegang pisau secara vertikal di bawah aliran air. Air akan mengalir lurus melewatinya. Namun, jika Anda memiringkan pisau sedikit, aliran air akan terbelah dan menjadi kacau (turbulen).

Baca Juga :  Mayat Pelajar di Muara Kaliadem Terkuak, Polisi Periksa 8 Saksi - Dalami Dugaan Tawuran

Kedua, coba pegang sisi cembung sendok di bawah aliran air. Sesuatu yang berbeda akan terjadi. Sendok membelokkan air, tetapi tidak memecah alirannya. Lengkungan sendok “memeluk” aliran air tersebut dengan mulus.

Inilah prinsip kerja aerofoil. Lengkungan sayap pesawat memastikan aliran udara di sekitarnya berbelok dengan mulus tanpa menjadi turbulen.

Sudut Serang Penentu Nasib

Lengkungan ini sangat krusial. Udara yang mengalir di atas dan di bawah sayap akan berbelok mengikuti bentuk aerofoil. Saat aliran udara berubah arah, ia menciptakan gaya dorong yang berlawanan.

Di bagian atas dan bawah sayap, udara dibelokkan sedemikian rupa sehingga mendorong sayap ke atas. Inilah yang menciptakan gaya angkat (lift).

Besarnya gaya angkat ini sangat bergantung pada “sudut serang” (angle of attack). Semakin curam sudut sayap menembus udara, semakin besar pula daya angkatnya. Namun, jika terlalu curam, aliran udara bisa pecah dan pesawat kehilangan daya angkat (stall).

Inspirasi dari Burung

Tentu saja, alam adalah guru pertama manusia. Burung telah menggunakan prinsip ini selama jutaan tahun. Sayap burung memiliki lengkungan tipis yang sempurna untuk terbang.

Baca Juga :  Perang Terbuka Gedung Putih vs The Fed: Trump Bidik Jerome

Sayangnya, manusia tidak bisa meniru persis bentuk sayap burung untuk pesawat besar. Sayap tipis tidak cukup kuat menopang mesin dan bahan bakar.

Oleh karena itu, insinyur merancang sayap pesawat dengan bentuk seperti tetesan air mata yang pipih. Bentuk ini memiliki ruang kosong di dalamnya untuk tangki bahan bakar. Lantas, pilot menggunakan sirip (flaps) di belakang sayap untuk mengubah lengkungan dan sudut serang saat lepas landas atau mendarat.

Perjuangan Panjang Penemu

Sejarah mencatat banyak pemikir yang terobsesi dengan penerbangan. Mulai dari filsuf Yunani Archytas hingga penemu Cordoba abad ke-9, Abbas Ibn-Firnas, yang nekat melompat dari tempat tinggi dengan sayap buatan.

Akan tetapi, orang pertama yang benar-benar meneliti bentuk sayap secara ilmiah adalah insinyur Inggris, Sir George Cayley (1773–1857). Dialah bapak penerbangan yang memperkenalkan konsep aerofoil melengkung.

Cayley mengidentifikasi empat gaya kunci: angkat (lift), hambat (drag), dorong (thrust), dan berat (weight). Akhirnya, setengah abad kemudian, Orville dan Wilbur Wright berhasil menyempurnakan teori ini dengan menambahkan mesin dan kendali, mencetak sejarah di Kitty Hawk pada 1903.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

PM Kanada Mark Carney menyebut perundingan dagang dengan AS semakin sengit usai Donald Trump mengancam kenaikan tarif 50 persen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agu 2026 - 09:01 WIB

Presiden Donald Trump menandatangani dua perintah eksekutif untuk membatasi hak kewarganegaraan berdasarkan tempat lahir usai Mahkamah Agung menolak kebijakan sebelumnya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru

Sabtu, 8 Agu 2026 - 07:00 WIB